Nahdliyin Jangan Terlibat Konflik dengan FPI 

JAKARTA - Makin meluasnya aksi-aksi menuntut pembubaran Front Pembela Islam 
(FPI) di berbagai daerah yang melibatkan kalangan nahdliyin membuat Pengurus 
Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) gerah. PB NU lantas mengeluarkan instruksi. 
Instruksi nomor 1358/A.II.03/6/2008 itu ditujukan kepada Pengurus Wilayah dan 
Pengurus Cabang NU seluruh Indonesia. 

Melalui instruksi itu, PB NU meminta PW NU dan PC NU menahan diri dan tidak 
melibatkan diri dalam konflik antara massa FPI dan kelompok Aliansi Kebangsaan 
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Sebab, konflik tersebut 
tidak berkaitan dengan NU sebagai organisasi. PW NU dan PC NU diminta waspada 
dan tidak terprovokasi oleh sekelompok orang yang sengaja mengumpankan warga NU 
bentrok dengan massa FPI. Penyelesaian kekerasan yang dilakukan anggota FPI di 
Monas diserahkan kepada pihak berwajib sesuai dengan ketentuan hukum yang 
berlaku.

Instruksi yang ditandatangani Rais PB NU Chotibul Umam, Ketua PB NU Ahmad 
Bagja, dan Sekjen PB NU Endang Turmudi itu juga menyinggung keputusan PB NU 
soal aliran Ahmadiyah. PB NU menegaskan, ulama NU sudah menetapkan Ahmadiyah 
menyimpang dari ajaran Islam. Masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama 
dan berkeyakinan, tapi penodaan ajaran Islam. 

Ketua PB NU Said Agil Siraj menambahkan, pembubaran FPI merupakan wewenang 
penuh pemerintah. Karena itu, PB NU menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut 
kepada pemerintah. 

''Terserah pemerintah. Kalau pemerintah merasa butuh, kalau pemerintah merasa 
perlu, kalau FPI dinilai bermanfaat, ya silakan dibiarkan saja,'' katanya. 

Said Agil menengarai ada yang mendalangi gerakan FPI dan kelompok sejenisnya. 
''Kenapa kelompok kecil seperti FPI seberani itu menantang semua orang. Gus Dur 
(KH Abdurrahman Wahid) disebut. Amien Rais, Adnan Buyung, dan Goenawan Muhammad 
juga disebut. Kenapa? Ada apa ini?'' katanya. 

Menurut Said, dalam setiap tindakan kekerasan di Indonesia, pasti ada yang 
mendalangi serta ada kelompok tertentu yang menjadi target. Hal itu juga 
berlaku dalam insiden Monas yang mengakibatkan beberapa orang luka-luka. 

Apalagi FPI, lanjut Said, merupakan organisasi yang dibentuk penguasa untuk 
mengimbangi gerakan kelompok kiri setelah lengsernya Presiden Soeharto pada 
1998. (tom/mk) 

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=10518

[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/santrikiri
 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke