Kebetulan baru saja dengan segala keterbatasan pengetahuan saya menuliskan
jeritan hati saya selaku warga (pasif)NU di blog keluarga.

Suara hati selaku warga(pasif) NU

Sebagai warga NU, paling ndak keturunane wong NU, belakangan ini saya sangat
gerah melihat tingkah laku para pengurus NU dan banomnya dalam berpolitik
praktis. Banyak diantara mereka yang menjadi calon wakil bupati/gubernur
tetapi hanya berstatus non-aktif dari jabatannya di NU atau banom NU.
Menurut saya ini merupakan perilaku politik yang sangat tidak jantan alias
(maaf)banci.

Ndak usahlah pake beralasan AD/ART hanya mensyaratkan non-aktif. Lha mbok
sebagai pemimpin kasih teladan yang baik dengan bersikap jantan dalan
berperilaku. Kalau status cuma non-aktif, kok enak? kalau kepilih jadi
pejabat NU ditinggalin, kalau ndak kepilih balik kucing dapet jabatan lagi.
Kemaruk? Serakah? Bukan saya yang menentukan tetapi masyarakat. Terus kalau
ada yang bilang NU itu besar, kalau non-aktif masih banyak pengurus yang
lain yang bisa mengambil alih. Lha kalau non-aktif, penggantinya kan berarti
sementara, mana bisa mengambil keputusan atau membuat perencanaan jangka
panjang buat organisasi? Paling banter melanjutkan kebijakan sebelumnya
sampai semuanya jelas. Trus seperti kasus pilkada kabupaten Nganjuk th.2008
ini, ketua dan rois suriah PCNU menjadi calon wakil bupati dari dua partai
yang berbeda. Akibatnya? Silakan disimpulkan sendiri.

Jadi inget selagi pilgub DKI beberapa waktu yang lalu, saya sangat salut
dengan keputusan pak Adang yang mengundurkan diri secara penuh dari
jabatannya di Polri sebelum maju dalam pilgub. Bagi saya ini merupakan
teladan sekaligus juga kampanye, karena saya yakin banyak pemilih yang salut
dengan tindakan beliau dan akhirnya justru bersimpati dan percaya.

Lebih sedihnya lagi, mereka-mereka yang maju dalan pilkada itu adalah para
pimpinan NU/banom NU. Yang saya takutkan perilaku politik yang tidak jantan
itu dipersepsikan oleh orang luar sebagai cerminan sikap berpolitik warga NU
secara keseluruhan, padahal tidak. Singkatnya, ulah segelintir orang membawa
akibat ke jamaah NU secara keseluruhan. Lebih sedih lagi, kebanyakan dari
yang maju itu hanya sebagai wakil. Saya ndak tau mereka sebenarnya ngerti
apa ndak, apa mungkin ndak mau ngerti karena sudah silau melihat jabatan
yang mau dikejar, jabatan wakil, mau itu wakil bupati/walikota, wakil
gubernur, itu kan ban serep. Wakil itu ndak punya wewenang sama sekali, ndak
bisa menentukan kebijakan pemerintahan, sama sekali tidak. Paling banter
kasih masukan sama yang diwakilinya...

Kalau saja ada pengurus NU dan banomnya yang dengan lantang mengusulkan
perubahan AD/ART yang mensyaratkan pengunduran diri secara penuh bagi
pengurusnya yang berpolitik praktis...semoga... 
 
Wassalam,
Noka Fahimi
http://fahimi.org

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Mukhlisin
Sent: 27 Februari 2008 9:03
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [kmnu2000] Pilkada Cerai-beraikan Warga Nahdlatul Ulama

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.03401436&chan
nel=2&mn=159&idx=159
Ormas Islam
Pilkada Cerai-beraikan Warga Nahdlatul Ulama Rabu, 27 Februari 2008 | 03:40
WIB

Deleted.............

Kirim email ke