Kang Harry,

Saya terharu membaca surat sampean. Mungkin sampean benar, banyak diantara
kita yang tidak peka dengan persoalan seputar qunut dan tahlil. Dulu
persoalan ini sempat menimbulkan kerenggangan antara kaum
tradisionalis dan
modernis. Lalu keduanya semakin dewasa, dan tidak banyak lagi
mempersoalkannya.

Tapi tampaknya ada 'modernis' baru yang banyak di pengaruhi oleh Bin
Baz dan
Albani cs, yang hobinya menghujat mereka yang tak sefaham.

Rasanya saya ingin menghadiahi buku2 kecil seputar ritual NU, tapi anda di
Bandung. Jauh sekali.



--- In [email protected], "HarryMau" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu`alaikum,
> 
> Jazakallah Pak Kiyai, sampai sempet-sempetnya mengomentari celoteh saya.
> 
> Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, kepada panjenengan dan
semua Doktor dan calon Doktor serta Professor, .... sikap seperti
inilah yang sangat saya sayangkan, kenapa? Karena justeru jawaban
seperti itu (yang sangat simplistis) yang biasa dijadikan amunisi oleh
mereka untuk menembaki kami.
> Kalau saya menjawabnya seperti itu, matilah NU!
> 
> Yaa ... pasti, panjenengan semuanya tidak akan pernah merasakan 

Kirim email ke