Beth,

Saya sepakat dengan tulisanmu yang kamu posting di sini, bahwa pendekatan kalam 
(teologi) memang selalu saja menghasilkan kesimpulan yang tak ramah dan 
simpatik. Lebih-lebih kalau pendekatan kalam sudah bertaut erat dengan fikih. 
Pertautan antara keduanya hanya akan memapankan satu ortodoksi keagamaan atas 
lainnya.Kita tentu bisa mengambil kesimpulan semacam itu dari sejarah Bani 
Seljuk.

Ortodoksi Sunni yang memanfaatkan pendekatan kalam dan fikih sekaligus pada 
akhirnya mampu menempatkan Syi'ah sebagai pihak yang termaginalkan; yang di 
kuya-kuya. Saya pikir al-Ghazali yang hendak kamu bela itu turut andil dalam 
kesewenang-wenangan Bani Seljuk pada kaum Syi'ah. Sekalipun demikian, saya tak 
menutup kemungkinan adanya faktor politik di dalamnya.

Nah, sebelum masuk dalam konteks Ahmadiyyah, ada pertanyaan buat kamu. Fase 
mana dalam kehidupan al-Ghazali yang hendak kamu bela? Apakah fase  dimana 
beliau dengan "pongah" menulis  Fadha'ih al-Bathiniyyah yang provokatif itu?

Beth, tentunya kita tak berharap, kisah pedih antara pengikut Ibn Hanbal dengan 
Asy'arian terulang lagi. Atau cerita kekejaman Ismailiyah yang membantai banyak 
pihak termasuk anaknya al-Juwayni. Dan saya pikir, kita bisa memulainya dengan 
menolak segala ketidakadilan yang tengah menimpa Ahmadiyyah.

So, sebagai salah satu anggota LBMNU, kamu dan Gus Anis bisa bahu-membahu 
merumuskan fatwa baru yang  lebih simpatik buat Ahmadiyyah. Terlebih, fatwa MUI 
sama sekali tak mengikat. Bagaimana?

Salam,

Mawhib
(masih di LAKPESDAM, belum ke LBMNU) 
 
Muhammad Mawhiburrahman
Faculty of Theology 
Department of Creed and Philosophy
Al-Azhar University Cairo
http://www.mmawhib.blogspot.com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---

----- Original Message ----
From: robet qosidi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, April 22, 2008 3:23:15 AM
Subject: [kmnu2000] Mendingan bela al-Ghazali dan Kalijaga daripada Ahmadiyah

                Irwan dan Imam sayang, 

Kalian aja yang bela Ahmadiyah. SDM NU dan kajian para pemikir NU itu harus 
dipelangikan. Biar menghasilkan karya yang produktif, secara kualitas dan 
kuantitas. Aku gak ikut2 an tentang Ahmadiyah. 

Tapi sedikit saja saya ikut rembug. Menurut saya, manusia Indonesia itu 
mempunyai dua identitas, seperti dalam tulisanku akar-akar diskriminasi agama.  
Baik yang warga Indonesia yang beragama tertentu seperti Islam, atau non 
muslim,. atau sekte tertentu Sunah, Syiah, dll. Identitas pertama sebagai 
seorang yang mempunyai keyakinan tertentu. Kedua, identitas sebagai warga 
negara. 

Menghadapi identitas masyarakat yang pertama, Negara harus melindungi segala 
keyakinan. Sedangkan berkenaan dengan identitas kedua, Negara harus 
mensinergikan SDM bangsa untuk membangun peradaban Indonesia. Baik warga yang 
beragama Kristen, Hindu, Budha, kalau ia berpotensi harus digunakan untuk 
kemajuan peradaban. 

Contohnya Rasul tak peduli baik ia kafir atau tidak kalau dia bisa bermanfaat 
untuk bangsa bisa digunakan. Oleh karenanya tawanan kafir Quraisy yang bisa 
baca tulis disuruh untuk mendidik anak warga negara Madinah yang belum bisa 
baca tulis. Begitu juga dengan jaman keemasan Islam, jaman Makmun dan Harun 
Rasyid. Di jaman itu ternyata para ilmuwan dan dokternya banyak yang non 
muslim. Ada yang Kristen Nestor, Yahudi, dll. Seperti para penerjemah karya 
filsafat, Hunain bin Ishaq, Ishaq bin Hunain. Dan dokter2nya semua orang 
'kafir', Jibril Bakhtisyu'. Tanpa membeda-bedakan dan dibeda2 kan, mereka 
bersinergi membangun peradaban Islam. Bagi saya mereka ini sesuai dengan konsep 
Mpu Tantular: ...Bhineka Tunggal Ika,  Tan Hana dharma Mang Roa: Berbeda-beda 
tapi tujuannya satu dan bersatu. Tak ada dharma (kebaikan) yang mendua... Oleh 
karena itu persatuan dalam perbedaan sangatlah penting.

Maka warga negara harus disinergikan bersama untuk kebangkitan sebuah peradaban 
bangsa. Baik Ia Islam, muslim non muslim, sunni dan non sunni. Jadi bagi saya, 
permasalahan yang ada di Indonesia saat ini bermula dari nation building yang 
dilupakan oleh pemimpin kita. Mereka sibuk berpolitik tapi melupakan karakter 
bangsa Indonesia. Saya mendambakan kehadiran orang2 seperti Bung Karno lagi. 

Saya sedang merancang tulisan mengkritisi konsep pluralisme dan mengusung 
konsep "Bhineka Tunggal Ika". Bagi saya ini penting karena dua alasan. Pertama, 
membela persatuan, yang tidak menjadi titik tekan dalam konsep pluralisme. Saya 
melihat akibat dari konsep pluralisme ini akan memunculkan politik multi 
identitas. Seperti kelahiran banyak partai, sekte keagamaan, keegoan etnis, 
dll. Papua mau merdeka, Aceh mau merdeka, maluku mau merdeka, dll. Pluralitas 
seperti ini akan mengakibatkan sesuatu yang negatif. Sebab konsep Bhineka 
Tunggal ika tidak digembar-gemborkan lagi. Orang2 senang berbicara pluralisme 
(Bhineka) tapi lupa pada "tungal ika". Di samping itu, alasan munculnya 
disintegrasi bangsa ini juga karena para pemimpin kita sibuk ingin menjadi 
pejabat yang bergelimang harta, tidak peduli pada persatuan bangsa. 

Urgensi kedua dari rancangan tulisan saya ini agar kita tidak hanya menggali 
kearifan dari Barat seperti pluralisme, tapi juga dari dalam Indoensia sendiri. 
Seperti penggalian konsep2 dalam kitab2 jawa, seperti Negara Kertagama, dan 
juga serat2 Darmogandul, Gatolotcho, Wirid Hidayat Jati, atau kidung, macapat, 
seperti kidung Rumeksa Wengi karya Sunan Kalijaga.

Saya pikir ada satu konsep yang menarik untuk dikaji dalam kidung Sunan kali 
ini, berkenaan dengan problem disintegrasi bangsa san pertikaian antar sekte 
agama. Dalam salah satu baitnya Sunan kali mengulas tentang Hadits,...al- Ain 
Haq. Bahwa mata itu mempunyai daya  magis, yang bisa mendatangkan kemudlaratan 
dan juga kemaslahatan. Rasionalisasinya dengan pandangan mata yang menghina, 
orang akan terpengaruh psikologinya untuk down atau marah. Dengan mata yang 
asih bisa mempengaruhi munculnya perangai yang baik pula. Tidak hanya itu mata 
asih mampu membuat segala mudlarat berupa kejahatan makhluq2 tuhan akan 
menghindar. Dalam  tembangnya Sunan kali mengatakan: Sakeh ngama pan sami 
mirunda Welas asih pandulune. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. 
Begitu pula dengan mata kasih, kita berusaha untuk menghindari kekerasan antara 
Banser dan FPI, dan antar NU dan Ahmadiyah. 

Ya, itu saja yang bisa saya lakukan Irwan. Tapi saya sendiri sedang merancang 
tulisan untuk membela al-Ghazali, Kalijaga, dkk. Sebab aku kasihan sama beliau, 
khususnya Imam al-Ghazali. Terutama karena beliau dilukiskan gundul, padahal 
itu bukan gambarnya beliau. Sungguh kasihan Imam al-Ghazali. He he. 

Salam Asih
Robith Qoshidi










      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke