Benar gus. Jika menggunakan termonologi konservatif, kita mungkin 
mengatakan bahwa Ahmadiyah sesat. Tapi, mereka tetap punya hak, baik 
hak itu hidup sbg warga Indonesia maupun sebagai manusia utk 
berteologi sendiri. Hak mereka ini yang harus dibela. 

Gus, rame-rame soal Ahmadiyah ini, saya terkesan dengan gembong-
gembong PKS yang banyak di antara mereka lebih memilih tiarap. Tidak 
mau tenggelam di antara mengklaim sesat, membubarkan, atau membela. 
Pinter tenan memanfaatkan situasi. Padahal, dari istana justru 
bingung luar biasa. Soal SKB, istana maju kena mundur kena. Semoga 
saja SKB tidak jadi dikeluarkan. Tapi, mgkn dikeluarkan namun 
materinya sangat berbeda dari yang diduga masyarakat. 

Masalah Ahmadiyah ini, gus, maaf saja saya belum sempat banyak 
membaca mailing netter di sini. Saya ingin mengingatkan bahwa sebagai 
warga NU tidak tdk patut melakukan pelarangan ini, atau hanya 
menyesatkan saja. Saya ingat dg kenyataan warga (atau akidah) NU yang 
disesat-sesatkan ulama Saudi. Aku pikir, kalau aku tidak rela dgn 
keadaan itu, mana mungkin aku memperlakukan itu kepada Ahmadiyah? 

Jadi, soal sesat menyesatkan, orang NU telah memiliki pengalaman 
sendiri bagaimana NU disesatkan, dikafirkan, dsb, so sebaiknya kita 
kalau tidak bisa membela Ahmadiyah ya diam saja (tapi diam juga bisa 
dituduh membenarkan pengrusakan-pengrusakan...?). Baru di-Bid'ahkan 
saja mangkele pol, apalagi rumah dibakar. Wow, I really can't dream 
it.  

Gus, Syaikhuna dari Leteh, kemarin cerita, beliau sms ke Pak SBY, Ny 
SBY, Menag, Pimpinan DPR/MPR, dan pejabat-pejabat tinggi lainnya, 
secara tegas minta supaya SKB dibatalkan. Lebih banyak madharatnya, 
dari pada mangfaatnya, kata beliau. Biasanya, Pak SBY atau Ny selalu 
membalas sms beliau. Tapi, soal SKB ini, baik pak SBY, Ny, bahkan 
Menag pun tidak membalas. Ya, ada 2 kemungkinan kenapa tidak 
membalas, pertama mungkin ngotot utk tetap mengeluarkan SKB, atau 
mungkin keder, dan bingung di kantornya masing-masing. 

Tanpa ada SKB saja sudah terjadi pengrusakan-pengrusakan, apalagi 
kalau SKB itu keluar dan dgn jelas terlulis sbg jamaah "terlarang", 
wah itu tidak bisa aku bayangkan efeknya. Masyarakat sekarang sdh 
sumpek, malah di-rasuki kebijakan2 seperti itu. Apalagi, ini ada 
masalah BBM yg mau naik. Pemerintahan SBY yang sdh tdk populer 
(pemimpin mmg harus berani ambil kebijakan tak populer ya gus?). 
Tidak penting SBY populer apa tidak, tapi SKB tdk perlu dikeluarkan. 

Di Rembang tidak ada Ahmadiyah, gus. Atau mgkn ada tapi tdk 
terdeteksi. Cuman, sampean tahu kan, di Rembang ini, atau 
tetangga "desa" saya, ada seorang "kiai" yang sukanya bengak-bengok 
menganggap orang lain sesat dan kafir. Kira2, kalau SKB keluar, maka 
ini akan menjadi materi utama kampanye PKNU ha ha ha... Gus Dur 
kafir, Hasyim Muzadi kafir, semua yg tdk gabung ya kafir .. 

Gus, ada sekelompok umat NU yang msh sulit membedakan antara membela 
hak-hak hidup dan hak berakidah bagi warga Ahmadiyah, dengan 
membenarkan (dlm arti tashdiq) atas faham mereka. Saya mungkin tegas 
untuk mengatakan bahwa beberapa elemen paham Ahmadiyah berbeda dg apa 
yang menjadi mainstream umat Islam. Namun, biarkan saja mereka hidup, 
beribadah, membangun sekolah, masjid dan sebagainya. Jangankan 
Ahmadiyah ya gus, orang Shinto, Yahudi, dan kepercayaan-kepercayaan 
suku pedalaman Afrika pun kalau mau buka "agency" di Indonesia ya 
monggo-monggo saja. Toh, agama-agama besar di Indonesia semuanya juga 
impor. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, ... mana yang asli 
produk lokal? Itu semuanya impor dari berbagai negara, to. Bahkan 
kepercayaan sekatenan di Solo, itu tidak asli Jawa. Kalau tidak 
percaya, tanya saja sama Mbak Ntis yang cantik itu... 

Kalau UU kita meminta agama harus dicatat di KTP, ya semua agama yang 
saya sebutkan tadi disebutkan saja. Lebih dari itu, di Depag buatkan 
saja Dirjen-Diren atau Irjen-Irjen yang mengurusi agama-agama itu. 
Biar di Depag sana rame. Biar judheg-kah? Mungkin. Sampean harus 
tahu, gus. Di tanah air ini makin banyak berita yang tidak menarik. 
There are so many popular news, kata Mbak Ntis. Soal SMS santet, 
yaitu santet via SMS :-), lalu berita hari ini; MUI Jateng dapat 
kiriman surat yang pengirimnya mengatasnamakan Malaikat Jibril. Tapi, 
saya selalu ingat pesan Syaikhuna kok gus; sabar wae, kuwi kabeh liku-
likune dunya. Ya, besok menyang akhirat mugo-mugo selamet kabeh amin. 

Gus, omong-omong, gimana kabar Mesir? 

Wassalam,


Tom



--- In [email protected], "Abdul Ghofur" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Mas Fadlolan,
> 
> Klaim terhadap kelompok lain sebagai "kafir", tidak berarti 
memberangus 
> hak-haknya. Dalam teologi konservatif, klaim kafir dan sesat adalah 
hal yang 
> lumrah. Imam Ghozali sendiri mengkafirkan sebagian filsuf.
> 
> Memang, sangat baik untuk menghindari klaim-klaim tersebut. Karena 
> bagaimanapun itu menyakitkan. Saya berprasangka, bahwa Ahmadiyah 
yang sering 
> dikafirkan oleh kelompok lain akan belajar dari pengalamannya, tapi 
ternyata 
> masuk juga pada sistem yang sama.
> 
> salam ta'dzim,
> 


Kirim email ke