Mas Luth, Terimakasih info2nya.
Di Mesir, saya tidak pernah mendengar ada Jemaat Ahmadiyah. Kalau pengikutnya mungkin ada satu dua. Al-Azhar sendiri, sudah dua kali secara resmi mengkafirkan mereka. Yang pertama pada masa Imam Gadil Haq, dan yang kedua pada masa Imam Thanthawi sekarang. Pemerintah Mesir juga telah menyetop penayangan tivi Ahmadiyah (MTA) melalui satelitnya, Nilesat. MTA hanya mampu tayang beberapa bulan saja, sebelum akhirnya diprotes oleh umat Islam dan Kristen secara bersama-sama. Keberatan umat Kristen karena MTA mereka anggap menayangkan hujatan-hujatan atas keyakinan Kristiani. Mirza Ghulan Ahmad adalah Nabi Isa dan Imam Mahdi sekaligus. Salah satu tugas pentingnya adalah "memecah salib". Karena itu salah program utama MTA adalah membongkar kesalahan akidah Kristen mengenai penuhanan dan penyaliban Nabi Isa AS. Kata Mirza: "aku akan melumpuhkan doktrin salib. Untuk itulah aku telah diutus", lalu lanjutnya: "untuk memecahkan salib dan membunuh babi." Di luar persoalan Ahmadiyah, ada kabar cukup menarik yang oleh media massa Arab sering dikaitkan dengan tokoh feminisme sampean: Jeng Nawal Sa'dawy. ِApril lalu, parlemen Mesir mengesahkan undang-undang nasab seorang anak kepada ibunya. Sudah cukup lama Nawal ingin mengganti namanya menjadi Nawal 'Zainab' Assa'dawi, dengan mencantumkan nama ibunya setelah namanya. Bagi dia, nasab adalah pilihan. Di Mesir, seperti sampean tahu, nama seorang adalah tiga rangkai, nama asli, nama bapak, dan nama kakek. Di kantor pencatatan sipil ada larangan mengajukan nama murakkab, seperti Ahmad Said, Mohammad Salim, atau yang linnya. Kalau ada nama Ahmad Razaq Paijo, sudah pasti Ahmad adalah nama asli, Razaq nama orang tua, dan Paijo nama kakek. Tapi jangan keburu senang dulu, dan Jeng Nawal pasti akan marah besar dengan undang-undang baru ini. Pasalnya, undang-undang itu hanya untuk anak yang tidak jelas ayahnya, atau yang sering dengan salah disebut dengan 'anak haram'. Jadi kalau ada anak dengan nama seorang perempuan setelah nama asli, harus hati2, karena boleh jadi dia tidak jelas siapa bapaknya. Undang-undang ini telah menuai kritik besar. Nama perempuan setelah nama asli, dengan adanya undang-undang tersebut, justeru akan menjadi nuktah hitam pada anak, jauh dari apa yang diperjuangkan oleh Jeng Nawal. Mungkin kali ini kita harus mendengarkan khutbah Jeng ًWafa Sulthan: "Tak pernah ada Anak Haram, yang ada hanyalah Orang Tua Haram". ta'dzim, --- In [email protected], "Muhammad Luthfi Thomafi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Benar gus. Jika menggunakan termonologi konservatif, kita mungkin > mengatakan bahwa Ahmadiyah sesat. Tapi, mereka tetap punya hak, baik > hak itu hidup sbg warga Indonesia maupun sebagai manusia utk > berteologi sendiri. Hak mereka ini yang harus dibela. > > Gus, rame-rame soal Ahmadiyah ini, saya terkesan dengan gembong- > gembong PKS yang banyak di antara mereka lebih memilih tiarap. Tidak > mau tenggelam di antara mengklaim sesat, membubarkan, atau membela. > Pinter tenan memanfaatkan situasi. Padahal, dari istana justru > bingung luar biasa. Soal SKB, istana maju kena mundur kena. Semoga > saja SKB tidak jadi dikeluarkan. Tapi, mgkn dikeluarkan namun > materinya sangat berbeda dari yang diduga masyarakat. > > Masalah Ahmadiyah ini, gus, maaf saja saya belum sempat banyak > membaca mailing netter di sini. Saya ingin mengingatkan bahwa sebagai > warga NU tidak tdk patut melakukan pelarangan ini, atau hanya > menyesatkan saja. Saya ingat dg kenyataan warga (atau akidah) NU yang > disesat-sesatkan ulama Saudi. Aku pikir, kalau aku tidak rela dgn > keadaan itu, mana mungkin aku memperlakukan itu kepada Ahmadiyah? > > Jadi, soal sesat menyesatkan, orang NU telah memiliki pengalaman > sendiri bagaimana NU disesatkan, dikafirkan, dsb, so sebaiknya kita > kalau tidak bisa membela Ahmadiyah ya diam saja (tapi diam juga bisa > dituduh membenarkan pengrusakan-pengrusakan...?). Baru di-Bid'ahkan > saja mangkele pol, apalagi rumah dibakar. Wow, I really can't dream > it. > > Gus, Syaikhuna dari Leteh, kemarin cerita, beliau sms ke Pak SBY, Ny > SBY, Menag, Pimpinan DPR/MPR, dan pejabat-pejabat tinggi lainnya, > secara tegas minta supaya SKB dibatalkan. Lebih banyak madharatnya, > dari pada mangfaatnya, kata beliau. Biasanya, Pak SBY atau Ny selalu > membalas sms beliau. Tapi, soal SKB ini, baik pak SBY, Ny, bahkan > Menag pun tidak membalas. Ya, ada 2 kemungkinan kenapa tidak > membalas, pertama mungkin ngotot utk tetap mengeluarkan SKB, atau > mungkin keder, dan bingung di kantornya masing-masing. > > Tanpa ada SKB saja sudah terjadi pengrusakan-pengrusakan, apalagi > kalau SKB itu keluar dan dgn jelas terlulis sbg jamaah "terlarang", > wah itu tidak bisa aku bayangkan efeknya. Masyarakat sekarang sdh > sumpek, malah di-rasuki kebijakan2 seperti itu. Apalagi, ini ada > masalah BBM yg mau naik. Pemerintahan SBY yang sdh tdk populer > (pemimpin mmg harus berani ambil kebijakan tak populer ya gus?). > Tidak penting SBY populer apa tidak, tapi SKB tdk perlu dikeluarkan. > > Di Rembang tidak ada Ahmadiyah, gus. Atau mgkn ada tapi tdk > terdeteksi. Cuman, sampean tahu kan, di Rembang ini, atau > tetangga "desa" saya, ada seorang "kiai" yang sukanya bengak-bengok > menganggap orang lain sesat dan kafir. Kira2, kalau SKB keluar, maka > ini akan menjadi materi utama kampanye PKNU ha ha ha... Gus Dur > kafir, Hasyim Muzadi kafir, semua yg tdk gabung ya kafir .. > > Gus, ada sekelompok umat NU yang msh sulit membedakan antara membela > hak-hak hidup dan hak berakidah bagi warga Ahmadiyah, dengan > membenarkan (dlm arti tashdiq) atas faham mereka. Saya mungkin tegas > untuk mengatakan bahwa beberapa elemen paham Ahmadiyah berbeda dg apa > yang menjadi mainstream umat Islam. Namun, biarkan saja mereka hidup, > beribadah, membangun sekolah, masjid dan sebagainya. Jangankan > Ahmadiyah ya gus, orang Shinto, Yahudi, dan kepercayaan-kepercayaan > suku pedalaman Afrika pun kalau mau buka "agency" di Indonesia ya > monggo-monggo saja. Toh, agama-agama besar di Indonesia semuanya juga > impor. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, ... mana yang asli > produk lokal? Itu semuanya impor dari berbagai negara, to. Bahkan > kepercayaan sekatenan di Solo, itu tidak asli Jawa. Kalau tidak > percaya, tanya saja sama Mbak Ntis yang cantik itu... > > Kalau UU kita meminta agama harus dicatat di KTP, ya semua agama yang > saya sebutkan tadi disebutkan saja. Lebih dari itu, di Depag buatkan > saja Dirjen-Diren atau Irjen-Irjen yang mengurusi agama-agama itu. > Biar di Depag sana rame. Biar judheg-kah? Mungkin. Sampean harus > tahu, gus. Di tanah air ini makin banyak berita yang tidak menarik. > There are so many popular news, kata Mbak Ntis. Soal SMS santet, > yaitu santet via SMS :-), lalu berita hari ini; MUI Jateng dapat > kiriman surat yang pengirimnya mengatasnamakan Malaikat Jibril. Tapi, > saya selalu ingat pesan Syaikhuna kok gus; sabar wae, kuwi kabeh liku- > likune dunya. Ya, besok menyang akhirat mugo-mugo selamet kabeh amin. > > Gus, omong-omong, gimana kabar Mesir? > > Wassalam, > > > Tom > > > > --- In [email protected], "Abdul Ghofur" <abdulghofur1@> > wrote: > > > > Mas Fadlolan, > > > > Klaim terhadap kelompok lain sebagai "kafir", tidak berarti > memberangus > > hak-haknya. Dalam teologi konservatif, klaim kafir dan sesat adalah > hal yang > > lumrah. Imam Ghozali sendiri mengkafirkan sebagian filsuf. > > > > Memang, sangat baik untuk menghindari klaim-klaim tersebut. Karena > > bagaimanapun itu menyakitkan. Saya berprasangka, bahwa Ahmadiyah > yang sering > > dikafirkan oleh kelompok lain akan belajar dari pengalamannya, tapi > ternyata > > masuk juga pada sistem yang sama. > > > > salam ta'dzim, > > >
