Salam, Mas Baso yang baik...
Mungkin ada yang terlewat dalam pembacaan sampean terhadap Jabiri. Kenyataannya salah satu bukunya menunjukkan dengan terang benderang kekaguman Jabiri terhadap Muktazilah. Tokoh-tokoh yang diklaim oleh Jabiri sebagai garda depan gerakan pencerahan adalah mereka yang tergabung dalam blok Qadariyah, Jumhiyyah dan Mutazilah. Akan sangat susah bagi sampean untuk menyanggahnya. Dan saya ragu sampean akan melakukannya. Jabiri dengan bangga menyebut mereka sebagai kaum intelegensia yang berhasil melakukan revolusi. Mereka adalah tokoh pencerahan paling sejati dalam rangka melawan ideologi fatalistik (jabr) yang diadopsi pemerintahan Abbasiah. Mereka juga menghancurkan basis-basis pemikiran ideologi takfir, mitologi imamah dan aliran-aliran manawiyyah dan terakhir aliran gnostik!! Menyoal metode, saya yakin sampean lebih paham daripada saya. Hassan Hanafi, ketika melihat tradisi Islam klasik yang panjang dengan fragmentasi disiplin yang kompleks dan polarisasi metode dan pemikiran yang kompleks pula dia menganjurkan terutama metode fenomenologi. Ia menganalisa tradisi itu kemudian berusaha mentransformasikannya dalam bentuk metode dan beberapa produk pemikiran. Ini tercermin dalam keseluruhan karya-karyanya. Jabiri mempunyai cerita yang sama dengan Hasan, hanya saja dengan latar belakang akademis yang berbeda. Jabiri adalah lulusan fakultas politik dan Hanafi adalah jebolan islamic studies yang menulis les methodes. Kita tidak bisa menyepelekan yang kedua ini apalagi dalam bidang Ushul Fiqh. Hanafi meninjau seluruh tradisi Islam klasik dengan memanfaatkan fenomenologi dan analisa teks yang teliti ditambah konsep-konsep Marxis dan Hegelian. Sedangkan Jabiri secara ketat meminjam strukturalisme. Di tambah konsep-konsep Faucoult, Althusser, Gramsci dan Bachelard. Maka sudah jelas hasilnya akan berbeda. Tapi tetap, keduanya hadir sebagai the man of methodes dan the man of ideas sekaligus. Dan metode yang diterapkan sebetulnya adalah pluralistic methodology atau ta'addud al manahij sebagaimana sering diperkatakan Hanafi dalam ceramah-ceramahnya. Untuk membedakan secara tajam metode yang dipakai kedua pemikir ini saya kira kita harus menekuni lagi Al Turats wa tajdid (Hanafi) dan Naql al Aql al Arabi (Jabiri). Begitu saja....Seharusnya Mas Baso yang membuat argumentasi Hanafi bukan the man of methodes dan begitu juga Abu Zayd. Dan bukan saya yang harus membuktikan sebaliknya. Karena pertama-tama sampean lah yang mengkalimnya...al bayyinatu ala al muddadi wa al yamin ala al mudda'a alaih. Untuk Gus Yunus, panggilan Gus Anis itu sebaiknya disudahi saja...Bagi saya, julukan itu mengerikan bagaikan penjara. Ia lekat dengan moralitas atau bahkan ideologi. Dan ingat, dalam konsep Marx moralitas adalah kekuatan yang sangat efektif untuk mengatur manusia. Dan saya tidak lah pantas untuk itu karena terlalu sering di luar aturan-aturan mapan yang membungkusnya. Kalau saya menyebut sampean Gus, itu karena sampean lebih berhak atau minimal saya menerapkan kaidah fikih saja lah, al nafsu bi al nafsi, matsalan bi matsalin dst...he Maaf saya terburu.... Wassalam, am --- In [email protected], zu nuz <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sdr Baso, membaca jawaban anda yang nampak tergesa-gesa atas tulisan anis itu, sepertinya anda sedang memasuki sebuah kubangan olok-olok yang sebenarnya anda peruntukkan untuk sdr Anis--atau mungkin lebih tepatnya "gus" anis. sebuah hal yang janggal memang--tapi apa boleh buat. > > coba anda baca kembali, kata-kata anda: apakah itu latas anda hanya menganggap jabiri sebagai man of ideas, sehingga membacanya mirip orang yang memungut satu ide ke ide lainnya, setelah itu masuk ke dalam satu keranjang dengan rupa-rupa isi di dalamnya > > bagi saya, begitulah memang orang membaca sebuah pemikiran; begitulah pada akhirnya konstruksi sebuah pemikiran terbentuk. meminjam kata-kata edward said, dalam bagian akhir dari buku covering islamnya, pada akhirnya toh tak ada sebuah invensi pemikiran yang benar-benar orisinil, benar-benar tunggal--atau, dalam kata-kata anda dalam bentuk negatif: tak berupa-rupa. bukankah konsekwensi sebuah pembacaan pararel, pada akhirnya kita dihadapkan sebuah pasar raya persepsi yang harus kita terima sebagai yang sejajar tanpa sebuah sensitifitas gradasi yang timpang. dan saya mafhum bahwa durasi baca akan mempengaruhi durasi stigma dan aura sang tokoh; semakin sering kita membaca tokoh yang kita kagumi, akan semakin lupa kita untuk sadar bahwa ia juga mempunyai cacat epistemologis; semakin sering kita mengkhatamkan sebuah buku yang kita kukuhi, akan semakin lupa kita untuk mengambil jarak terhadap tokoh itu. hal ini bagi saya juga berlaku untuk sdr anis dan sdr > baso. tapi mungkin lebih tepat untuk nama yang terakhir itu. > > namun rupanya, mungkin anda kurang menyadari konsekwensi dari cara ini. karena anda terlihat begitu terpesona sama jabiri itu. sehingga gradasi teks dan pikiran jabiri begitu dominan dalam pensejajaran bacaan anda terhadap tokoh-tokoh yang bermacam-macam itu. saya membayangkan bahwa anda akan menolak kesimpulan ini. tapi seperti yang anda katakan, anda membutuhkan 4 tahun untuk membaca jabiri; sebuah kurun yang tak anda butuhkan untuk membaca homi babha ataupun spivak, atau yang lainnya, nampaknya. bisakah kualitas psikilogis dalam sebuah kurun waktu yang timpang ini bisa menghasilkan sebuah pararel yang memadai? saya ragu-ragu akan hal itu. > > atau mungkin memang anda benar-benar tergesa-gesa dalam menjawab tulisan itu, sehingga anda kurang sadar akan konsekwensi yang muncul antara olok-olok dan alternatif anda. > > salam > m. y. m. > > > ----- Original Message ---- > From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Friday, February 29, 2008 8:33:49 AM > Subject: Re: [kmnu2000] Re: TENTANG AL-JABIRI DAN HANAFI > > sdr Anis masduki, > teis Salim barbari udah saya baca. saya dapatkan dari kawan Arif yang eprnah kuliah d Kairo dan memberikannya (jazahullahu khairan) sewatu saya ke sana. Salim tidka jauh beda dengan yang lainnya, cuma lebih sistematis, tapi sayang terlalu sederhana ttg Jabiri. > bacaan Anda ttg Hanafi ckup kuat, tinggal HAnafi itu banyak aspek yang digeluti, dari hermenutika, fenomologi, marxisme, oksidentalisme, dan kini kritik tardisi. aspek yang mana Anda suka baca, sehingga bisa anda katakana ia ebrkaraketr? kalau menyebutnya berkarketr, tinggal anda sendiri yang membuktikanya, apakah bacaan Anda ttg Hanafi yang katana anda man of methodes bisa mengantar Anda pada sebuah invensi kelimuan baru, petualangan baru, dan eksplorasi gagasan baru -- di luar dari yang dipikirkan oleh hanafi sendiri... itulah tantangannya ketika menyebut Hanafi sebagai man of methodes, yang memungkinkan anda produktif untuk berpikir, bukan konsumtif belaka yang ngutip sana kemari -- yang qila wa qala > saya gak tahu, sejauhamana bacaan Anda ttg Jabiri, sehingga menyebunya "pengagum muktazilah"? apakah itu latas anda hanya menganggap jabiri sebagai man of ideas, sehingga membacanya mirip orang yang memungut satu ide ke ide lainnya, setelah itu masuk ke dalam satu keranjang dengan rupa-rupa isi di dalamnya? > startegi saya membaca Jabiri, adalah membacanya secara paralel: membaca Jabiri membaca NU, membaca NU membaca Jabiri, membaca Jabiri membaca Indonesia, membaca Jabiri membaca Edward Said, membaca Said membaca Jabiri, membaca Jabiri membaca Homi bahbha, Spivak dst.... > saya kira gitu > ab > > ----- Original Message ---- > From: Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com > Sent: Thursday, February 28, 2008 1:55:52 PM > Subject: [kmnu2000] Re: TENTANG AL-JABIRI DAN HANAFI > > Salam, > > Mas Baso, Mas Guntur dan Irwan yang lagi patah hati juga Gus Robit > sang pecinta sejati...(ini siapanya Gus Hiddink??) dan kawan-kawan > semua...saya teringat bukunya Salim Barbari, yang tidak diterbitkan > dan sebetulnya adalah tesis MA-nya di Universitas Kairo. Buku yang > jarang dipunya dan mungkin sedikit dibaca. Dengan membaca buku ini > saya tidak bisa terburu-buru dan terlalu simplistis mereduksi Hassan > Hanafi sebagai hanya the man of ideas. Menurut saya, Jabiri dan Hanafi > sama-sama the man of methodes dan the man of ideas dalam satu waktu. > Dua-duanya menggunakan metode dan memproduksi gagasan yang sama-sama > khas dan berkarakter. Kadang keduanya bertemu dalam satu > metode/gagasan dan kadang pula harus mengatakan hum fi wadin wa nahnu > fi wadin akhar...hum rijal wa nahnu rihal...lakum dinumum waliya > din...dst. > > Pertama-tama kita tidak bisa mereduksi bahwa Jabiri adalah seorang > strukturalis an sich. Meski interaksinya dengan perkembangan filsafat > Prancis menjadikannya lebih dekat daripada filsafat anglo-saxon. > Jabiri, yang saya tahu juga memanfaatkan analisa sejarah dan kritik > ideologis. Makanya Jabiri sering menolak tudingan beberapa kritikusnya > terhadap letak eror yang sering diakibatkan telaah strukturalis. > Karena dia merasa sudah mengombinasikan antara ketiganya. Barbari > sangsi bagaimana Jabiri bisa mengoperasionalkan dua metode > strukturalis dan historis yang amat susah disatukan dalam satu obyek > dan penggalan analisis itu. > Jadi, saya kira kritik jangan diarahkan hanya pada metode strukturalis > ini. > > Di sini kita menemukan Hassan Hanafi yang lebih menekankan metode > sejarah dan sangat kental kritik ideologisnya. Jabiri, saya kira tidak > sebegitu kuat dalam hal ini. Di tambah, Jabiri tidak memakai telaah > epistemologis dalam al aql al siyasi. Padahal bukankan epsitemologi > juga berperan dalam kajian nalar politik? Setelah berlembar-lembar ia > mengkaji metode apa yang relevan (qabilun li tatbiq) dalam hal ini, ia > akhirnya memakai political unconciousnessnya Dobray dan social > imagination dalam ilmu sosial modern. Ia kemudian mengatakan bahwa > epistemologi menciptakan nalar bahwa sadar pemikiran, sedangkan social > imagination menciptakan nalar bawah sadar politik. > > Karakter kritik yang lebih mengarah ke epistemologi dan arkeologi ilmu > pengetahuan (bunyah, takwin dan al aql al akhlaqi) menjadikannya > dangkal dalam melakukan telisik historis dan ideologis. Arkeologi > pengetahuan sendiri lebih dekat kepada antropologi daripada sejarah. > Meskipun Jabiri seringkali menyebut kata-kata "al tharh al > aidiulujiyya" yang dimaksudkan sebagai penelanjangan faktor ideologi > yang mempengaruhi terbentuknya epistemologi tapi telaah ideologinya > tetap kalah dengan ketajaman Hanafi. Bagi saya, telaah epistemologi > Jabiri dengan metode strukturalis mengalahkan telaah historis dan > kritik ideologis yang sangat penting dalam sejarah tradisi Islam. > > Tanpa mengurangi keteguhan proyek besar Jabiri untuk mengusung > rasionalitas (takwin, bunyah, aql siyasi) dan etika (al aql al > akhlaqi), sesuatu yang saya pikir bertemu dengan Hanafi di lembah yang > sama karena kedua-duanya adalah pengagum muktazilah dan Ibn Rusyd, ada > hal-hal yang perlu diperhatikan supaya proyek itu bisa berjalan baik > khususnya dalam konteks indonesia. Yaitu kaitannya dengan epistemologi > Irfan. Harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa Jabiri tidak memukul > rata tasawwuf karena dia sendiri sangat sepakat dengan dimensi etika > dalam Islam. Dan gaya berpikir Hanafi terlepas dari kritiknya terhadap > tasawwuf hendak mentransformasikan tasawwuf lebih sosialis daripada > individualis. Makanya, meski Hanafi adalah orang Masyriq dia tetap tak > sepakat dengan Ibn Sina bahwa kedekatan manusia dengan Tuhan diukur > dari makamnya secara vertikal dan bukan horisontal, menyatu dengan > Tuhan bukan menyatu dengan penderitaan manusia. > > Sedang kritik Jabiri terhadap Ibn Sina dan Al Farabi adalah cenderung > memutlakkan mereka sebagai Isyraqi yang hermesian murni. Sedangkan > Hanafi mengamini hanya aspek-aspek tertentu saja dari Ibn Sina. Toh > Ibn Sina adalah penulis Qanun fi Al Tib. Nah, Jabiri melangkah > menyodorkan tesis Ibn Sina sebagai ta'sis al al burhan ala al irfan. > Bagi Jabiri, Timur adalah Irfani dan Barat adalah Burhani maka ada > keterputusan epistemologis (qathiah ma'rifiyyah) . Meski di Barat ada > Ibn Arabi, Ibn Masarah dan Ibn Madyan. Meski juga, Ibn Bajah > mensyarahi Al Farabi dan Ibn Tufail menysarahi Ibn Sina. Bagi Jabiri, > dengan metode Bachelard, yang terjadi adalah qathi'ah ma'rifiyyah, > sedangkan para kritikusnya termasuk Hanafi (dirasah falsafiyyah dan > pengantar buku Hisyam Ju'aid), realitasnya adalah wahdah al aql al > arabi, persis seperti judul buku Tharabisy itu. > > Sampai di sini saya masih sangsi apakah yang terjadi adalah Jabiri > mengingkari fakta2 parsial itu atau dia menyadarinya, karena dia > sendiri menyebut Ibn Madzyan (Takwin). Dia menyadari tidak menyebut > Ibn Arabi, Ibn Masarrah sebagai sampel Maghrib karena sebuah tuntutan > metodologis dan bukan bagian dari kepentingannya untuk meneguhkan > rasionalitas yang sesungguhnya dibutuhkan umat Islam saat ini. Ketika > disodorkan lagi Ibn Khaldun yang mengikutkan aspek mistik di dalam > bukunya, dia berapologi bahwa Ibn Khaldun mempelajarinya bukan bagian > dari epistem dirinya tapi menyikapinya sebagai seorang yang rasional. > > Sebagai seorang yang meminati Ushul Fiqh saya sendiri menemui apa yang > diungkapkan kritikus Jabiri itu. Dalam hal ini saya, untuk sementara, > lebih cocok dengan wahdah al aql fi ushul al Fiqh. Hasan Hanafi dengan > telaah fenomenologis (metode ini yang menjadikan Hanafi sangat > distingsif dengan Jabiri) paling jauh hanya mengatakan pembelokan > orientasi (al in'ithaf) dan saya pikir bukan pergeseran epistemologis > dalam bahasa Kuhn. Jadi apa yang dikatakan Robith bahwa Syatibi dan > Ibn Abdissalam melakukan pemutusan epistemologis itu terburu-buru > berlebihan. Judul buku Qawaidul Ahkam karya Ibn Abdissalam juga tidak > dimaksudkan sebagai Ushul Fiqh karena ia kaidah, bukan Ushul Al > Syairah (Syatibi), atau Ushul Al Fiqh (Al Syafi'i). Ia mirip dengan > karya qawaid fiqh pertama oleh Ibn Rajab yang Hanbali itu. Terbukti ia > punya karya Ushul Fiqh sendiri yang merupakan syarah Muntaha Al Sul wa > Al Amal karya Ibn Al Hajib yang Maliki. > > Jadi, catatan untuk Gus Robit sodaranya Gus Hiddink, saya kira yang > terjadi adalah semacam pergeseran yang masih berada dalam framework > Ushul Fiqh konvensional ala Al Syafi'i. Karya-karya Abu Hasan Al > Basri, Ibn Hazm, Al Ghazali, Syatibi, Ibn Taymiyah, Thufi, Al > Syaukani, Qarafi, Thahtawi, Ibn Asyur, Abduh bekerja saling melengkapi > dan bukan keterputusan. Bukan seheboh Shift paradigm istilah Thomas > Kuhn atau epistemological break Bachelard. Al Syatibi masih memakai > Qiyas dan bahkan menilai ketidakpopuleran Ibn Hazm adalah karena dia > mengkritik sesuatu yang sudah menjadi kelaziman (qiyas). Dua tokoh > yang sama-sama digadang oleh Jabiri sebagai penyeru rasionalitas tapi > pada faktanya berbeda pendapat. Dalam masalah qatl al jama'ah bil > wahid juga Ibn Hazm tidak menyetujui fatwa Umar ini. Sedangkan Ibn > Ruysd justru memperkuat Umar dalam masalah ini. Ibn Hazm dan Ibn Rusyd > berbeda. Sekali lagi, pengembangan Al Syatibi, bagi saya, masih berada > dalam framework Ushul Fiqh konvensional. Itu kesimpulan sementara saya. > > Kesimpulan ini ketika saya mendapat 'ilham' setelah membaca Min Al > Nash Ila Al Waqi yang dua jilid karya Hanafi. Dalam buku itu, Hassan > Hanafi mendiskripsikan secara runut karya-karya Ushul Fiqh semenjak Ar > Risalah (204 H) sampai Irsyad Al Fukhul (1255 H). Memahami adanya fase > kreatifitas orisinil, semi-orisinil dan membaca adanya dua fase > pergeseran dalam narasi kreatifitas setelah Al Risalah, yaitu fase Al > Mustashfa (505 H) dan Al Muwafaqat (790 H). Dengan pelan dan sabar, ia > mendiskripsikan struktur dalam Ushul Fiqh dan materi-materi yang > dinamis. Itu semua terbaca di dalam Ushul Fiqh dengan > mengoperasionalisas ikan metode analisa teks (tahlil al nash). Dengan > fenomenologi, Hanafi mengajak kita untuk mentransformasikan > kreasi-kreasi itu sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan kita. Ini > tidak hanya dalam ranah Ushul Fiqh tetapi juga keseluruhan proyeks > rekontruksinya; min al naql ila al ibda (hikmah/filsafat) , min al > aqidah ila tsaurah (akidah), min al nash ila al waqi (ushul fiqh) dan > terakhir iya mengajak tasawwuf untuk min al fana ila al baqa... > > Hemat penulis, pembacaan historis-fenomenolo gis seperti ini perlu > dilakukan untuk memahami `komponen-komponen dalam' karya-karya Ushul > Fiqh itu. Dengan begitu, pergeseran formatif dan konstruktif Ushul > Fiqh bisa dibaca dengan lebih jujur. Tidak dengan strukturalisme ketat > yang tak hirau pada sejarah yang lamat-lamat berjalan semenjak Nabi > Adam sampai kiamat nanti. Semenjak Ushul Fiqh Al Syafi'i sampai Al > Syaukani atau Yusuf Qaradlawi dan Kyai Sahal sekarang ini. Seberapa > jauh dan dengan tingkat kebutuhan seperti apa diharuskan terjadi > pergeseran. Kita juga akan lebih bisa mengapresiasi khazanah Ushul > Fiqh yang sebetulnya modern pada masanya. Teks dianalisa dengan > memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu, dari kondisi ke > kondisi. Secara fenomenologis teks harus ditundukkan pada kondisi > situasional di mana ia dikarang. Baru kita bisa menilainya secara > adil. Tidak terjebak pada jugment prematur Ushul Fiqh sebagai produk > yang tak berkembang dan tak dikembangkan. Atau sebaliknya, terjebak > dalam diskursus glorifikasi sementara kalangan, yang tak pernah > memberikan klarifikasi keilmuan apapun. Atau terakhir, mereka yang > hendak mengembangkan Ushul Fiqh tapi sesungguhnya bergerak di luar > framework Ushul Fiqh... > > Salam, > am > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo. com/r/hs > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Looking for last minute shopping deals? > Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping > > [Non-text portions of this message have been removed] >
