Jangan-jangan, NU sendiri juga sudah dimasuki Islam Transnasional :-)

NU online: 

PBNU: MUI Telah `Dimasuki' Kelompok Islam Transnasional
Sabtu, 17 Mei 2008 09:30
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi
menyatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah `dimasuki' orang-orang
dari kelompok Islam berhaluan transnasional (gerakan politik
antarnegara). Hal itu terjadi saat era reformasi dan ideologi dari
luar dibiarkan bebas masuk ke Indonesia.

Sejak saat itulah, kata Hasyim, bangsa Indonesia, khususnya umat
Islam, mulai mengenal gerakan Islam liberal dan Islam garis keras.
"Mulai itulah, kita mengenal, misal, Jaringan Islam Liberal, Al-Qaeda,
Majelis Mujahidin, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan sebagainya,"
terangnya.

Hasyim mengungkapkan hal itu saat menerima 40 pastur se-Indonesia yang
tergabung dalam Unio Indonesia di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya,
Jakarta, Jumat (16/5) kemarin.

Presiden World Conference on Religions for Peace itu menjelaskan,
masuknya gerakan Islam transnasional itu jelas sangat berpengaruh pada
MUI. Pasalnya, ia mengakui, akhir-akhir ini lembaga independen
tersebut kerap mengeluarkan keputusan terkait masalah agama yang
kontroversial.

Akibat masuknya kelompok Islam transnasional itu pula, ungkapnya, MUI
menjadi seakan-akan tak memahami keberagaman yang ada di negeri ini.
Demikian pula seolah tak mengerti bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar
1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibangun atas dasar
keberagaman itu.

"MUI sekarang menjadi `pelangi' (baca: terdiri dari beragam kelompok
Islam). MUI tidak seperti dulu yang hanya dihuni NU dan Muhammadiyah.
Kalau dulu, MUI tidak ada masalah dalam menyelesaikan masalah bangsa,
terutama yang berkaitan dengan agama," jelas Pengasuh Pondok Pesantren
Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu.

Menurutnya Hasyim, kelompok Islam transnasional itu tidak akan menjadi
masalah jika mereka tak mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan
gerakan politik yang berkembang di negara asal. "Masalahnya, mereka
juga bergerak sebagai gerakan politik, tidak murni mendakwahkan Islam
sebagai ajaran," pungkasnya. (rif)

Kirim email ke