Sepertinya ~renungan~


Keponakan saya itu baru berumur 5 tahun, masih kecil dan masih terlalu kecil
untuk membikin konsep dan mendisain rencana. Keponakan saya itu bernama
Subroto, dan saya biasanya memanggil namanya dengan sedikit nada
mengoda dengan menjulukinya " brot" yang saya karang-karang sendiri dari
kesingkatan nama belakangnya yang Subroto itu :)

Ponakan saya ini mempunyai cara sendiri untuk menjalani hidupnya, baginya semua
hal itu adalah BAGAIMANA CARA MENGERJAKAN bukan bagaimana CARA
MEMBAYANGKANnya.

Misalnya ketika saya beritahu bahwa kalau mau makan atau minum yang disebut
santun itu adalah HARUS DUDUK , maka ponakan saya itu cuma sekali saja
mempersoalkan pemberitahuan saya itu dengan bertanya, "bagaimana kalau tidak
duduk om?"

Ketika saya jelaskan " Kalo berdiri atau berjalan-jalan, itu tidak baik untuk
ini dan itu....... " maka bagi Brot itu sudah dianggap jelas apa yang baik dan
apa yang tidak.

Maka ketika saya ajak dia kemana saja, ketika mau minum dia akan selalu mencari
kursi untuk duduk!
Kalo tidak ada kursi maka dia akan cari tempat duduk yang lain..
Kalo tidak ada tempat duduk yang lain, maka dia akan cari alas yang bisa untuk
dia duduki
kalo tidak ada alas untuk diduduki.....maka dia akan deplok/ duduk aja dimana
dia bisa duduk...baru dia akan minum..
Begitu mudah baginya untuk menterjemahkan ajaran itu kedalam praktek!

Baginya duduk sebelum minum, ya duduk,ya dipraktekkan, bukan dibayangkan dan
dipikirkan...

Keponakan saya ini, dia tidak seperti teman saya yang ketika diberi tahu bahwa
kalo mau minum harus duduk maka duduk, tapi malah mulai memikirkan kalau-kalau 
yang terlalu panjang dan terkadang tidak ada hubungannya dengan yang dia 
bayangkan....temen saya itu sering memikirkan Misalnya :

Misalnya, Bagaimana kalo tidak ada kursi?
Misalnya, Bagaimana kalo tidak ada yang bisa diduduki?
Misalnya, Bagaimana kalo semua temen2 pada berdiri? dan bagaimana, bagaimana 
dan seterusnya.......

yang mana akhirnya teman saya itu sering tidak jadi minum dan tidak jadi juga
duduk karena sudah terperangkap kepada bayangan ini dan itu yang semuanya hanya 
berupa disain dan bayangan....

Bayangan teman saya itu TIDAK BISA mempermudahnya untuk memperaktekkan minum....
Dan keponakan saya itu....begitu gamblang memperaktekkan nya........

Teman saya yang lain, wak abdul majid yang dosen ekonomi itu......pandai sekali 
dia
menguraikan tentang prekonomian dan membayangkan masa depan ekonomi negeri ini, 
namun sudah 2 bulan ini dia masih nunggak biaya listrik karena blm mampu bayar 
ke PLN

Kawan saya yang lain, Ko Ahong - tidak bisa mengerti sama sekali tentang istilah
teknis ekomoni yang dijabarkan wak abdul majid itu,tentang trend ini dan itu,
tapi bisnis grosir sembako nya disetiap cabang di urus oleh karyawannya yang 
rata-rata lulusan sarjana ekonomi..

Bagi ko ahong, mencari laba, beli 1000 ya jual harus diatas seribu, sederhana
sekali.

Dimanakah kita?
DiTukang ngebayang-KAH?
atau dipraktek KAH?

Salam,


Alexander Soebroto
www.parapemikir.com





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke