Anam,
Terima kasih untuk koreksi anda.
Dua catatan pendek:
(1) Jika benar ru'yah dilakukan setiap awal bulan, dan
jika suatu saat terjadi kasus di mana awal bulan versi
ru'yah berbeda dengan versi kalender "resmi" yang
biasanya diterbitkan oleh sejumlah pesantren via
Menara Kudus, apakah warga NU mengubah kalender
mereka? Sebetulnya ini bukan isu penting, karena,
untungnya, kalender hijriyah tak dipakai sebagai
kalender resmi kenegaraan. Jika demikian keadaannya,
bisa repot, seba seluruh kantor pemerintah harus
mengubah kalender untuk bulan bersangkutan. Ini,
antara lain, segi kekurangpraktisan kalender solar
seperti kalender hijriyah.
(2) Yang mengusulkan Idul Fitri menjadi hari libur
nasional bukanlah saya, tetapi kelompok-kelompok Islam
di Amerika. Saya hanya menceritakan kendala yang
mereka hadapi.
Sejumlah "tidak benar" anda yang lain kurang relevan
buat saya.
Ulil
--- kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ada beberapa catatan untuk Kang Ulil:
> 1. Tidak benar bahwa NU (dalam hal ini lajnah
> falakiyah) hanya melakukan
> ruhkyat pada awal ramadlan dan syawal. Setiap
> tanggal 29 petang PP lajnah
> falakiyah di PBNU Lt IV menjadi pos pelaporan hasil
> rukyatul hilal yang
> diadakan di pos-pos rukyatul hilal lajnah falakiyah
> seluruh Indonesia, dan
> saya sering bertugas mengumumkannya di NU Online,
> kadang ikut bantu
> meng-email dan mem-fax ke cabang-cabang NU. Soal
> mengapa rukyatul hilal di
> luar dua bulan itu tidak begitu geger, saya yakin
> Kang Ulil tahu jawabannya,
> dan saya yakin Anda pun tidak begitu merasa perlu
> menyimaknya, hehe..karena
> tidak berkepentingan beli baju baru. Tahukah Anda
> pada saat dilakukan sidang
> itsbat di Depag menjelang ramadlan kemarin,
> sebenarnya kalender lajnah
> falakiyah masih menunjukkan tanggal 28 karena
> rukyatul hilal bulan sya'ban
> tidak berhasil alias istiqmal. Untung saja, waktu
> itu tidak terjadi
> perbedaan, karena pada malam 30 lajnah falakiyah
> telah berhasil merukyat
> hilal. Tahukah anda pada bulan Dzulhijjah kemarin,
> para ahli falakiyah NU
> bersuara keras kepada pemerintah saudi karena
> berdasarkan hisab dan rukyat
> lajnah falakiyah NU tidak terjadi Haji Akbar pada
> tahun kemaren. "Keputusan
> pemerintah saudi kemarin lebih kentas unsur
> ekonominya." Maka kalau perlu
> bacalah NU Online (rubrik berita dan Iptek), biar
> tidak terjadi salah faham.
>
> 2. Tidak benar bahwa warga nahdliyyin hanya
> menganggap penting bulan
> tertentu saja. Di pesantren ada dikenal puasa sunnah
> ayyamul bidl (hari
> putih) yakni tanggal 13, 14 dan 15 pada setiap bulan
> pada penanggalan
> hijriyah. Warga pesantren momen ini untuk mengadakan
> bahtsul masail. Jadi
> rukyatul hilal itu pasti dilakukan tiap bulan.
> Apalagi ada hari tasu'a
> asyura, idul azha, maulid nabi, isra' mi'raj, nisfu
> sya'ban, hampir setiap
> bulan ada momen ibadah penting bagi warga nahdliyyin
> sehingga rukyatul hilal
> menjadi keharusan.
>
> 3. Tidak benar bahwa NU itu aliran rukyat dan
> Muhammadiyah itu aliran hisab.
> Bahwa Muhammadiyah tidak menganggap penting rukyat
> itu iya, tapi NU memakai
> hisab dan rukyat itu sekaligus. Persoalannya, kalau
> dua-duanya memakai hisab
> kenapa bisa berbeda? (Soal perbedaan pemakaian ilmu
> hisab entah yang taqribi
> atau tahqiqi itu di NU dan di Muhammadiyah sama ada
> dan sering berseteru
> satu sama lain). Perbedaan yang terjadi di NU dan
> Muhammadiyah itu terjadi
> karena Muhammadiyah berdasar pada wujudul hilal
> (pokoknya bulan sudah
> selesai berevolusi atau sudah jadi bulan baru)
> sementara NU berdasar pada
> rukyatul hilal (hilal harus di lihat). Hilal atau
> bulan sabit atau dalam
> ilmu astronomi disebut crescent adalah bagian dari
> bulan yang menampakkan
> cahayanya sesaat setelah matahari terbenam pada hari
> terjadinya konjungsi
> atau ijtima'. Ketika hilal itu sudah dilihat maka
> berpuasalah, dan
> Al-Qur'an-Hadits-dan Fikih Imam Madzhab kan
> begitu-itu. (Anda salah besar
> dan sangat emosional ketika mengesankan bahwa yang
> berdasar pada fikih imam
> madzab itu lepas begitu saja dari Al-Qur'an-Hadits).
> Sewaktu kecil saya
> sempat salut dengan Muhammadiyah karena bisa
> menentukan awal bulan jauh-jauh
> haru sementara NU harus mentelengi bulan (rukyatul
> hilal) terlebih dahulu.
> Tapi ternyata persoalannya tidak sesederhana masa
> kecil itu. (Setelah gede
> dikit saya baru tahu bahwa semua ahli hisab di
> Indonesia, termasuk yang
> bikin kitab yang dipakai Muhammadiyah itu adalah
> orang NU). Selain itu aspek
> terpenting dalam rukyatul hilal adalah sebuah
> pengakuan bahwa ilmu manusia
> itu masih harus dicocokkan dengan ilmu Tuhan.
> Tahukan anda bahwa saat ini
> para ahli astronomi seluruh dunia sedang gelisah
> karena telah terjadi
> perubahan pola gerakan benda-benda langit,
> rumus-rumus astronomi akan
> dirombak lagi.
>
> 4.Soal beda lebaran itu anda katakan perpecahan,
> tapi menurut saya itu biasa
> saja. Kita saling menghormati. Solusinya memang para
> pakar astronomi dan
> falakiyah di dunia ini harus bertemu dan berdebat
> secara fair, pena'e
> kepiye.
>
> 5. Kalau anda mengusulkan idul fitri di Amerika jadi
> hari libur nasional itu
> luar buasa (meskipun saya kurang begitu percaya anda
> se-Islam itu), tapi ya
> selamat berjuang. Dan sebaiknya liburnya minimal dua
> hari, untuk
> mengantisipasi perbedaan. Bilang saja sama pak Bush
> kalau hari raya idul
> fithri itu dua hari lamanya, paling juga dia
> dibohongin begitu ndak tahu,
> hehe...
>
> Jadi begitu,
>
>
> On 10/1/07, Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> > Salam,
> > Hingga saat ini, masalah penentuan awal dan akhir
> > bulan Ramadan selalu menjadi "kisruh" di dalam
> tubuh
> > umat Islam di Indonesia. Atau tepatnya, di banyak
> > belahan negeri Islam di dunia ini, bahkan termasuk
> di
> > Amerika Serikat sendiri.
> >
> > NU selama ini dikenal sebagai ormas Islam yang
> > berpegang pada metode "ru'yah" dalam penentuan
> awal
> > dan akhir bulan Ramadan. Sementara Muhammadiyah
> > dikenal mengikuti metode hisab. Fenomena ini agak
> > janggal, sebab, secara logis, mestinya
> Muhammadiyah
> > mengikuti metode ru'yah, sebab itulah yang
> jelas-jelas
> > sesuai dengan makna literal sebuah hadis yang
> > terkenal, "shuumuu li ru'yatihi, wa afthiruu li
> > ru'yatihi, fi ghumma 'alaikum fa-akmilu 'l-'iddata
> > tsalaatsiina". Bukankah selama ini Muhammadiyah
> > dikenal sebagai ormas yang mengumandangkan ide
> kembali
> > kepada Qur'an dan Sunnah? Metode ru'yah,
> sebaliknya,
> > justru diikuti oleh NU yang selama ini lebih
> dikenal
> > mengikuti fikih mazhab, ketimbang kembali langsung
> > kepada sunnah.
> >
> > Tetapi, sikap NU dalam mengikuti ru'yah ini juga
> tak
> > lepas dari semacam "kontradiksi", atau tepatnya
> > inkonsistensi. Penentuan awal bulan dengan ru'yah
> > hanya diikuti oleh NU dalam kasus awal dan akhir
> > Ramadan, tetapi tidak dalam bulan-bulan lain
> sepanjang
> > tahun. Di PBNU sendiri ada lajnah falakiyyah yang
> > salah satu tugasnya adalah membuat penanggalan
> atau
> > kalender seluruh bulan dalam setahun, tentu dengan
> > metode hisab. Dengan kata lain, dalam kasus bulan
> > Ramadan, NU memakai metode ru'yah, sementara untuk
> > bulan-bulan yang lain, memakai metode hisab. Ini
> yang
> > saya sebut sebagai sikap yang inkonsisten.
> >
> > Selain berpatokan pada fikih mazhab, argumen NU
> untuk
> > memakai metode ru'yah jelas adalah berpegangan
> pada
> > hadis terkenal di atas. Secara harafiah, hadis di
> atas
> > memang hanya berbicara tentang bulan Ramadan.
> Tetapi
> > apakah ru'yah atau melihat bulan hanya dipakai
> oleh
> > Nabi dalam kasus awal Ramadan saja? Jelas
> jawabannya
> > tidak. Pada masa Nabi belum ada ilmu falak untuk
> > menentukan penaggalan dengan hisab. Dengan kata
> lain,
> > metode penangalan dalam masa Nabi adalah ru'yah
> dan
> > ini berlaku sepanjang tahun. Setiap menjelang
> akhir
> > bulan, para sahabat selalu "mengintip" bulan di
> > cakrawala. Jika mereka melihat bulan, maka tahulah
> > mereka bahwa bulan baru telah tiba. Jika tidak,
> mereka
>
=== message truncated ===
Ulil Abshar-Abdalla
Department of
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/