punten ikut berwacana sedikit, saya kira wacana kudeta NU ini memang satu sisi 
sangat bermanfaat sekali di dalam mengukur keberhasilan nu dalam memperjuangkan 
hak-hak warga nahdliyyin hususnya dan masyarakat dunia pada umumnya namun perlu 
kita ingat juga ketika kita menggelindingkan sebuah harapan seyogyanya mampu 
menwarkan konsep yang jelas dan aflikatif sehingga setelah harapan tadi gol 
kita tidak kelabakan mencari format, sebagaimana rekaman sejarah kita mencatat 
ketika orba kita lengserkan dengan penuh suka cita apa yang terjadi model 
pemerintahan kita tidak punya bentuk yang jelas berbeda dengan jaman orla 
(dengan demokrasi terpimpin) dan orba (dengan demokrasi pancasila ala 
soeharto). sementara setelah itu ndak jelas malah saat ini kita menjadi budak 
IMF dan BANG DUNIA.terima kasih

Kh Anam wrote: 
>             Ben Ketang, 
> dari Israel langsung bikin masalah, mudah-mudahan tidak memerankan semacam 
> "managemen konflik". Usulan ada team executive di PBNU itu bagaimana 
> sabab-musababnya? Silakan dijelaskan, hubungannya dengan Ulil dan Mas 
> Fajrul, dan pergulatan anda dengan orang-orang Israil itu? 
> Menurut saya, kepemimpinan di NU itu tidak tergantung tua atau muda. NU 
> adalah pesantren. Kiainya bisa tua dan bisa muda. Mungkin maksud anda adalah 
> menggantikan kepemimpinan ala "kiai" dengan kepemimpinan "orang sekolahan"? 
> Saya kira itu tidak mungkin, secara legal formal mungkin bisa, tapi secara 
> kultural model kepemimpinan harus disesuaikan dengan selera masyarakat 
> pendukungnya. Mas Fajrul Falakh yang anda usulkan itu sudah menjabat salah 
> satu ketua PBNU selama dua periode ini, tapi ternyata secara kultural atau 
> secara tradisional Mas Fajrul tidak melekat di hati sebagai pemimpin NU. 
> Ada teori klasik dari filosof/sosiolog/ antropolog Max Weber (orang Yahudi 
> juga) bahwa kepemimpinan tradisional yang didasarkan atas kharisma keagamaan 
> atau keturunan akan "bergeser kepada" atau digantikan kepemimpinan rasional 
> yang diwakili intelektual sekolahan. Ini mungkin saja terjadi di NU karena 
> 1)kepemimpinan di NU sudah bergeser ke tanfidziyah bukan kiai syuriyah, 
> berbeda dengan pada awal mula berdirinya, juga 2)hampir semua anak "kiai 
> besar" berpendidikan formal tinggi. Para kiai diam-diam takut anaknya kelak 
> tidak dapat eksis kalau tidak punya ijazah formal, apalagi tidak pernah 
> belajar ke luar negeri. 
> Namun lagi-lagi itu hanya mungkin terjadi hanya sebatas dalam kepemimpinan 
> formal, bukan kepemimpinan kultural yang bisa mengena hati masyarakat. Saya 
> melihat teori dari Weber itu bukan sebuah praduga ilmiah semata, tapi sebuah 
> cita-cita ideal atau ideal tipe yang dia unggulkan, yang juga (sadar atau 
> tidak) mewakili kepentingan orang luar untuk masuk ke dalam pola 
> kepemimpinan masyarakat tertentu, dalam hal ini NU. Karena dalam tipe 
> kepemimpinan tradisonal memang orang/pemikiran asing sulit untuk masuk. 
> Jadi begitu 
> Salam, 
> Anam 
> 2008/1/6 Abdul Rasyad Ketang < hamidketang@ yahoo.com >: 
>> 
>> Selamat Datang Sahabat, 
>> 
>> Mohon kalau baru nongol, saya baru pulang dari Hertzliya Israel, ambil 
>> SA, jurusan Business international. Oh ya, dari pertemuan Islam Nasional 
>> di Taman Jin beberapa anak Muda NU untuk meminta PBNU, sudah terlalu 
>> lama harus menempati PBNU selama periode Gus Dur. Apakah tidak ada 
>> Kader Lain untuk menahkodai PBNU, kok itu itu saja 
>> 
>> Salah satu ketua Ansor, meminta Ulil dan Fajrul falakh untuk jadi team 
>> executive di PBNU. menurut teman teman bagaimana? 
>> 
>> Oh ya, kalau mau belajar bahasa Israel atau Hebrew bisa ngubungi saya 
>> ya? 
>> 
>> Merdeka!!!!! 
>> 
>>  
>> 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
>      



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke