Ini cuma opini pribadi, saya cuma ngga suka aja kalau orang mudah sekali
menjadi pecandu mimpi. And when u look around, jelas banget bangsa ini
kecanduan mimpi. Mungkin karena sudah mulai ngga percaya kalau realitas bisa
diubah dan akhirnya memilih lari dengan menikmati mimpi.
Terus terang sama sekali novel ini tak menyentuh blasss
Karena tokoh Fahri
hanya sebagai angan-angan pengarangnya saja yang terlalu tinggi tentang
idealisme Laki-laki dalam pencapaian logika tertingginya ketika tidak mampu
mendapatkan perempuan yang sempurna.
Mengapa demikian? Karena pertama, Orang Turki banyak yang tidak mau menikah
dengan orang Jerman karena Jerman termasuk negara yang melindungi bangsa
Armenia sewaktu terjadi pembantaian besar2an pemerintah Turki terhadap bangsa
Armenia. Jadi kalau orang Turki tidak mau menikahi orang Jerman, mengapa lantas
ada orang keturunan Turki-Jerman. Kalaupun ada mungkin akibat korban
pemerkosaan sewaktu jamannya Nazi berkuasa di Jerman. Lagipula Orang Turki di
Mesir sendiri hidup secara eksklusif dan tidak mau bergaul dengan bangsa Asia,
apalagi Indonesia yang berhidung pesek.
Tidak pernah ada catatannya seorang mahasiswa Cowo Indonesia menikah dengan
mahasiswa Turki-Jerman di tanah seribu menara tersebut. Yang ada malah
kebalikannya, ada satu orang mahasiswi cewe Indonesia yang menikah dengan orang
Turki, tapi bukan Turki Jerman. Itupun mungkin alasan si cewe ini karena orang
Turki lebih banyak hartanya dan lebih besar kelaminnya. Who Knows?
Whatever, tapi sangat jarang sekali orang Indonesia menikah dengan orang
asing, paling banter ya dengan orang Mesir, itupun bisa dihitung dengan Jari,
dan lebih banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Mesir ketimbang
lelaki Indonesia menikah dengan perempuan Mesir. Karena mahar perempuan Mesir
harus minimal satu rumah. Sedangkan mahar orang Indonesia cukup dengan cinta
kali yeee
Paling banter cowo Indonesia menikah dengan orang asing ya kalau gak
dengan cewe mesir (jarang sekali), ya dengan orang malaysia yang masih serumpun
itu ngakunya (tapi pencuri). So, penggambaran si Fahri dalam ayat-ayat cinta
cuma ekspektasi si pengarang yang gak kesampaian belaka dan jauh dari fakta
sebenarnya, jika maksud si penulis selain adalah membeberkan fakta kondisi
sosial masyarakat Indonesia di Mesir, maka sebenarnya para pembaca telah ditipu
oleh angan2nya saja. Tidak lebih
Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa di Indonesia sangat jarang sekali
dimunculkan tokoh baik/ protagonis yang masyhur dan bisa dinalar, sehingga
ekspektasi terhadap Novel ayat-ayat cinta begitu berlebihan terhadap beberapa
orang dan kalangan, maka kalau menurut saya, ucapan seperti itu sangat tidak
tepat. Kalau kita mau meneliti sedikit banyak kok kita temukan pulau-pulau
integritas yang berputar pada pribadi-pribadi luar biasa. Dengan segala
kelemahan manusianya menunjukkan bahwa everyone can make difference
.
oleh: orang yang pernah tinggal di Mesir seperti si Habiburrahman
---------------------------------
Sent from Yahoo! Mail.
More Ways to Keep in Touch.
[Non-text portions of this message have been removed]