http://ainuamri.wordpress.com/2007/11/15/keyakinan-keyakinan-al-qadiani-i/
Keyakinan-Keyakinan Al-Qadiani (I) Ditulis pada Nopember 15, 2007 oleh Ainu Amri Tanjung Agar mengerti duduk persoalan secara lengkap, sebaiknya Anda membaca kajian ini dari awal, yaitu sebuah pengantar dari seorang ahli hadis, yang mulia Asy-Syekh Muhammad Yususf al-Banuri, Rektor Jami'ah al-Ulum al-Islamiah Karachi Pakistan dan Amir Jam'iyah Tahfizh Khatmin Nubuwah Pakistan. Berikut ini pengantar beliau. Segala puji hanya milik Allah pemilik alam semesta. Selawat dan salam untuk penutup para nabi, pemimpin kita Muhammad saw., para keluarga, dan segenap sahabat beliau. Umat Islam sejak awal sejarahnya hingga hari ini senantiasa diuji dengan cobaan-cobaan yang besar yang telah menjadi hambatan besar di tengah jalan peningkatan dan penyebaran Islam, bahkan hampir saja meruntuhkan benteng-benteng agama Nabi Muhammad ini sekiranya bukan karena inayah rabbaniyah yang menjaganya, dan mengabadikannya. Al-Khawarij, Syiah, Al-Jahmiyah, Al-Karamiyah, Al-Kadariah, dan seterusnya, seluruhnya adalah cobaan-cobaan yang tersebar di berbagai pelosok dunia dan masih terasa dampaknya hingga hari ini. Namun, Allah SWT senantiasa menjaga para ulama dan para jenius umat ini untuk membela agama-Nya dan menjaga pagar-pagarnya dari serangan ahli kufur dan kesesatan, maka abadilah agama ini dan senantiasa abadi sepanjang lembaran masa dengan jelas dan terang, yang sinarnya menyilaukan mata para penyimpang, para munafikin, dan pembangkang. Di antara cobaan terbesar pada abad-abad terakhir ini ialah munculnya Al-Mirza Ghulam Ahmad al-Hindi dengan konspirasi dan skenario yang detail dan teliti dari pemerintah Inggris pada saat mereka menjajah negeri India, di desa Qadian kecamatan Ghurdas Bur daerah Punjab Timur di India. Dia menyampaikan beberapa pengakuan palsu secara bertahap. Pertama, ia mengaku sebagai mujaddid (pembaru), kemudian ia mengaku sebagai nabi yang tidak membawa syariat, kemudian ia mengaku sebagai nabi dan rasul membawa syariat, menerima wahyu dan wahyu itu seperti Alquran dan mengutip beberapa ayat dari Alquranul Karim dan menerapkannya pada dirinya. Setelah itu ia mengikuti sara-cara kebatinan dan zindik dalam ungkapan-ungkapannya. Ia mengikuti cara-cara Al-Babiyah dan Al-Bahaiyah dalam mengaburkan ucapannya. Kemudian ia mulai meniru mukjizat-mukjizat penutup nabi, Nabi kita saw., maka ia menjadikan masjidnya sebagai masjid Al-Aqsha, dan desanya sebagai Mekah al-Masih, ia menjadikan Lahore sebagai Madinah, dan menara masjidnya diberi nama pemakaman jannah, semua yang dimakamkan di sana adalah ahli surga. Ia telah menghina Isa bin Maryam a.s. dengan penghinaan yang merobek hati, padahal tidak ada seorang nabi pun di dunia ini yang mengafirkan sesame nabi. Ironisnya, ia menyebutkan bahwa pemerintah Inggris adalah naungan Allah di bumi. Ia menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa Al-Qadianiyah adalah pohon yang ditanam oleh Inggris. Aliran ini telah mendatangkan banyak bencana dan ia telah terjerumus di lereng-lereng kufur dan pengingkaran. Cobaan ini pada mulanya kecil, lalu semakin berkembang dan tersebar. Lalu, tampillah para ulama rabbani menghadapi aliran ini dengan pena dan lisan sekuat kemampuan mereka. Di antara mereka yang paling besar pengorbanannya menghadapi aliran ini ialah Imam Maulana Muhammad An-Warsyah al-Kasymiri, kepala guru di Darul Ulum di Duband. Beliau telah menulis beberapa buku dalam bahasa Arab dan bahasa Persia, dan memotivasi rekan-rekan beliau untuk membela Islam secara tertulis dan secara lisan. Beliau menulis buku akidah Islam dalam kehidupan Isa a.s., risalah tentang Tafsir Khatmin Nabiyyin. Beliau juga menulis satu buku tentang ushul fiqh dalam rangka menangkis serangan para penyimpang dengan judul Ikfarul Mulhidin min Dharuriyatid Din. Pengafiran para penyimpang termasuk aksiomatika agama. Beliau menulis buku Kejelasan tentang Mutawatirnya Turunnya Isa al-Masih. Kesimpulannya, menurut para ulama di negeri ini, kekafiran golongan tagut ini sudah sangat jelas, seperti matahari di siang bolong. Pada saat peristiwa ini dan tulisan-tulisan di atas belum sampai ke tangan para ulama di negeri-negeri Arab dan kepada bangsa Arab umumnya. Dan, karena interaksi orang awam terhadap ilmu agama semakin lemah, maka terasa sangat diperlukan tulisan pilihan yang mengumpulkan sejumlah keyakinan-keyakinan orang ini (Qadiani), yang untuk menjelaskan kesesatannya cukuplah dengan menukil ucapan dan tulisannya tanpa tambahan dan tanpa dalil. Rekanku yang mulia, sang dai dan ustad besar Abul Hasan Ali an-Nadawi, telah menulis buku yang berjudul Al-Qadiani dan Al-Alqadianiyah. Demikian pula Ustad Ihsan Ilahi Zhahir, ia telah menulis dalam bentuk ceramah-ceramah. Meski demikian, kekosongan itu masih ada, lalu tampillah salah seorang sahabatku Al-Ustadz Asy-Syekh Manzhur Ahmad Chinioti, menutup kekosongan ini, yang menghabiskan waktunya untuk membela agama ini dengan buku beliau Keyakinan Al-Qadiani. Beliau menukil banyak teks dari kitab-kitab Al-Qadiani yang berbahasa Arab dan yang berbahasa Urdu. Dengan demikian, beliau telah mengisi kekosongan yang sangat terasa. Beliau telah menghimpun yang terburuk dan yang terjelek dari keyakinan Al-Qadiani yang sangat jelas kekafirannya tanpa perlu dalil dan pembahasan. Semua ini dalam rangka berkhidmat pada agama ini dan menjaga pagar millah al-muhammadiyah. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan dan semoga Allah memberi manfaat pada bukunya ini di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam pada umumnya. Dan, semoga buku ini sanggup menyingkap topeng persembunyian dan penipuan dari wajah Al-Qadianiyah al-Mirziyah. Dan, semoga Allah menerima amal ini dengan penerimaan yang baik. Demikian pengantar dari kami. Selawat dan salam untuk junjungan kita penghuu alam semesta, penutup para nabi, Muhammad saw., keluarga beliau, segenap sahabat beliau, pengikut beliau, para ulama umat beliau, yang mengamalkan ilmunya. Ditulis oleh Muhammad Yusuf bin As-Sayyid Muhammad Zakaria al-Banuri al-Husaini, Khadim al-Hadis an-Nabawi asy-Syarif di Karachi, Pakistan pada hari Senin 15 Jumadilakhir 1391 H. Berikut ini kami paparkan keyakinan-keyakinan Al-Qadiani yang menyesatkan itu. Pemaparan kajian ini akan kami tampilkan secara berseri! Pengakuannya adalah sebagai mujadid, Al-Masih, Al-Mahdi, nabi, rasul, dan pengakuan lainnya yang berkisar antara mujadid hingga kenabian, bahkan lebih tinggi dari kenabian. "Banyak hati telah mati, telah banyak dosa, sangat keras kesusahan, pada malam yang larut, dalam kegelapan yang pekat, rahim Allah mengeluarkan cahaya langit. Akulah cahaya itu, al-mujadid yang dapat perintah, hamba yang ditolong, Al-Mahdi yang dikenal, Al-Masih yang dijanjikan. Dan sesungguhnya aku berada dalam posisi yang sangat mulia di sisi Tuhanku, tak ada seorang pun yang mengetahuinya." (Khotbah Ilhamiyah, Rohani Khazain 16/15 oleh Al-Qadiani). "Kabar gembira untuk kamu sekalian! Telah datang kepadamu Al-Masih. Ia telah diusap Yang Maha Kuasa dan diberinya ucapan yang fasih. Kebahagiaan untuk kamu! Telah datang kepadamu Al-Masih yang dikenal, membawa harta yang banyak, dan barang yang bertumpuk. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah Al-Masih al-Muhamadi. Sesungguhnya aku Ahmad al-Mahdi." (Khotbah Ilhamiyah, Rohani Khazain 16/61). "Akulah Al-Masih yang dijanjikan yang telah ditentukan kedatangannya di akhir zaman oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Akulah orang yang diberi nikmat yang disebutkan dalam surah Al-Fatihah pada saat muncul dua golongan tersebut." (Khotbah Ilhamiyah, Rohani Khazain 16/179). Aku dilahirkan kembar dengan seorang putri di desa ini, tetapi saudari kembarku itu wafat, dan aku tetap diberi kehidupan oleh Allah pemilik kemuliaan. Kejadian ini tentu sangat jarang di masyarakat. Meskipun demikian, aku hidup dengan dua penyakit. 1. Penyakit di bagian bawah (beser/tidak mampu menahan kencing). Dalam sehari semalam ia bisa kencing sampai seratus kali. (Nuzulul Masih, h. 235). 2. Penyakit di bagian atas (sakit kepala yang berkepanjangan). (Sirat al-Mahdi 1/13). "Jadi, kehidupanku lebih aneh dari kelahiran Al-Masih dan lebih besar mukjizatnya bagi orang yang melihat." (Khotbah Ilhamiyah, Footnote, h. 85, Rohani Khazain jilid 16). "Sesungguhnya akulah Al-Masih, dan sesungguhnya aku berjalan dan aku mengembara. Sesungguhnya Isa telah wafat dan tidak hidup seperti hidupku." (Tuhfatun Nadwah I, Rohani Khazain RK 19/89). "Akulah Al-Masih. Akulah al-hakim. Akulah Muhammad. Akulah Ahmad yang terpilih." (Terjemah dari satu bait syairnya dalam bahasa Persia, Tiryaq al-Qulub 19/5). "Aku dijadikan sebagai Maryam dan aku menjadi Maryam selama dua tahun. Kemudian ditiupkan roh kepada Isa, sebagaimana ditiupkan kepada Maryam, lalu ia hamil dalam bentuk pinjaman setelah beberapa bulan, tidak lebih dari sepuluh bulan, aku pisahkan dari Maryam dan aku dijadikan Isa. Dengan demikian, jadilah aku putra Maryam." (Safinah Nuh 47, RK 19/50). Sesungguhnya Allah menemai aku Maryam yang hamil mengandung Isa. Akulah yang dimaksudkan oleh firman Allah Taala, "Dan Maryam putri Imran yang mensucikan kehormatannya, lalu Kami tiupkan kepadanya roh Kami.." "Karena akulah satu-satunya orang yang mengakui bahwa aku adalah Maryam dan bahwa ditiupkan kepadaku roh Isa." (Footnote Haqiqah al-Wahy 33, RK 22/351). "Saya melihat diriku dalam keadaan kasyaf, seakan aku ini seorang wanita, lalu Allah menampakkan kepadaku kekuatan pria, isyarat ini sudah cukup untuk orang yang cerdas dan paham." (Riwayat Al-Qadiani termaktub dalam Shaihatul Islam 34 oleh Yar Muhammad al-Qadiani, guru Mirza Basyiruddin Mahmud bin Al-Qadiani, nabi palsu). "Sebelum turun wabah penyakit, Tuhanku mewahyukan kepadaku, 'Buatlah perahu di bawah pengawasan-Ku, dan janganlah engkau mengajak Aku berbicara kepada orang-orang yang zalim, karena mereka pasti tenggelam. Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu, sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka." (Khotbah Ilhamiyah 16/187-188). "Lihatlah sekarang, sesungguhnya Allah telah menjadikan wahyu-Nya kepadaku, ajaran-ajaranku, baiat kepadaku, sama dengan perahu Nuh dan Allah menjadikannya sebagai kunci keselamatan seluruh manusia." (Footnote Arbain, No 4, h. 6, RK 17/435). "Sungguh Tuhanku telah memberi tahu kepadaku bahwasannya aku seperti perahu Nuh bagi seluruh makhluk. Maka siapa yang datang kepadaku dan masuk dalam baiat, sungguh ia selamat dari kehilangan. Maka sungguh bahagialah kaum yang selamat." (Ainah Kamalat Islam, RK 486). "Perumpamaanku di sisi Allah seperti Adam. Lalu Allah menjadikan aku sebagai Adam, lalu dia memberiku semua yang telah diberikan kepada Abul Basyar (manusia pertama)." (Khotbah Ilhamiyah 253, RK 16/254). "Pengakuan bahwa aku adalah rasul dan nabi." (Koran Badr 5 Maret 1908). "Dan Allah yang sebenarnya. Dialah yang mengutus rasul-Nya di Qadian." (Dafi'ul Bala 11 RK 231). (Bersambung.!) Sumber: Al-Qadiani wa Mu'taqadatuhu, Asy-Syekh Manzhur Ahmad Chinioti al-Pakistani [Non-text portions of this message have been removed]
