Mengapa
saya katakan banyak? Banyak bukan berarti semua, tetapi banyak adalah
lawannya sedikit, hanya masalah kuantitas belaka. Namun itu membuat
saya sedikit termangu menyaksikan GBHN menggantikan jilbab-jilbab
mereka.
Tahu GBHN? Garis Besar Haluan Negara ?
bukan itu maksud saya, itu abrivasi lama, GBHN atau Garis BH Nona-nona.
Itulah yang mengganggu penglihatan saya belakangan ini. Jumlahnya makin
banyak, menggantikan jilbab-jilbab yang dulu masih marak.
Akan tetapi jilbab sekarang juga nampak GBHN-nya, dan itu semua hanya soal
selera fashionista.
Tidak ada tendesius apapun didalamnya, baik ideologi dan agama. Sekali
lagi cuma masalah selera, mungkin itu pula yang menyebabkan banyak
muslimah menanggalkan jilbab mereka.
Satu per satu muslimah yang
dulu pernah saya kenal di masa sekolah dan kuliah berpaling dari jilbab
mereka, seribu satu alasan, dari skeptisisme sampai permisivisme. Saya
tidak tahu kapan budaya hedon itu menyerang, akan tetapi sekali lagi
jawabannya berbalik pada diri sendiri. Boleh meradang, jangan melarang.
Maka
aku cukup bertanya mengapa? Mengapa saat ini kita mulai menyembah
sesama? idolisasi, berhala baru yang bergerak di tengah masyarakat.
Apakah benar episetrum kehidupan adalah manusia, kadang saya meragukan
hal itu. Namun jilbab bagi mereka hanya untuk orang yang percaya kiamat
dan akhirat, sama saja dengan hubungan intim. Untuk apa menikah jika
kita bisa menanam tunas dimana saja, untuk apa jilbab jika gaun pesta
simbol peradaban dan budaya.
Jilbab hanya untuk gadis badui
biasa. Itu yang kini tercetak pada alam bawah sadar muslimah, baik itu
di desa dan dikota, mereka mengganti dengan tanktop yang membungkus BH.
Sementara kita hidup di negeri tanpa agama, memang negara ini bukan
negara agama. Agama hanya hanya tersembunyi di dalam dada, ajarannya
cukup berada di masjid dan musholla.
"Ini dunia manusia, bukan
dunia Tuhan, malaikat, nabi dan agama." demikian kampanye kaum
agnostik. Tapi di negeri ini mereka adalah muslimah, muslimah agnostik
sebutannya. Bagaimana bisa? ya bisa, selama seluruh aspek kehidupan
terhumanisasi. Bumi adalah hak manusia, Tuhan tak punya asasi di sini.
Teroris,
begitu yang mereka labeli untuk agama kita, wahai Muslimah Indonesia.
Ritual shalat tidak lebih dari materi pelatihan bom bunuh diri. Berdiri
memasang bom, rukuk untuk memasang detonator, dan sujud untuk
menyalakan detonator. Dan, bum! Dunia Barat memberikan gambaran buruk
tentang orang yang bersembahyang. Lalu bagaimana dengan berjilbab?
Apakah mereka mengira aurat adalah kata lain yang patut untuk organ
vital? Mereka tidak tahu konsep aurat sehingga mereka bebas berbikini
ria. Apakah oleh sebab itu kalian menanggalkan jilbab? Tidak, jangan.
Sudah cukup garis BH kalian yang tampak menjiplak.
Memang
peradaban mereka telah mencapai semua hal yang masih menjadi mimpi di
sini. Mereka katakan menghormati perbedaan, terbuka untuk semua
keyakinan dan agama, namun sejauh sesuai dengan selera Eropa. Kenapa dunia
mereka selalu iri jika kita mengambil jalan berbeda dari cara Barat menatap
dunia?
__________________________________________________________
Not happy with your email address?.
Get the one you really want - millions of new email addresses available now at
Yahoo! http://uk.docs.yahoo.com/ymail/new.html
[Non-text portions of this message have been removed]