Ilmu tanpa Amal adalah ....... Amal tanpa Ilmu adaalah ....... Amal dan Ilmu terbangun dari huruf yang sama
Alif Lam Mim Allah Akbar Salam --- In [email protected], "Alexander Soebroto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sepertinya ~renungan~ > > > > Keponakan saya itu baru berumur 5 tahun, masih kecil dan masih terlalu kecil > untuk membikin konsep dan mendisain rencana. Keponakan saya itu bernama > Subroto, dan saya biasanya memanggil namanya dengan sedikit nada > mengoda dengan menjulukinya " brot" yang saya karang-karang sendiri dari > kesingkatan nama belakangnya yang Subroto itu :) > > Ponakan saya ini mempunyai cara sendiri untuk menjalani hidupnya, baginya semua > hal itu adalah BAGAIMANA CARA MENGERJAKAN bukan bagaimana CARA > MEMBAYANGKANnya. > > Misalnya ketika saya beritahu bahwa kalau mau makan atau minum yang disebut > santun itu adalah HARUS DUDUK , maka ponakan saya itu cuma sekali saja > mempersoalkan pemberitahuan saya itu dengan bertanya, "bagaimana kalau tidak > duduk om?" > > Ketika saya jelaskan " Kalo berdiri atau berjalan-jalan, itu tidak baik untuk > ini dan itu....... " maka bagi Brot itu sudah dianggap jelas apa yang baik dan > apa yang tidak. > > Maka ketika saya ajak dia kemana saja, ketika mau minum dia akan selalu mencari > kursi untuk duduk! > Kalo tidak ada kursi maka dia akan cari tempat duduk yang lain.. > Kalo tidak ada tempat duduk yang lain, maka dia akan cari alas yang bisa untuk > dia duduki > kalo tidak ada alas untuk diduduki.....maka dia akan deplok/ duduk aja dimana > dia bisa duduk...baru dia akan minum.. > Begitu mudah baginya untuk menterjemahkan ajaran itu kedalam praktek! > > Baginya duduk sebelum minum, ya duduk,ya dipraktekkan, bukan dibayangkan dan > dipikirkan... > > Keponakan saya ini, dia tidak seperti teman saya yang ketika diberi tahu bahwa > kalo mau minum harus duduk maka duduk, tapi malah mulai memikirkan kalau-kalau yang terlalu panjang dan terkadang tidak ada hubungannya dengan yang dia bayangkan....temen saya itu sering memikirkan Misalnya : > > Misalnya, Bagaimana kalo tidak ada kursi? > Misalnya, Bagaimana kalo tidak ada yang bisa diduduki? > Misalnya, Bagaimana kalo semua temen2 pada berdiri? dan bagaimana, bagaimana dan seterusnya....... > > yang mana akhirnya teman saya itu sering tidak jadi minum dan tidak jadi juga > duduk karena sudah terperangkap kepada bayangan ini dan itu yang semuanya hanya berupa disain dan bayangan.... > > Bayangan teman saya itu TIDAK BISA mempermudahnya untuk memperaktekkan minum.... > Dan keponakan saya itu....begitu gamblang memperaktekkan nya........ > > Teman saya yang lain, wak abdul majid yang dosen ekonomi itu......pandai sekali dia > menguraikan tentang prekonomian dan membayangkan masa depan ekonomi negeri ini, namun sudah 2 bulan ini dia masih nunggak biaya listrik karena blm mampu bayar ke PLN > > Kawan saya yang lain, Ko Ahong - tidak bisa mengerti sama sekali tentang istilah > teknis ekomoni yang dijabarkan wak abdul majid itu,tentang trend ini dan itu, > tapi bisnis grosir sembako nya disetiap cabang di urus oleh karyawannya yang rata-rata lulusan sarjana ekonomi.. > > Bagi ko ahong, mencari laba, beli 1000 ya jual harus diatas seribu, sederhana > sekali. > > Dimanakah kita? > DiTukang ngebayang-KAH? > atau dipraktek KAH? > > Salam, > > > Alexander Soebroto > www.parapemikir.com > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
