Pandu Arab Indonesia
September 2, 2007 at 1:16 am | In Nostalgia |
Ahad 19 Agustus 2007, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di
markasnya, Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima
sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.
Di sepanjang Jl Jatipetamburan III (sekitar 300 meter) digelar permadani untuk
para jamaah. Sedang di sebagian ruas Jl Jatipemburan Raya, depan RS Pelni,
hanya dapat dilewati kendaraan satu jalur karena sebagian dipadati massa yang
mengenakan busana putih dan peci putih.
Acara itu dimulai shalat Subuh berjamaah. Diteruskan dzikir, tahlil dan ceramah
maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung hingga pukul 09.30 pagi. Diakhiri
dengan pawai keliling Jakarta. Ketua Umum FPI Habib Rizieg Husein Shihab,
ketika melepas pawai, meminta agar mereka tertib dan sopan.
Melihat begitu patuhnya para anggota FPI kepada ketua umumnya, saya teringat
pada pemimpin Pandu Arab Indonesia, Husein Shihab, ayah Habib Rizieq Shihab.
Pada awal 1950-an, Husein Shihab telah menghimpun para pemuda Arab untuk
mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan
hopman — kata Belanda untuk pemimpin kepanduan.
Seperti juga Habib Rizieq, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan
memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab
Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengbah abad lalu,
membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan
ribu massa FPI — menurut Rizieq anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta
orang.
Sangat jauh berbeda dengan penampilan sang ayah yang sering memakai jas dan
dasi, putranya ini selalu mengenakan jubah dan sorban. ”Ayah saya memang modern
dan orangnya sangat berbaur,” kata Habib Rizieq, kelahiran Agustus 1965. Wajah
Rizieq hampir sama dengan wajah almarhum ayahnya.
Sekalipun cara berpakaian dan berpikirnya modern, Husein Shihab sangat dekat
dengan ulama Betawi terkemuka, Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat.
Pada acara-acara seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan menerima tamu asing, Habib
Ali selalu meminta Husein Shahab yang fasih berbahasa Belanda menjadi MC.
Acara-acara Pandu Arab yang dilakukan tiap Sabtu sore berlangsung di halaman
Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Madrasah yang dibangun oleh Habib Ali pada
1911 ini telah melahirkan sejumlah ulama Betawi.
Habib Rizieq mengaku ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1966, dia baru
berusia 11 bulan. ”Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,” katanya.
Sang ayah yang lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara,
berkata kepada seorang anggota keluarganya, ”Tanyakan kepada putra saya ini,
kalau sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik
agamanya dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.”
Sejak itu, Rizieq dipindahkan ke Jatipetamburan dan terakhir lulus Riyadh
University (kini King Saud University) Arab Saudi. Kini dia tengah
menyelesaikan tesis pada University Malaya, Kuala Lumpur, untuk lulus S2 bidang
Syariat.
Menurut sejumlah teman almarhum Husein Shihab yang kini rata-rata berusia
diatas 80 tahun, pemimpin Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini
Palang Merah Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi
kemerdekaan.
Husein, yang ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik.
Di sini dia punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak
memberikan makanan dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di
Jakarta dan sekitarnya.
Rupanya pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada
kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa
ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret
dengan kendaraan jip.
Di penjara dia divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah,
Husein berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat,
meskipun bagian pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat
pertolongan dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.
Suatu hari, Rizieq memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno,
Fatmawati, dalam suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga,
ayahnya punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda
Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.
Ayah Husein Shihab, Habib Muhammad Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan
delman dan memiliki istal kuda di depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah
Abang ke Kebayoran Lama ini pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah
si Pitung, jagoan Betawi yang dibenci Belanda.
Seperti dituturkan Rizieg, kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa
tidak senang namanya dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh
Betawi tersebut menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan
ponakan Pitung dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah
Husein Shihab, ayah Rizieq.
__________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html
[Non-text portions of this message have been removed]