Berbeda dengan Gus Dur yang "menceburkan diri" dalam berbagai problem 
sosial, budaya, pendidikan, politik, keagamaan bahkan juga terkadang 
bicara tentang ekonomi. yang mengkonsumsi "pemikirannya"-pun beragam, 
dari orang awam, santri, sampai intelektual dan akademisi.

Kiprah al jabiri lebih difokuskan pada konstruksi pemikiran melalui 
pendekatan filsafat, konsumennya pun kalangan "high class" alias 
akademisi dan intelektual saja. 

Saat ini beliau memaksimalkan masa tua-nya dengan terus berkecimpung 
dalam dunia tulis menulis, di samping buku baru yang berjudul "al 
madkhal ila al qur'an" saat ini beliau juga telah menerbitkan 
buku "Fahmu al Qur'an al hakiem" tafsir qur'an perspektif asbab 
nuzul. di samping itu beliau juga rutin menerbitkan buku mini "al 
mawaqif" tiap bulan, yang merupakan refleksi dan analisanya terhadap 
masalah-masalah kekinian.

Oh iya, al jabiri di Maroko tidak seperti Gus Dur di Indonesia yang 
selalu dikerumuni oleh massa "Gus-Durian", di Maroko al jabiri tidak 
menemui "Jabirian" kecuali melalui tulisan atau forum seminar.

Wassalam


Arwani Syaerozi

Dept. of Islamic Studies
University of Mohammed V Rabat Maroko.
www.arwani-syaerozi.blogspot.com 

 

--- In [email protected], Muhammad Mawhiburrahman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Anis,
> 
> Saya sepakat dengan kamu dalam poin bahwa gagasan dalam ranah 
apapun; termasuk di dalamnya adalah ideologi bisa menjadikan politik 
sebagai salah satu sarana manifestasi dengan tanpa melibatkan 
partisipasi agama.
> 
> Kembali pada kasus Gus Dur, saya melihat ada perbedaan yang krusial 
antara Gus Dur sebagai salah satu ikon pemikir Indonesia dengan para 
pemikir dunia Arab. Memang benar, Hassan Hanafi pernah terlibat 
gerakan IM pada masa mudanya. Jabiri pun demikian. Semasa mudanya, 
dia aktif dalam partai Union Nationale des Forces Popularies yang 
lantas menjelma sebagai Union Sosialiste des Forces Popularies. 
Jabiri muda bahkan termasuk dalam deretan kader militan bagi partai 
USFP ini.
> 
> Nah, perbedaan yang saya maksudkan disini adalah, Gus Dur, paling 
tidak dalam asumsi saya,  menjadikan ideologinya yang brilian itu 
hanya sebatas sebagai relasi sosial. Hal inilah yang dalam bahasa 
Hassan Hanafi telah mengerangkeng Gus Dur dalam konflik-konflik 
politik yang kerap kontra produktif bagi pembumian gagasan pemikiran 
atau ideologinya.
> 
> Lain halnya, jika Gus Dur memposisikan ideologinya layaknya sikap 
yang diambil para pemikir Arab Modern dan Kontemporer. Sepemahaman 
saya, para pemikir Arab semodel Hassan Hanafi, Jabiri atau Nashr 
Hamid menempatkan ideologi mereka sebagai proyeksi rasional. Ini 
lantas mengapa, gagasan-gagasan mereka menuai apresiasi dan terkesan 
rapi serta matang, juga terencana. Berkebalikan dengan Gus Dur, yang 
konsepnya selalu memunculkan kesan acak-kadut, zig-zag dan tak mudah 
dipahami.
> 
> Tentang buku al-Jabiri yang kamu sebut itu, kawan-kawan Lakpesdam 5 
bulan yang lalu telah membedahnya secara serius. Bahkan ketika abah 
Robith belum pulang ke Indonesia. Biarlah tema yang berbau Qur'an 
menjadi bidang garap Gus Irwan saja. Saya sungkan untuk 
melangkahinya. Saya takut tak mendapat doa kelulusan darinya.
> 
> Salam,
> 
>  
> Muhammad Mawhiburrahman
> Faculty of Theology 
> Department of Creed and Philosophy
> Al-Azhar University Cairo
> http://www.mmawhib.blogspot.com
> --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---
> 
> ----- Original Message ----
> From: Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Sunday, April 6, 2008 3:44:44 AM
> Subject: [kmnu2000] Re: tentag GD, buku baru Hasan dan Jabiri
> 
>                 Muhib,
> 
> Pemikiran, ideologi dan bahkan agama (tepatnya pemahaman agama) 
tidak
> ada salahnya (atau bahkan harus) diperjuangkan melalui 
politik...Tanpa
> harus mengatasnamakan Tuhan sehingga yang terjadi adalah penindasan
> manusia atas nama Tuhan. 
> 
> Pemikir-pemikir Mesir itu banyak yang aktif di politik.
> Pemikir-pemikir Marxis afiliasinya ke partai-partai sosialis seperti
> Khalil dan Rif'at Said. Termasuk Hassan dulu pernah di IM. 
> 
> Sering-sering lah kamu ke Ammu Hasan dan mungkin Jamal Al Banna. Di
> Indonesia jarang saya menemukan pemikir yang ketika diwawancarai 
bisa
>   elaboratif dan mendalam, terutama dalam khazanah Islam klasik.
> 
> Makanya, saya kangen suasana wawancara dan seminar-seminar dengan
> tokoh-tokoh besar Mesir itu...;)Di hadapan mereka gairah intelektual
> saya terpuaskan meski hanya banyak mendengar.
> 
> Saya menunggu buku itu. Buku Jabiri yang terbaru, Madkhal Ila Al
> Quran, sudah saya baca meski baru mukaddimah dan saya harus berhenti
> untuk konsentrasi bidang saya.
> 
> Waktu saya wawancara Abu Zayd di Jogja, gagasan Jabiri dalam buku
> terbarunya punya kesamaan dengan Khalafullah. Jika memang benar, apa
> Jabiri menyebut Khalafullah? Abu Zayd bertanya begitu.
> 
> Saya kira teman-teman Lakpesdam sudah waktunya menyambut antusias 
buku
> Jabiri yang baru ini dan mengkajinya perlahan. 
>  
> 
> Salam,
> Anis M 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
______________________________________________________________________
______________
> You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of 
Blockbuster Total Access, No Cost.  
> http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke