Anis, Saya sepakat dengan kamu dalam poin bahwa gagasan dalam ranah apapun; termasuk di dalamnya adalah ideologi bisa menjadikan politik sebagai salah satu sarana manifestasi dengan tanpa melibatkan partisipasi agama.
Kembali pada kasus Gus Dur, saya melihat ada perbedaan yang krusial antara Gus Dur sebagai salah satu ikon pemikir Indonesia dengan para pemikir dunia Arab. Memang benar, Hassan Hanafi pernah terlibat gerakan IM pada masa mudanya. Jabiri pun demikian. Semasa mudanya, dia aktif dalam partai Union Nationale des Forces Popularies yang lantas menjelma sebagai Union Sosialiste des Forces Popularies. Jabiri muda bahkan termasuk dalam deretan kader militan bagi partai USFP ini. Nah, perbedaan yang saya maksudkan disini adalah, Gus Dur, paling tidak dalam asumsi saya, menjadikan ideologinya yang brilian itu hanya sebatas sebagai relasi sosial. Hal inilah yang dalam bahasa Hassan Hanafi telah mengerangkeng Gus Dur dalam konflik-konflik politik yang kerap kontra produktif bagi pembumian gagasan pemikiran atau ideologinya. Lain halnya, jika Gus Dur memposisikan ideologinya layaknya sikap yang diambil para pemikir Arab Modern dan Kontemporer. Sepemahaman saya, para pemikir Arab semodel Hassan Hanafi, Jabiri atau Nashr Hamid menempatkan ideologi mereka sebagai proyeksi rasional. Ini lantas mengapa, gagasan-gagasan mereka menuai apresiasi dan terkesan rapi serta matang, juga terencana. Berkebalikan dengan Gus Dur, yang konsepnya selalu memunculkan kesan acak-kadut, zig-zag dan tak mudah dipahami. Tentang buku al-Jabiri yang kamu sebut itu, kawan-kawan Lakpesdam 5 bulan yang lalu telah membedahnya secara serius. Bahkan ketika abah Robith belum pulang ke Indonesia. Biarlah tema yang berbau Qur'an menjadi bidang garap Gus Irwan saja. Saya sungkan untuk melangkahinya. Saya takut tak mendapat doa kelulusan darinya. Salam, Muhammad Mawhiburrahman Faculty of Theology Department of Creed and Philosophy Al-Azhar University Cairo http://www.mmawhib.blogspot.com --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati --- ----- Original Message ---- From: Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, April 6, 2008 3:44:44 AM Subject: [kmnu2000] Re: tentag GD, buku baru Hasan dan Jabiri Muhib, Pemikiran, ideologi dan bahkan agama (tepatnya pemahaman agama) tidak ada salahnya (atau bahkan harus) diperjuangkan melalui politik...Tanpa harus mengatasnamakan Tuhan sehingga yang terjadi adalah penindasan manusia atas nama Tuhan. Pemikir-pemikir Mesir itu banyak yang aktif di politik. Pemikir-pemikir Marxis afiliasinya ke partai-partai sosialis seperti Khalil dan Rif'at Said. Termasuk Hassan dulu pernah di IM. Sering-sering lah kamu ke Ammu Hasan dan mungkin Jamal Al Banna. Di Indonesia jarang saya menemukan pemikir yang ketika diwawancarai bisa elaboratif dan mendalam, terutama dalam khazanah Islam klasik. Makanya, saya kangen suasana wawancara dan seminar-seminar dengan tokoh-tokoh besar Mesir itu...;)Di hadapan mereka gairah intelektual saya terpuaskan meski hanya banyak mendengar. Saya menunggu buku itu. Buku Jabiri yang terbaru, Madkhal Ila Al Quran, sudah saya baca meski baru mukaddimah dan saya harus berhenti untuk konsentrasi bidang saya. Waktu saya wawancara Abu Zayd di Jogja, gagasan Jabiri dalam buku terbarunya punya kesamaan dengan Khalafullah. Jika memang benar, apa Jabiri menyebut Khalafullah? Abu Zayd bertanya begitu. Saya kira teman-teman Lakpesdam sudah waktunya menyambut antusias buku Jabiri yang baru ini dan mengkajinya perlahan. Salam, Anis M ____________________________________________________________________________________ You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com [Non-text portions of this message have been removed]
