Ihya: Lebih Arif Jika SKB Ditunda
GEBANG-Satu-satunya solusi terbaik bagi pemerintah dalam mengatasi pro-kontra
keberadaan jemaat Ahmadiyah adalah membatalkan dikeluarkannya Surat Keputusan
Bersama (SKB) antara Jaksa Agung, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri.
Seperti diungkapkan Dosen Sosiologi Universitas Indonesia (UI) H Muhammad Ihya.
Menurutnya, penundaan dikeluarkannya SKB tentang Ahmadiyah tersebut menunjukkan
kearifan pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut.
“Harapan saya pemerintah tidak mengeluarkan SKB tersebut. Sebab bagaimanapun
juga resikonya jauh lebih kecil dibanding pemerintah tetap mengeluarkan SKB.
Persoalan Ahmadiyah tidak sesederhana seperti yang dipikirkan selama ini. Sebab
didalamnya berkaitan dengan isme atau faham. Meskipun institusinya dibubarkan,
tapi isme ajaran Ahmadiyah akan tetap eksis,” katanya kepada wartawan koran
ini, kemarin (6/5).
Munculnya penolakan terhadap jemaat Ahmadiyah yang menimbulkan gejolak di
masyarakat juga membuktikan fundamentalisme agama sudah menggeliat di tanah air
ini.
“Mereka kelompok fundamentalisme ini merasa dirinya paling benar, sehingga
tidak mau menerima perbedaan faham. Mereka mengkaji Islam tidak secara
kontekstual tapi hanya sebatas normatif saja. Sehingga ketika muncul perbedaan
penafsiran, yang terjadi justru tindakan anarkis. Padahal Islam sangat
menentang kekerasan. Fundamentalisme ini bisa menjadi ancaman bagi persatuan
dan persaudaraan umat Islam di Indonesia,” sindirnya.
Masih menurut dia, sebagai masyarakat beragama, jemaat Ahmadiyah masih
menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Islam Sunni
pada umumnya seperti salat, dan mengakui kitab Alquran.
“Hanya saja Ahmadiyah punya penafsiran lain soal Nabi itu sendiri. Lalu siapa
yang boleh melarang. Sama halnya seperti kita punya penafsiran berbeda kepada
mereka. Lalu apa hak kita untuk melarang Ahmadiyah. Semuanya adalah otoritas
Allah SWT. Dalam Islam dijelaskan bahwa hukum itu senantiasa berputar sesuai
adanya sebab atau tidak adanya sebab. Jadi tidak ujug-ujug. Islam harus membumi
tidak hanya melangit,” tukas tokoh ulama dari Gebang Kulon ini.
Meski secara prinsip kalangan Sunni (Nahdliyin) tidak pernah sepakat dengan
Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi, namun jemaat Ahmadiyah tidak pernah merusak
ideologi masyarakat Sunni. Ini menandakan bahwa perbedaan dalam Islam
benar-benar menjadi sebuah rahmah tanpa menimbulkan permusuhan atau
pengrusakan.
“Kita harus berani melakukan perluasan dakwah. Kalau di Indonesia dimasuki
ajaran Islam yang fundamentalisme ini, tidak mungkin pulau Jawa akan menjadi
pusat Islam di dunia. Mari belajar Islam secara utuh dan tidak hanya tekstual
tapi kontekstual sehingga tidak mudah “angkat senjata” untuk menghabisi orang
lain yang tidak sefaham. Tidak mudah mengkafirkan dan membid’ahkan orang lain
lantaran berbeda faham,” tandasnya. (dik)
Sumber: http://radarcirebon.com.
Marzuki Rais
Fahmina-institute
Jl. Suratno No. 37 Cirebon Jawa Barat.
Telp. 0231-203789 Hp. 08159829766
email; [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
website: fahmina.org.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ