http://www.jawapos.co.id/

[ Kamis, 07 Agustus 2008 ]
 Berhentilah Melukai Khitah
 *Genderang* ''perang'' menghadapi putaran kedua pemilihan gubernur Jawa
Timur sudah ditabuh. Dua pasangan yang masuk putaran kedua, Karsa dan Kaji,
kini mulai aktif turun ke lapangan untuk berkampanye.

Seperti pada putaran pertama lalu, kedua kandidat sangat aktif mendekati
sejumlah kiai dan petinggi NU, baik di level nasional, wilayah (Jatim)
maupun cabang (kabupaten/pemkot). Mereka mencoba berebut dukungan dari warga
*nahdliyin* yang memang mayoritas di Jatim.

Jika kiai dan petinggi NU memegang teguh komitmen khitah, mestinya aksi
berebut itu tidak perlu terjadi. Namun, kenyataan di lapangan berbicara
lain. Kendati keputusan kembali ke khitah 1926 belum dicabut, para kiai dan
petinggi NU sangat aktif bermain politik.

Publik tentu belum lupa dengan langkah sejumlah kiai dan petinggi PW NU
Jatim menggelar jumpa pers yang mengingatkan soal adanya penggelembungan
suara dari salah satu kontestan pilgub. Begitu juga langkah Ketua Umum PB NU
Hasyim Muzadi yang hadir dan menerima sumbangan Rp 1 miliar dan pembagian
mobil Suzuki APV kepada PC Muslimat se-Jatim oleh Khofifah Indar Parawansa.

Itu yang terekspos ke khalayak dan masih terbungkus embel-embel institusi
NU. Gerakan yang dibungkus atas nama pribadi dan luput dari intaian wartawan
tentu masih banyak lagi.

Dengan kata lain, dalam pilgub Jatim ini, institusi NU sudah terseret begitu
jauh dalam hiruk-pikuk pilgub. Karena itu, sangat wajar bila beberapa hari
lalu muncul desakan dari sejumlah PC NU agar pada putaran kedua nanti
pengurus NU bisa benar-benar menjaga institusi NU dari hiruk-pikuk pilgub.
Alasan mereka, *toh* di masing-masing pasangan ada kader NU-nya (Khofifah
dan Saiful). (*Jawa Pos*, 4 Agustus 2008)

Kita berharap desakan sejumlah PC NU itu ada tajinya. Para petinggi NU, baik
di level nasional, wilayah, cabang hingga ranting bisa benar-benar menjaga
netralitas NU. Bukan malah sebailknya, melukai dan terus-menerus mencederai
khitah NU.

Mereka yang menjadi pengurus NU hakikatnya orang yang diamanati untuk
menjaga NU yang didirikan para kiai (KH Hasyim Asy'ari cs) untuk tujuan
syiar Islam dan pengabdian kepada umat. Para pengurus NU, seumpama pagar,
harus melindungi tanaman di dalamnya. Jadi, bukan sebaliknya, malah menjadi
pagar yang makan tanaman.

Dalam soal netralitas, para petinggi NU mungkin tidak perlu malu belajar
kepada para pengurus Muhammadiyah. Kendati tidak sempurna seratus persen,
dalam banyak kasus, mereka bisa menjaga komitmen organisasi untuk netral
dalam menghadapi even pilpres, pilgub, atau pilbup/wali kota.

Mereka (pengurus NU) juga harus jujur pada dirinya, ketika terlibat dalam
hiruk-pikuk politik, pada hakikatnya mereka tidak sedang berbuat kebaikan
untuk NU. Melainkan, mengeksploitasi NU demi kepentingan diri sendiri. Warga
NU pada umumnya tidak menikmati sumbangan Rp 1 miliar atau puluhan mobil
Suzuki APV dari Khofifah. Itu hanya bisa dinikmati pengurusnya.

Kini kita menunggu komitmen pengurus NU pada pilgub putaran kedua ini.
Apakah mereka akan terus mencederai khitah atau menjaganya. Sejarah akan
mencatatnya. Warga NU yang hidup di era ini harus menjadi saksi keabsahan
dan kesahehan sejarah tersebut. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke