Masa kita harus mundur lagi ke belakang, ke abad pertengahan. Sekarang zamannya
"mikir" (tafkir), bukan meng-kafir2kan (takfir). Untuk apa kita harus
menghabiskan energi hanya untuk meneliti aliran tertentu sesat/tidak, sementara
kita sendiri tidak pernah meneliti apakah kita berada dijalur yang benar atau
sudah melenceng jauh. Dasar gak ada kerjaan...!!!
Ahmad Badrudduja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ya kesasar kan menurut
kita. Wong dia yakin naik bus yang benar dan akan sampai ke Surabaya kok, mosok
kita paksa dia keluar dari bus itu. Biarin aja, he he he...
Yang penting kita tunggu aja di terminal Bungur Ashih: apakah betul ndak bus
Ahmadiyah sampai sana atau tidak? Apakah betul bus Ahlusunnah wal Jamaah sampai
sana atau tidak?
Jangan-jangan di Bungur Asih "nanti", ada banyak banyak bus. Ada bus Ahmadiyah,
Syiah, Ahlussunnah, Mu'tazilah, Khawarij, dsb.
Artinya: jangan-jangan banyak bus yang bisa menuju Bungur Asih, he he he....
Ada bus Indonesia, ada Akas, ada Giri Indah, ada Budi Jaya, dll.
AB
Muhammad Kholil Hamzah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kalo kesasarnya sendiri dan
mau diingatkan sih nggak masalah, tapi kalo
sudah nggak mau diingatkan kalo salah, eh, malah ngajak orang untuk
kesasar juga. :-p
amint - wrote:
>
>
> mari kita sama sama baca dan renungi tulisan gusmus di
> webnya beliau tentang "salah jalan"
>
> Ketika orang dari Pasuruan mau ke Jakarta
> kemudian "kesasar" ke surabaya
> apakah harus kita pukuli rame rame dan di nyatakan
> gila.
Ahmad Badrudduja
Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi
Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
-- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]