Assalamu`alaikum,

Jazakallah Pak Kiyai, sampai sempet-sempetnya mengomentari celoteh saya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, kepada panjenengan dan semua Doktor 
dan calon Doktor serta Professor, .... sikap seperti inilah yang sangat saya 
sayangkan, kenapa? Karena justeru jawaban seperti itu (yang sangat simplistis) 
yang biasa dijadikan amunisi oleh mereka untuk menembaki kami.
Kalau saya menjawabnya seperti itu, matilah NU!

Yaa ... pasti, panjenengan semuanya tidak akan pernah merasakan berhadapan 
dengan masyarakat kecil yang kebingungan mengenai keabsahan ritualnya (sebab 
panjenengan semua berhadapannya hanya dengan mahasiswa yang tidak akan 
menanyakan hal "seremeh" itu, atau santri yang cukup dijawab dengan kitab 
kuning, atau .... ya memang lingkungannya yang NU tok)

Sedangkan saya? Wahhh .... cape deh!
Saya hidup di daeah (Maaf P**SIS) di Bandung membuka madrasah, anak-anak yang 
ngaji ada sekitar 150, ibu-ibunya 100an, mereka yg menengah ke bawah pada 
dasarnya secara kultur adalah NU, tapi karena terus-terus dihantam, yaaa ... 
abu-abu lah jadinya, itu paling untung!
Sedang yang elitnya jelas ikut mereka karena malu kalah dalil. 

Tekanan ke saya? Wah .... jangan ditanya itu!
Sampai Ramadhal 2 tahun kebelakang, saya ditantang debat di Mesjid Pusat Kota 
Bandung, tak tanggung-tanggung ... melawan seorang Ustadz sepuh mereka (Ketua 
Dewan Hisbah Pusat)!

Di Bandung sangat sulit menemukan nahdliyin yang "mendalam", entitas 
organisasinyanya banyak, samapi ranting pun ada, tapi mereka hanya sebatas kama 
qala anu! Yang elitnya malah lebih hafazh sama rincian PERDA atau UU Pemilu, 
daripada meneliti ibarat ritual.

Apa ini akan dibiarkan oleh panjenengan semua yang sangat alim? Atau wilayah 
dakwah panjenengan hanya di JATENG dan JATIM saja? Sedang Bandung gak masuk 
daftar dakwah?

Yaa ... paling tidak, dukung lah dakwah kami dengan buku-buku karya panjenengan 
tentang hal tersebut secara mendalam! Insya Allah akan saya beli kok, tidak 
meminta! Kalau orientasinya uang, saya yakin, Insya Allah itu pun akan jadi 
uang!

Duh ... maaf, ini mulut saya sampai berbusa ....!

NB:
Kepada Panjenengan yang sedang menuntut ilimu di luar, yang prihatin terhadap 
dakwah kami,
mohon tolong kepada yang punya akses ke kitab-kitab karya Syaikh Hasan al 
Seggaf (saya baru punya satu, itu pun fc -shahih shifat shalat nabi-) serta 
karya ulama lainnya yang saya tidak tahu, yang isinya membela hujah ritual 
nahdliyah, untuk memberikan info (JAPRI), segala biaya pembelian dan shipping 
akan kami ganti, insya Allah menjadi bagian dari dakwah panjenengan semua!
Jazakumullah khayran katsira!


Wassalam,
HarryMau

On 2/28/2008 06:44:16 PM, [email protected] wrote:
> Salam,
> 
> Hehehe, saya menduga Mas Harimau tidak sedang ingin minta diberi petunjuk
> 
> mengenai judul buku yang berkisah seputar "amaliyah warga NU". Dari
> kacamata
> 
> ilmu hirmiunitik, simiotik dan susilolinguistik maka dengan ini saya
> 
> menyimpulkan bahwa Harimau sedang mengkritik teman-teman yang bersibuks
> 
> dengan nama-nama pemeran utama di "toko buku Islam" seperti Spivak, Jabiri,
> 
> 
> Arkuon, E W Said, H Hanafi dst.
> 
> 
> 
> Andaikan Islam adalah hamparan pertanian yang luas maka gagasan-gagasan
> 
> mereka adalah pupuk kimia yang penting untuk menyuburkan tanah/tanaman.
> 
> Teman-teman bersibuk memasarkan itu dan sering tidak mengenal bibit,
> 
> penggarap, struktur tanah dan sumber airnya. Kadang-kadang gagasan itu
> 
> memang sama sekali tidak berhubungan, namun temen2 tetap ngotot dengan
> 
> memfungsikan diri sebagai tukang iklan (tukang iklan kan tetap dibayar
> 
> meskipun produknya tidak laku).
> 
> 
> 
> Saya kira, memang diskusi teoritik an sich tidak diperlukan oleh teman-
> teman
> 
> yang terjun ke ruang "praksis", dimana perbincangan yang
> "secara teoritik"
> 
> remeh temeh seputar "bilangan rakaat shalat tarawih" jus 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke