Kalimat
itu yang pertama kali terbersit. Sebuah kesimpulan akhir yang membuat
penilaian saya terhadap apa saja yang berhubungan dengan pemerintah
menjadi nyinyir, sinis dan berbau sentimentil. Aroma uang tercium
dimana-mana ketika kita memasuki dunia asosiasi, untuk mendapatkan
proyek atau ACC rekanan dengan pemerintah saja bisa memaksa kita untuk
menyuap. 



Bohong jika para atasan dan dirjen pemerintah itu bilang tidak ada
korupsi, suap dan kolusi. Birokrasi yang diterapkan saja sudah memaksa
setiap orang yang berurusan dengan mereka untuk menyuap, mereka juga
tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan tarif, mau urusan lancar harus
bayar. Terlebih muak saya kalau melihat polisi yang sok suci, pembela
kebenaran, penegak hukum dan ketertiban. Mereka adalah pembela uang,
uang, uang dan uang. Negara kotoran yang diceboki dengan uang.



Ketika kita sudah menjadi rekanan pemerintah, kemudian biasanya mereka
tidak mau mengeluarkan dana untuk membayar atau memberi modal awal
proyek yang diserahkan kepada rekanannya, alasannya ada uang ada
barang. Mungkin itu bisa diterima, karena dimana-mana juga begitu kalau
membayar seseorang untuk mengerjakan pekerjaan pribadi, tetapi
bobroknya, ternyata dana yang sudah mereka anggarkan disimpan dulu di
bank agar berbunga biar bisa dikorupsi bunganya. Lalu ketika proyek
yang dikerjakan selesai. proses ganti rugi duit modal dan pembayaran
proyek berlangsung alot, lama serta berjangka. Seharusnya bisa cepat,
tapi nyatanya mereka lagi sibuk hitung pembagian duit. 



Terus Kalau misalnya proyek itu kena masalah KKN dan sebagainya, lalu
diciduk KPK atau jaksa agung atau apalah di Indonesia ini yang bisa
disebut penegak keadilan. Mereka akan mencari tumbal untuk dikorbankan,
siapa lagi jika bukan rekanannya yang notabene lemah secara koneksi
profesi, orang luar pemerintah, tidak ada perlindungan hukum, dan juga
mudah dibohongi segala macam permasalahan birokrasi.



Busuknya lagi ketika rekanan itu sudah dijadikan tumbal, mereka tak
hentinya menyiksa dengan menawarkan jalan keluar plus uang pelicinnya.
Mereka akan menawarkan rekanan skenario pembebasan penyidikan dan
penyelidikan dengan syarat harus membayar sekian juta sampai miliar
kepada mereka. Bangsat! Pejabat Bangsat!



Setelah harta kita habis digilas oleh mereka, baru mereka usap-usap
perut mereka yang kenyang. Dari awal rekanan dalih mereka hubungan win-win 
solution, nyatanya yang mereka terapkan adalah penindasan, perampasan, 
penipuan, dan penjajahan. 



Sekarang kita saksikan tikus-tikus politik rakus itu, anjing-anjing
yang menjilat pantat majikannya demi uang. Kenapa tidak mereka jual
istri dan anak perempuan mereka ke pelacuran sekalian. Dasar antek
uang!!!!



 





      __________________________________________________________
Not happy with your email address?.
Get the one you really want - millions of new email addresses available now at 
Yahoo! http://uk.docs.yahoo.com/ymail/new.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke