saya pun juga setuju dg diskusi seperti ini. Tapi, kedepan menurutku perlu
diperluas topik diskusinya ke arah bagaimana mendorong pelaksanaan reforma
agraria dilevel daerah (minimal provinsi). Saya fikir NU sangat strategis dan
penting mendorong agenda seperti ini....sebab petani dan berbagai problem
agraria yg dihadapi justeru menguat di daerah. Apalagi, saat ini investasi
(khususnya investasi yg terkait dg sumber2 agraria) justeru mensasar wilayah2
di daerah. sebagaimana yg sedang berlangsung Investasi2 seperti itu berpotensi
kuat menyengsarakan warga.
salam
karim
----- Original Message -----
From: Rosa Prabowo
To: [email protected]
Sent: Friday, July 25, 2008 1:57 PM
Subject: Re: [kmnu2000] GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA
Salam,
Lumayan juga NU bekerjasama dengan Serikat Petani Indonesia mengadakan acara
ini. Moga2 bukan hanya selesai pada tingkat seremonial saja. Sengketa tanah
dimana 2 telah mengakibatkan kesengsaraan..bahkan tak jarang konflik dengan
bungkus2 lain, misalnya kasus di Poso. Konflik horizontal antar agama di Poso,
sesungguhnya di mulai dari sengketa tanah. Mayoritas pemilik tanah perkebunan
di sekitar Poso justru orang Bugis dan Menado, yang oleh karena kreativitas
mereka lahan tersebut kemudian di tanami coklat. Pada masa booming coklat
(jaman reformasi), penikmat kekayaan mendadak ini adalah mereka orang non Poso
plus, pemerintah lokal, yang tidak tanggap dengan situasi masyarakatnya
sendiri. Masyarakat Poso, yang katanya punya tradisi pesta sbg simbol status
mereka, dan sering jual2 tanah berhektar2 untuk kepentingan sesaat itu akhirnya
terjebak dalm situasi sulit, ketika mereka tak lagi punya lahan untuk dijual.
Lagi2 disparitas kaya miskin jadi semakin
nyata, sementara pihak pemerintah diam saja, karena mrk (sebagiannya) pada
dasarnya menikmati hasil coklat tsb.
Kata teman saya, di Poso ini sekarang kalau ada yang menyulut sedikit saja
(lagi) konflik, sudahlah...konflik horizontal dipastikan terjadi. Di Ambon? di
Tentena (Pasar Merdika)sekarang ada pembagian, mana yang pasar muslim dan mana
pula yang pasar non muslim, belum lagi ditambah dengan sistem pemerintahannya,
Ketua Muslim, wakil non muslim dst..dst....pertanyaannya..sampai kapan?
Di jaman Gus Dur, pada waktu itu sudah pernah akan ditandatangani pembuatan
Lembaga Penyelesaian Konflik, yaitu KNUPKA (Komisi Nasional Untuk Penyelesaian
Konflik Agraria). Sayangnya sampai sekarang nggak...ada realisasinya (atau
dimentahkan oleh sesudahnya?). Padahal kalau ada third party untuk urusan
itu...minimal ada penyelesaian yang terarah.
Sekarang di Cigugur, dekat Bandung - Bogor..juga ada masalah. Cigugur yang
mayoritas masyarakatnya adalah nahdiyyin, banyak yang keluar, minggat atau
melarikan diri, karena dianggap termasuk pelaku2 dalam usaha pembalakan liar
tanah milik perhutani. Padahal, batas tanah milik perhutani dan milik rakyat
sampai sekarang juga belum jelas....Sudah begitu, yang melakukan pembalakan
sesungguhnya justru bukan petani, tetapi...istilah kawan saya adl "brandong/
preman" yang "disuruh" org tertentu (tentunya yang memiliki modal besar) untuk
melakukan penebangan dengan upah sangat besar untuk ukuran kampung disitu.
Media Massa juga berperan dalam menstigma masyarakat Cigugur sebagai "yang
menyebabkan hutan menjadi gundul'......wallahu a'lam bishshowaab. Akhirnya yang
tinggal di desa tersebut cuma perempuan dan anak2.
Pendek kata masalah tanah ini memang rawan. Di Bogor misalnya, data BPN ada
yang menyebutkan bawa 436 sertifikat tanah hanya dimiliki oleh satu
orang.....wis..wis benar2 tamak orang Indonesia itu.
Tanah di Lapindo itu? bagaimana nanti statusnya? milik Bakrie thok atau
Pemerintah juga andil? sekarang areal yang tergenang sudah mencapai 15 an km,
padahal masih dibutuhkan 10 km lagi untuk menyetop aliran lumpur lari kemana2
(maksudnya karena nantinya terhenti oleh adanya dataran tinggi/ gunung
disekitar wilayah tesebut...lama2 bisa jadi gunung beneran ya)
Cape memikirkan terlalu banyaknya masalah di Indonesia karena kebijakan awut2
an jaman Orba....untuk kepentingan segelintir kelompok....rasanya seperti ingin
golput aja. Tapi kalau NU golput...wah dipastikan golongan lain yang
menang..waduuh...repoot..repoot.
Walhasil.....merenung dulu sekarang, memikirkan langkah ke depan , meretas
jalan menjadi orang baik, jujur, amanah, tidak greedy (tamak) dan .....tidak
SOMBONG (karena kutukan penyakit bagi orang pandai adalah sombong...sehingga
hanya berpikir untuk kemajuan diri sendiri...bukan orang lain, menganggap
sepele orang lain, dan memandang dirinya tinggi - tinggi). Ulama NU banyak yang
sekarang terkena penyakit sombong, karena menganggap diri sendiri sudah besar,
punya power, maka ketika masjidnya, sebagian masyarakatnya di ambil alih dan di
emong oleh "orang lain"....mulai kebakaran jenggot. Jarangnya mereka menyapa
dengan masyarakat bawah yang memang nol soal banyak hal, karena dianggap
terlalu ringan urusannya.. membuat masyarakat kita pelan2 dan pasti berpaling
dari mereka, para ulama, warotsatul 'anbiya...semoga selalu masih ada jalan
keluar yang baik.
Salam,
Rosa
Wassalam Rosa Prabowo
--- On Fri, 25/7/08, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kmnu2000] GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA
To: [email protected]
Received: Friday, 25 July, 2008, 11:12 AM
GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA
Keberislaman Terbaik adalah Menyediakan Pangan
Kamis, 24 Juli 2008 20:01
Jakarta, */NU Online/*
Keberislaman terbaik atau perbuatan paling mulia yang dilakukan oleh
umat Islam adalah menyediakan makanan (/ith'amut tho'am/) untuk orang
lain yang membutuhkan. Selanjutnya barulah memelihara hubungan dengan
damai dan tanpa permusuhan.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
KH Masdar Farid Mas'udi saat berbicara dalam Bedah Jurnal /Taswirul
Afkar/ bertajuk "*/Gerak Ulama dan Politik Agraria/*" di ruang pertemuan
kantor PBNU, Jakarta, Kamis (24/7), yang dihadiri oleh beberapa
organisasi pertanian dan para pakar.
Acara tersebut merupakan hasil kerja sama Pengurus Pusat Lembaga Kajian
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU yang menerbitkan
jurnal /Taswirul Afkar /dan Serikat Petani Indonesia (SPI) yang sedang
merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10.
Masdar mengatakan, wacana tentang pemenuhan hak rakyat atas pangan atau
kedaulatan pangan saat ini jarang dibicarakan oleh para agamawan.
Dikalangan NU sendiri yang sempat memerjuangkan terbitnya Undang Undang
No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, wacana itu
semakin menurun.
"Diakui memang NU kurang tenaga profesional di bidang itu, meskipun
sebagian besar warganya adalah petani. Maka NU sangan /welcome /kepada
yang peduli masalah ini," katanya di hadapan SPI dan beberapa organisasi
pertanian yang hadir.
Ketua Umum SPI Hendri Saragih menanggapi, interaksi SPI dan organisasi
pertanian lainnya dengan NU sangat penting dalam menyelamatkan pangan
dan agraria. "Kita berani berhadapan dengan pihak internasional, tapi
kita tidak berani dengan ulama," katanya.
Pada kesempatan itu Guru Besar Teknologi Pertanian Universitas Gajah
Mada UGM Prof. Dr. Mohammad Maksum mengingatkan, ulama menjadi benteng
terakhir untuk menyelamatkan sektor pertanian di Indonesia.
"Kita sudah tidak bisa berharap pada akademisi. Kita hanya berharap pada
ulama. Situasi nasional dan global yang memojokkan petani bukanlah
masalah bagi yang optimis, pro kedaulatan dan anti impor," kata Maksum
yang juga Wakil Ketua PWNU Yogyakarta. (nam)
[Non-text portions of this message have been removed]
Find a better answer, faster with the new Yahoo!7 Search.
www.yahoo7.com.au/search
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]