Mas Badru, Saya kira Anda benar, sekarang ini hampir mustahil mencari yang murni: murni Ahlussunnah, murni Mu'tazilah, murni Wahhabiyah, dan murni2 lainnya. Atau bahkan kalimat "murni' itu sendiri memiliki konotasi buruk. Kesannya kolot, lugu, dan tidak nikmat.
Pak Ghozali, yang Anda sukai itu, pernah tinggal di sekretariat KMNU Mesir (sebelum berubah menjadi PCI-NU), ketika mengajukan program doktoral di Universitas Kairo. Dia langganan berbicara ke-Aswajaan di sini. Namun alih2 menanamkan faham Aswaja, yang dia tanamkan justru pembongkaran Aswaja. Saya tidak tahu, apa dia sekarang masih mencintai Pramoedia Ananta Toer. Dia dulu ke Kairo dengan koper penuh novel2 Pram. Ia berkeinginan mengajukan risalah doktoral tentang dia, tapi sayang tidak diterima. Dan yang diterima adalah study tentang Manfaluthy. Di antar berkah Pak Ghozali, kawan2 NU mengenal Pram, dan bisa menikmati Bumi Manusia, Arus Balik, Cerita dari Blora, dan lain2. Terimakasih sekali untuk Pak Kiyai Ghozali. --- In [email protected], Ahmad Badrudduja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Lha NU itu asalnya dari mana kalau tidak dari "trans-nasional", he3 > > Apa yang dikatakan Pak Hasyim itu benar, tetapi kurang cespleng. Kalau MUI dimasuki oleh ideologi transnasional, terus kenapa? > > Masalahnya bukan nasional atau trans-nasional. Sekarang ini era globalisasi. Kalau NU menutup diri dari pengaruh transnasional, ya akan ketinggalan zaman. >
