Jurnal Sairara:
KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
4
Rara, mungkin dengan tulisan ini, kau katakan aku mendewakan Sitor. Jika
benar demikian anggapanmu, maka kau jadi salah. Tak ada dewa dan tabu dalam
pengembaraan spiritualitasku. Kalau aku bercerita tentang Sitor, tentang
Goenawan Mohamad, tentang Willy [Rendra], dan siapa lagi, aku bercerita dengan
maksud menunjukkan bahwa mereka ada dalam sejarah sastra negeri kita dan telah
memberikan yang mereka bisa sumbangkan. Mengapa tidak kita belajar dari mereka,
belajar dari kelebihan dan kekurangan bahkan kesalahan mereka agar kita bisa
melangkah lebih tegar menyongsong esok dan esok lagi sebagaimana yang dikatakan
oleh Chairil Anwar yang meninggal sebelum mencapai usia 30 tahun, bahwa:
"Semua patut dicatat, semua dapat tempat". Dewa, bagiku sejenis penjara bagi
pengembaraan spritualitas. Dewa adalah lawan dari kebebasan mencari dan
penyair --walau pun aku bukan seorang penyair. [Dan saat membaca baris
informatif terakhir ini , kubayangkan kau tersenyum geli karena tidak mau
ngakak.Sudah hapal akan jawabanku jika berucap menyanggah atau berkomentar ].
Dewa dan acuan adalah dua hal yang berbeda. Acuan adalah sikap keterbukaan
pikir dan mental. Sikap yang menyediakan ruang luas bagi kebenaran dan
keunggulan orang lain. Sikap yang tidak menganggap dirinya adalah manusia supra
[über mensch], tapi sebagai "rengan tingang nyanak jata [anak enggang
putera-puteri naga], juga sekaligus merupakan sikap dan pandangan "sejarah
obyektif" jika menggunakan istilah Mohamad Arkoun, islamolog Perancis asal
Aljazair ketika membahas masalah penulisan sejarah dan tipe sejarah.
Sebelum membacakan sajak-sajaknya, Sitor selalu memberikan pengantar pendek
tentang puisi yang akan dibacanya. Dari semua pengantar-pengantarnya ini, ada
dual hal yang menarik perhatianku, yaitu ketertarikan pada filosofi India dan
kemudian ketika ia berkata:
"Kali ini saya akan membacakan sebuah sajak erotik". Sajak "erotik" yang
terdapat dalam antologi "Biksu Tak Berjubah".
Pengantar singkat ini menarik perhatianku dalam hubungan yang disebut "sastra
sms" [sastra mengenai selangkang], "sastra wangi", pornografi yang
sampai-sampai diundang-undangkan.
Dengan pengantar pendek ini, kudapatkan Sitor, bukan orang yang menentang
penggarapan tema-tema erotik. Justru juga menulis puisi-puisi erotik Tema
erotik tidak otomatis menjadi pornografis. Apa sih yang disebut porno itu?
Apakah porno identik denga penulisan tentang persetubuhan? Akankah kehidupan
bisa berlanjut tanpa persetubuhan? Tapi soal ini bukan masalah yang ingin
kutelusuri lebih jauh. Dari pengantar singkat Sitor di atas, aku melihat bahwa
penyair bisa menulis tema apa saja, termasuk tema yang disebut erotis.
Masalahnya terletak pada bagaimana ia menggarap tema erotis itu. Dengan
demikian, apriori anti tema erotisme, barangkali suatu sikap yang prematur dan
tergesa-gesa. Sok alim padahal dalam kenyataan praktis, si- sok alim itu
melakukan juga hal-hal yang erotik. Padahal dengan melakukan hal-hal erotik si-
sok alim juga beranak-pinak. Karena itu masalah erotisme, niscayanya
ditempatkan pada tempatnya secara layak, tanpa sikap mutlak-mutlakan.
Sastra-seni,
bagiku adalah seluas dan serumit kehidupan. Kalau kita membaca "Biksu Tanpa
Jubah", agaknya Sitor pun sealur dengan pandangan ini. Sajak erotik memang
terdapat dalam antologi ini, tapi selain tidak dominan, cara penggarapannya pun
tertakar.
Tentang soal ini, jika mau dikembangkan dan dibicarakan, tentu akan
merupakan masalah yang bisa diperbincangkan secara panjang lebar dengan segala
acuan dari dalam dan manca negara. Yang ingin kupertanyakan dengan baris-baris
ini: Apakah dalam menghadapi soal apapun , termasuk masalah sastra erotis,
tidak akan lebih baik kita lebih teliti dan terbuka. Tidak berangkat dari
premis umum, tapi kongkret dan analitis. Mampu mendengar, mampu menyediakan
tempat bagi kebenaran orang lain, mampu bernalar, mampu mengacu, dengan arah
tunggal memanusiawikan diri, manusia, kehidupan dan masyarakat.
Maaf Rara, maaf. Aku khoq lagaknya tiba-tiba secara tak sadar seperti berdiri
di depan ruang kuliah. Padahal aku hanya seorang pelajar kecil di dunia
sastra-seni yang kusukai ini. Padahal aku cuma seorang pekerja biasa pada
sebuah Koperasi Restoran Indonesia di Paris yang oleh orang Indonesia sering
dipanggil dengan menggunakan gerak telunjuk karena merasa diri berduit -- suatu
cara memperlakukan sesama berdasarkan keadaan basis ekonomi tertentu, dan
ketidakpahaman akan makna serta saling hubungan antara kerja otak dan kerja
badan. Mereka tidak sadar dari mana dan bagaimana duit di kocek mereka itu
tiba. Mereka pada galibnya dengan gerak telunjuk mereka mengakui bahwa mereka
adalah budak duit tapi tidak sadar bahwa mereka adalah budak tanpa nurani
manusiawi yang anti puisi. Puisi yang pada dasarnya adalah manusiawi dan
berkomitmen manusiawi. Dari cara memanggil dengan gerak jari telunjuk ini
pun, aku melihat betapa tidak gampangnya menjadi manusia yanv manusawi.
Menjadi kacung dan jongos secara mentalitas, sekalipun berjas berdasi sangat
jauh lebih mudah daripada menjadi manusiawi. Salah satu perujudannya adalah
menilai manusia dari pakaiannya. Dari penampilannya -- sekalipun penampilan
yang tidak hakiki. Puisi berurusan dengan hakekat, bukan penampilan.
Sitor pun mengolah tema-tema erotik. Ia tidak mentabukan tema ini, karena
erotik merupakan bagian darikehidupan manusia normal. Sehubungan dengan tema
penulisan itu, pada saat kami berdua saja, aku tanyakan mengapa dalam "Sitor
Dalam Sajak", puisi-puisinya yang terkumpul di antologi "Zaman Baru" tidak
diikutsertakan? Antologi "Zaman Baru" adalah puisi-puisi Sitor yang ia tulis
setelah pulang dari kunjungannya ke Republik Rakyat Tiongkok. Inti pertanyaanku
ini terutama terletak pada keinginan tahu, bagaimana Sitor menilai kembali
puisi-puisinya di "Zaman Baru" itu, sekaligus untuk melihat dan mengenal Sitor
setelah Tragedi Nasional September 1965. Kebetulankah atau tidak disadari
peniadaan puisi-puisi "Zaman Baru" pada "Sitor Dalam Sajak" yang disebut
kumpulan lengkap puisi-puisi Sitor ini? Jika pertanyaan ini diteruskan maka
kita akan sampai ke pertanyaan: Apakah yang disebut puisi. Selanjutnya kita
akan bersentuhan dengan persoalan estetika dari segi filsafat. Betapa
pun juga, "Zaman Baru" pernah ada dan tetap ada . Tidak akan bisa dihapuskan
dan apalagi ditiadakan. Sebagai antologi, "Zaman Baru" menempuh perjalanan
hidupnya sendiri, sebagaimana dirinya sendiri.
Dalam perjumpaan singkat kami kali ini, Sitor tidak sempat menjawab
pertanyaanku mengenai "Zaman Baru"nya. Nampak padaku, ia berusaha keras
mengumpulkan kembali seluruh ingatan yang berserakan di sepanjang lika-liku
hidupnya -- lika-liku yang kadang bertikungan tajam lipat siku, bahkan
bertaruhkan kepala.
Paris, Mei 2008
---------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
[Bersambung......]
Keterangan foto:
Sitor Situmorang sedang membacakan puisi-puisinya dalam antologi ''Biksu Tak
Berjubah"di Koperasi Restoran Indonesia, Paris [Dari: Dok.JJK].
Foto Sitor Situmorang di Praha 195, diambil dari Dok. Tahir Pakuwobowo yang
dikirimkannya kepadaku].
Sitor Situmorang di Praha,1965.
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]