Mas Basit, Apa yang disampaikan oleh Pak Ustdz itu benar, bahwa hadits 'jihadunnafs' dhaif, sesuai dengan penjelasan para ulama'. Pernyataan Ibn Taymiyah, yang barangkali menjadi rujukannya, cukup keras: "laa ashla lahu", tak bersanad. Menurut dia, "jihad terhadap orang2 kafir adalah amal mulia yang tinggi derajatnya." Artinya, sangat tidak pantas disebut jihad kecil, "aljihaadul ashghaar".
Setidaknya, ada tiga jalur periwayatan dalam literatur Sunny mengenai hadits ini. Ibn Hajar mengutip dua diantaranya: Pertama: riwayat Isa bin Ibrahim -> Yahya bin Ya'la -> Layth bin Aby Sulaim. Kedua: sumber ucapan tersebut adalah Ibrahim bin Aby 'Ablah, seorang ulama besar, akan tetapi dianggap agak pelupa. Dan sumber yang ketiga adalah riwayat yang disampaikan oleh Khatib Al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad: Hasan bin Hasyim -> Yahya bin Abil Ala' (bukan Yahya bin Ya'la, seperti dikutip oleh Ibn Hajar) -> Layth bin Aby Sulaim. Jalur yang kedua menisbahkan ucapan itu kepada Ibrahim bin Aby 'Ablah, bukan kepada Nabi Muhammad. Artinya, status kehaditsannya diragukan. Peristiwanya terjadi ketika sekelompok tentara datang dari perang. Dia mengatakan pada mereka: kalaian telah usai menjalankan perang kecil, lalu apa yang telah kalian perbuat untuk jihab besar? Lalu mereka menanyakan: "Apa itu jihad besar?" Dia menjawab: "jihaadul qalb", memerangi hawa nafsu. (taarikh dimasyq). Menurut saya, Ibrahim bin Aby Ablah tidak membikin istilah tsb dari dirinya sendiri, akan tetapi kemungkinan besar ia mengambilnya dari apa yang telah masyhur saat itu. Namun bagaimanapun, riwaytnya tidak mampu menaikkan status ucapan itu menjadi marfu'. Jalur pertama dan kedua memiliki kemiripan, bahkan Albany menduganya satu jalur saja, dan yang benar adalah jalur pertama, sementara yang kedua merupakan kesalah para penyalin. Demikian: Isa bin Ibrahim -> Yahya bin Ya'la -> Layth bin Aby Sulaim. Hasan bin Hasyim -> Yahya bin Ya'la -> Layth bin Aby Sulaim. Dengan jalur seperti ini, sangat mudah untuk mengklaim kedhaifan hadits, karena Yahya bin Ya'la disepakati sebagai perawi yang sangat lemah. Namun ada kemungkinan justru yang benar sebaliknya, yakni seperti disampaikian oleh Khaatib Albaghdadi dalam Tarikh Baghdad. Seperti ini: Isa bin Ibrahim -> Yahya bin Abil 'Ala -> Layth bin Aby Sulaim. Hasan bin Hasyim -> Yahya bin Abil 'Ala -> Layth bin Aby Sulaim. Sekenario seperti ini ada benarnya, karena dengan demikian, jalur sanad menjadi agak murni "matarantai syiah". Isa bin Ibrahim adalah mawla Bany Hasyim, Sementar Yahya dan Layth adalah dua perawi hadits2 versi Syiah. Dan jika sekenario ini benar, maka status hadits terangkat, minimal mejadi "hasan", karena ketiganya juga diakui status keperawiannya oleh ulama Sunny. Jadi tidak lagi dhaif seperti diklaim oleh ulama2 Sunnya, seperti Ibn Hajar, Imam Suyuthi, Imam Zakariya Al-Anshary, dan Ibn Taymiyah. Demikian kira2 kalau kita merujuk kepada Sunny. Sekarang kita kembali ke Syiah, karena hadits itu ada pada mereka: Dalam Al-Kafy dan Bihaarul Anwar, duku buku penting rujukan hadists2 Syiah, hadits tersebut diriwayatkan melalu jalur: Aly bin Ibrahim -> ayahnya, Ibrahim bin Hayim Aby Ishaq Alqummy -> Alhusayn bin Yazid Annawfaly -> Ismail bin Aby Ziyad Assukuuny -> Aby Abdillah Ja'far bin Muhammad Asshadiq AS. Semua perawi ini bisa diterima, walau tidak semua berstatus "shahih"[1]. Ibrahim bin Hasyim misalnya, seorang perawi "biasa", dan statusnya dalam jarh watta'dil "muhktalaf fih", namun yang raajih adalah diterima. Dalam study hadits versi Sunny, kasus seperti ini juga terjadi khilaf. Allaknawy cendering memilih unutuk menerimanya, terutama jika ada perawi shahih yang bersedia menjadi muridnya. Kemudian Assukuny hanyalah seorang awam, akan tetapi ia memiliki buku yang menjadi rujukannya. Jadi, jika kembali kepada Syiah, maka status hadits adalah valid. salam, ghofur [1] dalam study hatis syiah dikenal peringkat seperti ini: 1- shahih 2- muwatstsaq 3- hasan 4- dhaif. Hadits jihadunnafs masuk dalam kategori ketiga: hasan. --- In [email protected], Abdul Basit <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya sangat sepakat dg tulisan anda dan itu yg sampai sekarang saya yakini. Tapi mohon penjelasan tentang status Hadits tersebut karena dalam sebuah forum yg pernah saya ikuti ada seorang ustadz yg menerangkan bahwa hadits tersebut dhoif yg digunakan untuk memperlemah semangat jihat kaum muslimin untuk berjuang secara fisik. > Terimakasih pencerahannya... > > Wassalam > > > ----- Original Message ---- > From: abdulghofur1 <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Sunday, May 25, 2008 12:56:40 PM > Subject: [kmnu2000] Alhadits Alawwal: "Jihaadun Nafs" > >
