Menurut saya, "Setiap Orang Pasti Liberal". Selagi otak masih bisa berpikir (ma
daama aqluhu tsabitan), ia disebut "liberal". Kecuali orang gila, orang yang
sedang tidur, mabuk, epilepsi (mughma alaih), dll.
Hatim Gazali <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Muslim Sejati Pasti Liberal
Baca: http://gazali.wordpress.com/2007/12/28/muslim-sejati-pasti-liberal/
Kalimat yang tertera dalam judul itu saya dapatkan dari salah seorang dosen UIN
Malang, bpk. Sakban Rosyidi, setelah lebaran Idul Adha 1428 H. Setelah
menyembelih 2 ekor kambing di rumahnya, bersama dengan teman-teman menyempatkan
ngobrol tanpa arah. Mulai dari persoalan politik kampus, tentang situasi
politik kota Malang sampai pada diskusi filsafat islam.
Akan tetapi, pernyataan dari dosen yang di singkirkan dari STIBA karena
aksi-aksinya itu cukup menghentakkan saya. Betapa tidak, liberalisme telah
dipandang negative oleh masyarakat Indonesia. Adakah kaitannya islam dengan
liberalisme? Bukankah liberalisme selalu diidentikkan dengan hal-hal negative
sampai akhirnya MUI menganggapnya sebagai kesesatan. Aku ingin berdiskusi lebih
jauh tentang hal ini bersamanya (semoga ada waktu plus kambing lagi)
Melalui pertanyaan itulah, pikiranku merestart segala ingatanku tentang islam
dan liberalisme. Saya kemudian berpikir bahwa terminologi liberal tidaklah
tunggal. Ada banyak definisi tentang kata itu, yang tidak bisa aku ingat satu
persatu. Jika saja liberal dimaksudkan sebagai bentuk pembebasan dari segala
ketertindasan, maka seketika itu pula aku bersetuju dengan pernyataannya. Akan
tetapi, jika ternyata makna liberal lebih dengan dengan ideology
neo-liberalismesebagai kelanjutan dari kapitalismesayapun harus berpikir
ulang tentang itu.
Benar memang, bahwa semakin orang berislam dan beriman maka ia akan semakin
liberal. Makna liberal disini kurang lebih saya maknai ke dalam beberapa
kategori; [1] pembebasan dan pembelaan terhadap kaum mustadhafiyn. Siapapun
orang, apapun agama dan keyakinanya, darimanapun asalnya, selalu mendapat porsi
yang adil dalam batang tubuh islam. Bahwa penindasan, ketidakadilan tidak
pernah mendapat justivikasi. Sebaliknya, keadilan dan kemaslahatan selalu
menjadi spirit perjuangannya. Inilah yang senantiasa yang diperjuangkan oleh
sejumlah tokoh muslim seperti Mohammad Imarah, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu
Zayd dan lain sebagainya.
[2] lepas dari literalisme. Ketaqwaan dan keislaman seseorang senantiasa akan
membawa kepada hal-hal yang subtansial dan universal. Ini bukan dalam arti
memerkosa teks. Akan tetapi, mendalami makna dan maksud sebuah teks. Melalui
kedalaman makna dari sebuah teks itulah akan ditemukan sebuah spirit dari
islam. Disinilah akan ditemukan sebuah teks yang senantiasa melintasi ruang dan
waktu.
Melalui dua kategori itulah, saya bersepakat dengan pak Sakban. Akan tetapi,
pernyataan ini akan segera mendapat respon terbalik dari kelompok-kelompok yang
mendahulukan makna literal sebuah teks, kelompok-kelompok konservatif dan
fundamentalis. Disinilah, tantangan sebuah gagasan; sejauhmana kita mampu
mendaratkan sebuah gagasan dalam fakta emperik. Karena tak selamanya kebenaran
teoritis bisa dijustivikasi oleh masyarakat. Terkadang, secara teoritis begitu
OKmeminjam lagunya T2 (Tika dan Tiwi)tetapi tidak secara sosiologis.
Disinilah, kelompok-kelompok liberal yang progresif itu mengalami kendala dan
hambatan; antara memperjuangkan kebenaran teoritis dan kebenaran sosiologis.
[Hatim Gazali]
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]