Al-Qur`an merupakan miracle (mu’jizat) yang telah
menarik perhatian umat manusia di muka bumi. Tidak
hanya dunia Timur yang menjadikannya sebagai objek
studi, universitas-universitas Barat pun menyadari
urgensi pengembangan kajian keislaman dalam bidang
Qur`anic Studies. Sebagai verbum dei (kalâm Allâh),
al-Qur`an tidak hanya dipelajari oleh al-Thabari,
al-Qurthubi dan al-Zamakhsyari, tetapi juga telah
menjadi concern pakar-pakar Islamologi.

Qur`anic Studies telah melewati bentangan sejarah
cukup panjang. Dalam babakan-babakan sejarah itu,
Qur`anic Studies dalam frame orientalisme tak
terelakkan terperangkap dalam zona akademis yang
kompleks. Dikatakan kompleks, sebab ia lekat dengan
motif-motif yang amat variatif. Pada periode tertentu,
Qur`anic Studies muncul sebagai proyek apologis
missionaris yang bertujuan untuk melakukan konversi
(evangelism). Namun ia acap muncul sebagai proyek
material kolonialisme yang menggelikan, atau tak
jarang semata-mata didorong sekadar memenuhi rasa
ingin tahu (intellectual curiosity). Kompleksitas
tertentu juga dapat ditemui dalam diskontinuitas
Qur`anic Studies, di mana secara evolutif ia mengalami
transformasi-transformasi internal akibat varian
perangkat metodologis yang digunakan.

Nampak aksiomatis bahwa sejatinya ada perbedaan
mendasar antara kajian al-Qur`an di Barat dengan di
Timur. Determinan bagi perbedaan tersebut terkait
dengan pendekatan yang digunakan oleh masing-masing
pihak. Senapas dengan iklim rasionalitas yang
digandrunginya, pihak Barat (orientalis) mendekati
al-Qur`an dengan melakukan upaya sofistifikasi.
Sedangkan kalangan akademisi Timur, kerap memaksakan
beberapa “simplifikasi” dalam kajian al-Qur`an sebagai
keniscayaan dari keimanan paripurna dan absolut atas
al-Qur`an.

Sebagian pihak menambahkan bahwa perbedaan asasi di
antara keduanya justru berada dalam ranah ideologi.
Timur menganggap, diskursus kritis atas al-Qur`an yang
dikembangkan oleh kalangan Barat, tak lain merupakan
manifestasi pandangan minor Barat terhadap Timur.
Sementara Barat meyakini, kesetengah-hatian para
sarjana Timur dalam mengkaji al-Qur`an lebih
dikarenakan adanya ketakutan terkuaknya carut-marut
yang melingkupi diskursus-diskursus terkait al-Qur`an.

Dalam konteks kekinian, mengkaji rupa-rupa diskursus
al-Qur`an yang dilakukan sarjana Barat terasa perlu
dan bahkan menjadi wajib. Selain bermaksud memperoleh
pemahaman yang terang benderang seputar al-Qur`an
dalam perspektif sarjana Barat, pembacaan tersebut
diharapkan mampu menjadi modal awal dalam melakukan
komparasi kajian al-Qur`an antara sarjana Barat dengan
para intelektual Timur. Pun mampu mengurangi
ketegangan-ketegangan yang menimpa keduanya.

Dus, untuk memperoleh wawasan "empuk" seputar
komparasi pembacaan kesarjanaan Islam dan Barat
terhadap al-Qur`an, maka hadirilah Simposium LAKPESDAM
& Launching Jurnal NUANSA Edisi XVI (QUR`ANIC STUDIES;
Dialog Sarjana Islam dan Barat) dengan tema "QUR`ANIC
STUDIES; Perspektif Kesarjanaan Islam dan Barat".

Acara ini diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Rabu, 5 Maret 2008
Waktu: 14-00 WK.-selesai
Tempat: Griya Jawa Tengah

Narasumber:
1. Muhammad Mawhiburrahman (Koordinator LAKPESDAM)
2. Irwan Masduqi (Pinum jurnal NUANSA & Aktivis senior
LAKPESDAM)
3. Muzammil Imran, S.Ag. (Peneliti senior FORDIAN)
4. Afra Abidah Ismail, MA. (Tokoh senior WIHDAH)

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama LAKPESDAM
(Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia)
PCINU Mesir, Jurnal NUANSA PCINU Mesir & KSW (Kelompok
Studi Wali Songo)

Disponsori oleh:
1.      Zahra Restaurant
2.      Basmallah Restaurant I & II
3.      Pasifik Restaurant
4.      Oriental Restaurant
5.      La Tansa Restaurant
6.      Singgalang Restaurant
7.      Anami Travel
8.      Speed Transfer
9.      Agla Family Express





      ___________________________________________________________ 
Rise to the challenge for Sport Relief with Yahoo! For Good  

http://uk.promotions.yahoo.com/forgood/

Kirim email ke