Selain dulu NU (secara institusi) ikut memuluskan UUPA, namun juga perlu jujur diakui bahwa para kiai (yang juga NU) menjadi penyebab kegagalan pelaksanaannya. saya salut dengan tema jurnal "TA", saya telah menikmati sajiannya. diangkatnya kembali tema agraria bagi NU tidak hanya memberi dorongan akan pentingnya penataan kembali struktur agraria saat ini yang masih timpang, namun juga rekonsisliasi terhadap masa lalu. penataan dan rekonsiliasi itu penting untuk memperkuat fondasi kebangsaan kita.
Salam, Luthfi 2008/7/26 lapar makassar <[EMAIL PROTECTED]> > saya pun juga setuju dg diskusi seperti ini. Tapi, kedepan menurutku > perlu diperluas topik diskusinya ke arah bagaimana mendorong pelaksanaan > reforma agraria dilevel daerah (minimal provinsi). Saya fikir NU sangat > strategis dan penting mendorong agenda seperti ini....sebab petani dan > berbagai problem agraria yg dihadapi justeru menguat di daerah. Apalagi, > saat ini investasi (khususnya investasi yg terkait dg sumber2 agraria) > justeru mensasar wilayah2 di daerah. sebagaimana yg sedang berlangsung > Investasi2 seperti itu berpotensi kuat menyengsarakan warga. > > salam > > karim > > > > ----- Original Message ----- > From: Rosa Prabowo > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com> > Sent: Friday, July 25, 2008 1:57 PM > Subject: Re: [kmnu2000] GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA > > Salam, > > Lumayan juga NU bekerjasama dengan Serikat Petani Indonesia mengadakan > acara ini. Moga2 bukan hanya selesai pada tingkat seremonial saja. Sengketa > tanah dimana 2 telah mengakibatkan kesengsaraan..bahkan tak jarang konflik > dengan bungkus2 lain, misalnya kasus di Poso. Konflik horizontal antar agama > di Poso, sesungguhnya di mulai dari sengketa tanah. Mayoritas pemilik tanah > perkebunan di sekitar Poso justru orang Bugis dan Menado, yang oleh karena > kreativitas mereka lahan tersebut kemudian di tanami coklat. Pada masa > booming coklat (jaman reformasi), penikmat kekayaan mendadak ini adalah > mereka orang non Poso plus, pemerintah lokal, yang tidak tanggap dengan > situasi masyarakatnya sendiri. Masyarakat Poso, yang katanya punya tradisi > pesta sbg simbol status mereka, dan sering jual2 tanah berhektar2 untuk > kepentingan sesaat itu akhirnya terjebak dalm situasi sulit, ketika mereka > tak lagi punya lahan untuk dijual. Lagi2 disparitas kaya miskin jadi semakin > nyata, sementara pihak pemerintah diam saja, karena mrk (sebagiannya) pada > dasarnya menikmati hasil coklat tsb. > Kata teman saya, di Poso ini sekarang kalau ada yang menyulut sedikit saja > (lagi) konflik, sudahlah...konflik horizontal dipastikan terjadi. Di Ambon? > di Tentena (Pasar Merdika)sekarang ada pembagian, mana yang pasar muslim dan > mana pula yang pasar non muslim, belum lagi ditambah dengan sistem > pemerintahannya, Ketua Muslim, wakil non muslim > dst..dst....pertanyaannya..sampai kapan? > > Di jaman Gus Dur, pada waktu itu sudah pernah akan ditandatangani pembuatan > Lembaga Penyelesaian Konflik, yaitu KNUPKA (Komisi Nasional Untuk > Penyelesaian Konflik Agraria). Sayangnya sampai sekarang nggak...ada > realisasinya (atau dimentahkan oleh sesudahnya?). Padahal kalau ada third > party untuk urusan itu...minimal ada penyelesaian yang terarah. > Sekarang di Cigugur, dekat Bandung - Bogor..juga ada masalah. Cigugur yang > mayoritas masyarakatnya adalah nahdiyyin, banyak yang keluar, minggat atau > melarikan diri, karena dianggap termasuk pelaku2 dalam usaha pembalakan liar > tanah milik perhutani. Padahal, batas tanah milik perhutani dan milik rakyat > sampai sekarang juga belum jelas....Sudah begitu, yang melakukan pembalakan > sesungguhnya justru bukan petani, tetapi...istilah kawan saya adl "brandong/ > preman" yang "disuruh" org tertentu (tentunya yang memiliki modal besar) > untuk melakukan penebangan dengan upah sangat besar untuk ukuran kampung > disitu. Media Massa juga berperan dalam menstigma masyarakat Cigugur sebagai > "yang menyebabkan hutan menjadi gundul'......wallahu a'lam bishshowaab. > Akhirnya yang tinggal di desa tersebut cuma perempuan dan anak2. > > Pendek kata masalah tanah ini memang rawan. Di Bogor misalnya, data BPN ada > yang menyebutkan bawa 436 sertifikat tanah hanya dimiliki oleh satu > orang.....wis..wis benar2 tamak orang Indonesia itu. > > Tanah di Lapindo itu? bagaimana nanti statusnya? milik Bakrie thok atau > Pemerintah juga andil? sekarang areal yang tergenang sudah mencapai 15 an > km, padahal masih dibutuhkan 10 km lagi untuk menyetop aliran lumpur lari > kemana2 (maksudnya karena nantinya terhenti oleh adanya dataran tinggi/ > gunung disekitar wilayah tesebut...lama2 bisa jadi gunung beneran ya) > > Cape memikirkan terlalu banyaknya masalah di Indonesia karena kebijakan > awut2 an jaman Orba....untuk kepentingan segelintir kelompok....rasanya > seperti ingin golput aja. Tapi kalau NU golput...wah dipastikan golongan > lain yang menang..waduuh...repoot..repoot. > > > Walhasil.....merenung dulu sekarang, memikirkan langkah ke depan , meretas > jalan menjadi orang baik, jujur, amanah, tidak greedy (tamak) dan .....tidak > SOMBONG (karena kutukan penyakit bagi orang pandai adalah sombong...sehingga > hanya berpikir untuk kemajuan diri sendiri...bukan orang lain, menganggap > sepele orang lain, dan memandang dirinya tinggi - tinggi). Ulama NU banyak > yang sekarang terkena penyakit sombong, karena menganggap diri sendiri sudah > besar, punya power, maka ketika masjidnya, sebagian masyarakatnya di ambil > alih dan di emong oleh "orang lain"....mulai kebakaran jenggot. Jarangnya > mereka menyapa dengan masyarakat bawah yang memang nol soal banyak hal, > karena dianggap terlalu ringan urusannya.. membuat masyarakat kita pelan2 > dan pasti berpaling dari mereka, para ulama, warotsatul 'anbiya...semoga > selalu masih ada jalan keluar yang baik. > > > Salam, > > > > Rosa > > > > > Wassalam Rosa Prabowo > > --- On Fri, 25/7/08, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]<mukhlisin%40polytama.co.id>> > wrote: > > From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED] <mukhlisin%40polytama.co.id>> > Subject: [kmnu2000] GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com> > Received: Friday, 25 July, 2008, 11:12 AM > > GERAK ULAMA DAN POLITIK AGRARIA > Keberislaman Terbaik adalah Menyediakan Pangan > Kamis, 24 Juli 2008 20:01 > > Jakarta, */NU Online/* > Keberislaman terbaik atau perbuatan paling mulia yang dilakukan oleh > umat Islam adalah menyediakan makanan (/ith'amut tho'am/) untuk orang > lain yang membutuhkan. Selanjutnya barulah memelihara hubungan dengan > damai dan tanpa permusuhan. > > Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) > KH Masdar Farid Mas'udi saat berbicara dalam Bedah Jurnal /Taswirul > Afkar/ bertajuk "*/Gerak Ulama dan Politik Agraria/*" di ruang pertemuan > kantor PBNU, Jakarta, Kamis (24/7), yang dihadiri oleh beberapa > organisasi pertanian dan para pakar. > > Acara tersebut merupakan hasil kerja sama Pengurus Pusat Lembaga Kajian > dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU yang menerbitkan > jurnal /Taswirul Afkar /dan Serikat Petani Indonesia (SPI) yang sedang > merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10. > > Masdar mengatakan, wacana tentang pemenuhan hak rakyat atas pangan atau > kedaulatan pangan saat ini jarang dibicarakan oleh para agamawan. > Dikalangan NU sendiri yang sempat memerjuangkan terbitnya Undang Undang > No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, wacana itu > semakin menurun. > > "Diakui memang NU kurang tenaga profesional di bidang itu, meskipun > sebagian besar warganya adalah petani. Maka NU sangan /welcome /kepada > yang peduli masalah ini," katanya di hadapan SPI dan beberapa organisasi > pertanian yang hadir. > > Ketua Umum SPI Hendri Saragih menanggapi, interaksi SPI dan organisasi > pertanian lainnya dengan NU sangat penting dalam menyelamatkan pangan > dan agraria. "Kita berani berhadapan dengan pihak internasional, tapi > kita tidak berani dengan ulama," katanya. > > Pada kesempatan itu Guru Besar Teknologi Pertanian Universitas Gajah > Mada UGM Prof. Dr. Mohammad Maksum mengingatkan, ulama menjadi benteng > terakhir untuk menyelamatkan sektor pertanian di Indonesia. > > "Kita sudah tidak bisa berharap pada akademisi. Kita hanya berharap pada > ulama. Situasi nasional dan global yang memojokkan petani bukanlah > masalah bagi yang optimis, pro kedaulatan dan anti impor," kata Maksum > yang juga Wakil Ketua PWNU Yogyakarta. (nam) > > [Non-text portions of this message have been removed] > > Find a better answer, faster with the new Yahoo!7 Search. > www.yahoo7.com.au/search > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
