Lha NU itu asalnya dari mana kalau tidak dari "trans-nasional", he3

Apa yang dikatakan Pak Hasyim itu benar, tetapi kurang cespleng. Kalau MUI 
dimasuki oleh ideologi transnasional, terus kenapa?

Masalahnya bukan nasional atau trans-nasional. Sekarang ini era globalisasi. 
Kalau NU menutup diri dari pengaruh transnasional, ya akan ketinggalan zaman. 

Yang menjadi soal pada HTI bukan aspek trans-nasionalnya, tetapi membawa 
ideologi khilafah yang bertentangan dengan bentuk negara Indonesia yang oleh NU 
sendiri dikatakan telah final itu.

Menurut saya, salah satu kiai NU yang dengan sungguh-sungguh mengerti soal HTI 
dan berani melakukan kritik sistematis adalah Kiai Ghazali Said dari Surabaya. 
Sayangnya kepakaran dia mengenai masalah ini tidak dimanfaatkan oleh PBNU untuk 
mengkritik ideologi trans-nasional.

Kalau Kiai Hasyim sendiri menurut saya sama sekali kurang kompeten bicara 
mengenai tema ini. Kalau sekedar melempar isu, bolehlah. Tetapi itu tak cukup. 
NU harus melakukan kritik yang sungguh-sungguh terhadap gerakan-gerakan Islam 
seperti HTI itu.

Sayangnya Kiai Ghazali sendiri kurang disukai di kalangan kiai-kiai NU di Jawa 
Timur, apalagi setelah kesertaannya dalam advokasi untuk membela Ahmadiyah 
baru-baru ini.

Kiai semacam Ghazali Said inilah yang dibutuhkan oleh NU sekarang. 

AHMAD

abdulghofur1 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Jangan-jangan, NU sendiri juga sudah dimasuki Islam Transnasional :-)
 
 NU online: 
 
 PBNU: MUI Telah `Dimasuki' Kelompok Islam Transnasional
 Sabtu, 17 Mei 2008 09:30
 Jakarta, NU Online
 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi
 menyatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah `dimasuki' orang-orang
 dari kelompok Islam berhaluan transnasional (gerakan politik
 antarnegara). Hal itu terjadi saat era reformasi dan ideologi dari
 luar dibiarkan bebas masuk ke Indonesia.
 
 Sejak saat itulah, kata Hasyim, bangsa Indonesia, khususnya umat
 Islam, mulai mengenal gerakan Islam liberal dan Islam garis keras.
 "Mulai itulah, kita mengenal, misal, Jaringan Islam Liberal, Al-Qaeda,
 Majelis Mujahidin, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan sebagainya,"
 terangnya.
 
 Hasyim mengungkapkan hal itu saat menerima 40 pastur se-Indonesia yang
 tergabung dalam Unio Indonesia di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya,
 Jakarta, Jumat (16/5) kemarin.
 
 Presiden World Conference on Religions for Peace itu menjelaskan,
 masuknya gerakan Islam transnasional itu jelas sangat berpengaruh pada
 MUI. Pasalnya, ia mengakui, akhir-akhir ini lembaga independen
 tersebut kerap mengeluarkan keputusan terkait masalah agama yang
 kontroversial.
 
 Akibat masuknya kelompok Islam transnasional itu pula, ungkapnya, MUI
 menjadi seakan-akan tak memahami keberagaman yang ada di negeri ini.
 Demikian pula seolah tak mengerti bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar
 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibangun atas dasar
 keberagaman itu.
 
 "MUI sekarang menjadi `pelangi' (baca: terdiri dari beragam kelompok
 Islam). MUI tidak seperti dulu yang hanya dihuni NU dan Muhammadiyah.
 Kalau dulu, MUI tidak ada masalah dalam menyelesaikan masalah bangsa,
 terutama yang berkaitan dengan agama," jelas Pengasuh Pondok Pesantren
 Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu.
 
 Menurutnya Hasyim, kelompok Islam transnasional itu tidak akan menjadi
 masalah jika mereka tak mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan
 gerakan politik yang berkembang di negara asal. "Masalahnya, mereka
 juga bergerak sebagai gerakan politik, tidak murni mendakwahkan Islam
 sebagai ajaran," pungkasnya. (rif)
 
 
     
                                       

       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke