sdr Baso, membaca jawaban anda yang nampak tergesa-gesa atas tulisan anis itu, 
sepertinya anda sedang memasuki sebuah kubangan olok-olok yang sebenarnya anda 
peruntukkan untuk sdr Anis--atau mungkin lebih tepatnya "gus" anis. sebuah hal 
yang janggal memang--tapi apa boleh buat.

coba anda baca kembali, kata-kata anda: apakah itu latas anda hanya menganggap 
jabiri sebagai man of ideas, sehingga membacanya mirip orang yang memungut satu 
ide ke ide lainnya, setelah itu masuk ke dalam satu keranjang dengan rupa-rupa 
isi di dalamnya

bagi saya, begitulah memang orang membaca sebuah pemikiran; begitulah pada 
akhirnya konstruksi sebuah pemikiran terbentuk. meminjam kata-kata edward said, 
dalam bagian akhir dari buku covering islamnya, pada akhirnya toh tak ada 
sebuah invensi pemikiran yang benar-benar orisinil, benar-benar tunggal--atau, 
dalam kata-kata anda dalam bentuk negatif: tak berupa-rupa. bukankah 
konsekwensi sebuah pembacaan pararel, pada akhirnya kita dihadapkan sebuah 
pasar raya persepsi yang harus kita terima sebagai yang sejajar tanpa sebuah 
sensitifitas gradasi yang timpang. dan saya mafhum bahwa durasi baca akan 
mempengaruhi durasi stigma dan aura sang tokoh; semakin sering kita membaca 
tokoh yang kita kagumi, akan semakin lupa kita untuk sadar bahwa ia juga 
mempunyai cacat epistemologis; semakin sering kita mengkhatamkan sebuah buku 
yang kita kukuhi, akan semakin lupa kita untuk mengambil jarak terhadap tokoh 
itu. hal ini bagi saya juga berlaku untuk sdr anis dan sdr
 baso. tapi mungkin lebih tepat untuk nama yang terakhir itu.

namun rupanya, mungkin anda kurang menyadari konsekwensi dari cara ini. karena 
anda terlihat begitu terpesona sama jabiri itu. sehingga gradasi teks dan 
pikiran jabiri begitu dominan dalam pensejajaran bacaan anda terhadap 
tokoh-tokoh yang bermacam-macam itu. saya membayangkan bahwa anda akan menolak 
kesimpulan ini. tapi seperti yang anda katakan, anda membutuhkan 4 tahun untuk 
membaca jabiri; sebuah kurun yang tak anda butuhkan untuk membaca homi babha 
ataupun spivak, atau yang lainnya, nampaknya. bisakah kualitas psikilogis dalam 
sebuah kurun waktu yang timpang ini bisa menghasilkan sebuah pararel yang 
memadai? saya ragu-ragu akan hal itu.

atau mungkin memang anda benar-benar tergesa-gesa dalam menjawab tulisan itu, 
sehingga anda kurang sadar akan konsekwensi yang muncul antara olok-olok  dan 
alternatif anda.

salam 
m. y. m. 


----- Original Message ----
From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 29, 2008 8:33:49 AM
Subject: Re: [kmnu2000] Re: TENTANG AL-JABIRI DAN HANAFI

sdr Anis masduki,
teis Salim barbari udah saya baca. saya dapatkan dari kawan Arif yang eprnah 
kuliah d Kairo dan memberikannya (jazahullahu khairan) sewatu saya ke sana. 
Salim tidka jauh beda dengan yang lainnya, cuma lebih sistematis, tapi sayang 
terlalu sederhana ttg Jabiri.
bacaan Anda ttg Hanafi ckup kuat, tinggal HAnafi itu banyak aspek yang 
digeluti, dari hermenutika, fenomologi, marxisme, oksidentalisme, dan kini 
kritik tardisi. aspek yang mana Anda suka baca, sehingga bisa anda katakana ia 
ebrkaraketr? kalau menyebutnya berkarketr, tinggal anda sendiri yang 
membuktikanya, apakah bacaan Anda ttg Hanafi yang katana anda man of methodes 
bisa mengantar Anda pada sebuah invensi kelimuan baru, petualangan baru, dan 
eksplorasi gagasan baru -- di luar dari yang dipikirkan oleh hanafi sendiri... 
itulah tantangannya ketika menyebut Hanafi sebagai man of methodes, yang 
memungkinkan anda produktif untuk berpikir, bukan konsumtif belaka yang ngutip 
sana kemari -- yang qila wa qala
saya gak tahu, sejauhamana bacaan Anda ttg Jabiri, sehingga menyebunya 
"pengagum muktazilah"? apakah itu latas anda hanya menganggap jabiri sebagai 
man of ideas, sehingga membacanya mirip orang yang memungut satu ide ke ide 
lainnya, setelah itu masuk ke dalam satu keranjang dengan rupa-rupa isi di 
dalamnya?
startegi saya membaca Jabiri, adalah membacanya secara paralel: membaca Jabiri 
membaca NU, membaca NU membaca Jabiri, membaca Jabiri membaca Indonesia, 
membaca Jabiri membaca Edward Said, membaca Said membaca Jabiri, membaca Jabiri 
membaca Homi bahbha, Spivak dst....
saya kira gitu
ab

----- Original Message ----
From: Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Thursday, February 28, 2008 1:55:52 PM
Subject: [kmnu2000] Re: TENTANG AL-JABIRI DAN HANAFI

Salam,

Mas Baso, Mas Guntur dan Irwan yang lagi patah hati juga Gus Robit
sang pecinta sejati...(ini siapanya Gus Hiddink??) dan kawan-kawan
semua...saya teringat bukunya Salim Barbari, yang tidak diterbitkan
dan sebetulnya adalah tesis MA-nya di Universitas Kairo. Buku yang
jarang dipunya dan mungkin sedikit dibaca. Dengan membaca buku ini
saya tidak bisa terburu-buru dan terlalu simplistis mereduksi Hassan
Hanafi sebagai hanya the man of ideas. Menurut saya, Jabiri dan Hanafi
sama-sama the man of methodes dan the man of ideas dalam satu waktu.
Dua-duanya menggunakan metode dan memproduksi gagasan yang sama-sama
khas dan berkarakter. Kadang keduanya bertemu dalam satu
metode/gagasan dan kadang pula harus mengatakan hum fi wadin wa nahnu
fi wadin akhar...hum rijal wa nahnu rihal...lakum dinumum waliya
din...dst.

Pertama-tama kita tidak bisa mereduksi bahwa Jabiri adalah seorang
strukturalis an sich. Meski interaksinya dengan perkembangan filsafat
Prancis menjadikannya lebih dekat daripada filsafat anglo-saxon.
Jabiri, yang saya tahu juga memanfaatkan analisa sejarah dan kritik
ideologis. Makanya Jabiri sering menolak tudingan beberapa kritikusnya
terhadap letak eror yang sering diakibatkan telaah strukturalis.
Karena dia merasa sudah mengombinasikan antara ketiganya. Barbari
sangsi bagaimana Jabiri bisa mengoperasionalkan dua metode
strukturalis dan historis yang amat susah disatukan dalam satu obyek
dan penggalan analisis itu.
Jadi, saya kira kritik jangan diarahkan hanya pada metode strukturalis
ini. 

Di sini kita menemukan Hassan Hanafi yang lebih menekankan metode
sejarah dan sangat kental kritik ideologisnya. Jabiri, saya kira tidak
sebegitu kuat dalam hal ini. Di tambah, Jabiri tidak memakai telaah
epistemologis dalam al aql al siyasi. Padahal bukankan epsitemologi
juga berperan dalam kajian nalar politik? Setelah berlembar-lembar ia
mengkaji metode apa yang relevan (qabilun li tatbiq) dalam hal ini, ia
akhirnya memakai political unconciousnessnya Dobray dan social
imagination dalam ilmu sosial modern. Ia kemudian mengatakan bahwa
epistemologi menciptakan nalar bahwa sadar pemikiran, sedangkan social
imagination menciptakan nalar bawah sadar politik. 

Karakter kritik yang lebih mengarah ke epistemologi dan arkeologi ilmu
pengetahuan (bunyah, takwin dan al aql al akhlaqi) menjadikannya
dangkal dalam melakukan telisik historis dan ideologis. Arkeologi
pengetahuan sendiri lebih dekat kepada antropologi daripada sejarah.
Meskipun Jabiri seringkali menyebut kata-kata "al tharh al
aidiulujiyya" yang dimaksudkan sebagai penelanjangan faktor ideologi
yang mempengaruhi terbentuknya epistemologi tapi telaah ideologinya
tetap kalah dengan ketajaman Hanafi. Bagi saya, telaah epistemologi
Jabiri dengan metode strukturalis mengalahkan telaah historis dan
kritik ideologis yang sangat penting dalam sejarah tradisi Islam.

Tanpa mengurangi keteguhan proyek besar Jabiri untuk mengusung
rasionalitas (takwin, bunyah, aql siyasi) dan etika (al aql al
akhlaqi), sesuatu yang saya pikir bertemu dengan Hanafi di lembah yang
sama karena kedua-duanya adalah pengagum muktazilah dan Ibn Rusyd, ada
hal-hal yang perlu diperhatikan supaya proyek itu bisa berjalan baik
khususnya dalam konteks indonesia. Yaitu kaitannya dengan epistemologi
Irfan. Harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa Jabiri tidak memukul
rata tasawwuf karena dia sendiri sangat sepakat dengan dimensi etika
dalam Islam. Dan gaya berpikir Hanafi terlepas dari kritiknya terhadap
tasawwuf hendak mentransformasikan tasawwuf lebih sosialis daripada
individualis. Makanya, meski Hanafi adalah orang Masyriq dia tetap tak
sepakat dengan Ibn Sina bahwa kedekatan manusia dengan Tuhan diukur
dari makamnya secara vertikal dan bukan horisontal, menyatu dengan
Tuhan bukan menyatu dengan penderitaan manusia. 

Sedang kritik Jabiri terhadap Ibn Sina dan Al Farabi adalah cenderung
memutlakkan mereka sebagai Isyraqi yang hermesian murni. Sedangkan
Hanafi mengamini hanya aspek-aspek tertentu saja dari Ibn Sina. Toh
Ibn Sina adalah penulis Qanun fi Al Tib. Nah, Jabiri melangkah
menyodorkan tesis Ibn Sina sebagai ta'sis al al burhan ala al irfan.
Bagi Jabiri, Timur adalah Irfani dan Barat adalah Burhani maka ada
keterputusan epistemologis (qathiah ma'rifiyyah) . Meski di Barat ada
Ibn Arabi, Ibn Masarah dan Ibn Madyan. Meski juga, Ibn Bajah
mensyarahi Al Farabi dan Ibn Tufail menysarahi Ibn Sina. Bagi Jabiri,
dengan metode Bachelard, yang terjadi adalah qathi'ah ma'rifiyyah,
sedangkan para kritikusnya termasuk Hanafi (dirasah falsafiyyah dan
pengantar buku Hisyam Ju'aid), realitasnya adalah wahdah al aql al
arabi, persis seperti judul buku Tharabisy itu.

Sampai di sini saya masih sangsi apakah yang terjadi adalah Jabiri
mengingkari fakta2 parsial itu atau dia menyadarinya, karena dia
sendiri menyebut Ibn Madzyan (Takwin). Dia menyadari tidak menyebut
Ibn Arabi, Ibn Masarrah sebagai sampel Maghrib karena sebuah tuntutan
metodologis dan bukan bagian dari kepentingannya untuk meneguhkan
rasionalitas yang sesungguhnya dibutuhkan umat Islam saat ini. Ketika
disodorkan lagi Ibn Khaldun yang mengikutkan aspek mistik di dalam
bukunya, dia berapologi bahwa Ibn Khaldun mempelajarinya bukan bagian
dari epistem dirinya tapi menyikapinya sebagai seorang yang rasional.

Sebagai seorang yang meminati Ushul Fiqh saya sendiri menemui apa yang
diungkapkan kritikus Jabiri itu. Dalam hal ini saya, untuk sementara,
lebih cocok dengan wahdah al aql fi ushul al Fiqh. Hasan Hanafi dengan
telaah fenomenologis (metode ini yang menjadikan Hanafi sangat
distingsif dengan Jabiri) paling jauh hanya mengatakan pembelokan
orientasi (al in'ithaf) dan saya pikir bukan pergeseran epistemologis
dalam bahasa Kuhn. Jadi apa yang dikatakan Robith bahwa Syatibi dan
Ibn Abdissalam melakukan pemutusan epistemologis itu terburu-buru
berlebihan. Judul buku Qawaidul Ahkam karya Ibn Abdissalam juga tidak
dimaksudkan sebagai Ushul Fiqh karena ia kaidah, bukan Ushul Al
Syairah (Syatibi), atau Ushul Al Fiqh (Al Syafi'i). Ia mirip dengan
karya qawaid fiqh pertama oleh Ibn Rajab yang Hanbali itu. Terbukti ia
punya karya Ushul Fiqh sendiri yang merupakan syarah Muntaha Al Sul wa
Al Amal karya Ibn Al Hajib yang Maliki.

Jadi, catatan untuk Gus Robit sodaranya Gus Hiddink, saya kira yang
terjadi adalah semacam pergeseran yang masih berada dalam framework
Ushul Fiqh konvensional ala Al Syafi'i. Karya-karya Abu Hasan Al
Basri, Ibn Hazm, Al Ghazali, Syatibi, Ibn Taymiyah, Thufi, Al
Syaukani, Qarafi, Thahtawi, Ibn Asyur, Abduh bekerja saling melengkapi
dan bukan keterputusan. Bukan seheboh Shift paradigm istilah Thomas
Kuhn atau epistemological break Bachelard. Al Syatibi masih memakai
Qiyas dan bahkan menilai ketidakpopuleran Ibn Hazm adalah karena dia
mengkritik sesuatu yang sudah menjadi kelaziman (qiyas). Dua tokoh
yang sama-sama digadang oleh Jabiri sebagai penyeru rasionalitas tapi
pada faktanya berbeda pendapat. Dalam masalah qatl al jama'ah bil
wahid juga Ibn Hazm tidak menyetujui fatwa Umar ini. Sedangkan Ibn
Ruysd justru memperkuat Umar dalam masalah ini. Ibn Hazm dan Ibn Rusyd
berbeda. Sekali lagi, pengembangan Al Syatibi, bagi saya, masih berada
dalam framework Ushul Fiqh konvensional. Itu kesimpulan sementara saya. 

Kesimpulan ini ketika saya mendapat 'ilham' setelah membaca Min Al
Nash Ila Al Waqi yang dua jilid karya Hanafi. Dalam buku itu, Hassan
Hanafi mendiskripsikan secara runut karya-karya Ushul Fiqh semenjak Ar
Risalah (204 H) sampai Irsyad Al Fukhul (1255 H). Memahami adanya fase
kreatifitas orisinil, semi-orisinil dan membaca adanya dua fase
pergeseran dalam narasi kreatifitas setelah Al Risalah, yaitu fase Al
Mustashfa (505 H) dan Al Muwafaqat (790 H). Dengan pelan dan sabar, ia
mendiskripsikan struktur dalam Ushul Fiqh dan materi-materi yang
dinamis. Itu semua terbaca di dalam Ushul Fiqh dengan
mengoperasionalisas ikan metode analisa teks (tahlil al nash). Dengan
fenomenologi, Hanafi mengajak kita untuk mentransformasikan
kreasi-kreasi itu sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan kita. Ini
tidak hanya dalam ranah Ushul Fiqh tetapi juga keseluruhan proyeks
rekontruksinya; min al naql ila al ibda (hikmah/filsafat) , min al
aqidah ila tsaurah (akidah), min al nash ila al waqi (ushul fiqh) dan
terakhir iya mengajak tasawwuf untuk min al fana ila al baqa... 

Hemat penulis, pembacaan historis-fenomenolo gis seperti ini perlu
dilakukan untuk memahami `komponen-komponen dalam' karya-karya Ushul
Fiqh itu. Dengan begitu, pergeseran formatif dan konstruktif Ushul
Fiqh bisa dibaca dengan lebih jujur. Tidak dengan strukturalisme ketat
yang tak hirau pada sejarah yang lamat-lamat berjalan semenjak Nabi
Adam sampai kiamat nanti. Semenjak Ushul Fiqh Al Syafi'i sampai Al
Syaukani atau Yusuf Qaradlawi dan Kyai Sahal sekarang ini. Seberapa
jauh dan dengan tingkat kebutuhan seperti apa diharuskan terjadi
pergeseran. Kita juga akan lebih bisa mengapresiasi khazanah Ushul
Fiqh yang sebetulnya modern pada masanya. Teks dianalisa dengan
memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu, dari kondisi ke
kondisi. Secara fenomenologis teks harus ditundukkan pada kondisi
situasional di mana ia dikarang. Baru kita bisa menilainya secara
adil. Tidak terjebak pada jugment prematur Ushul Fiqh sebagai produk
yang tak berkembang dan tak dikembangkan. Atau sebaliknya, terjebak
dalam diskursus glorifikasi sementara kalangan, yang tak pernah
memberikan klarifikasi keilmuan apapun. Atau terakhir, mereka yang
hendak mengembangkan Ushul Fiqh tapi sesungguhnya bergerak di luar
framework Ushul Fiqh...

Salam,
am 

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo. com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke