saya kira, ini bukan soal dukung mendukung, karya sastra, atau fiksi lainnya itu sah-sah saja untuk membangun imajinasi liar. Apakah itu mimpi atau realitas tidak ada urusan. Justeru, kelebihan sebuah karya fiktif adalah di sini, upaya mengeksplorasi imajanasi dan mengongkretkan dalam kata-kata yang terucapkan dengan indah.
terus terang, saya sendiri belum baca karya Habiburrahman satupun. meskipun beberapa orang, termasuk keponakan, memaksa saya untuk membeli dan membaca ayat-ayat cinta ini. meskipun saya sendiri peminat dan pembuat karya sastra. akan tetapi paling tidak, Habiburrahman berhasil dalam hal ini. Harus diakui, bukan sekadar iri, dan menjelek2kan karyanya. Kalau kita juga ingin mengritisi saya kira dengan kritik yang sehat, dengan pendekatan yang jelas. -- http://sahlulfuad.co.nr rumah persahabatan karya. http://pelanggar.co.nr di mana ada hukum, di sana ada pelanggar [Non-text portions of this message have been removed]
