Setuju kang fawaid...
 
Kalau ormas berarti memberikan maanfaat untuk masyarakat yang "diwakili".
Dan persis, NU itu ormas dan bergerak di bidang sosial agamis, bukan alat untuk 
mencari jabatan, duit, pangkat atau kedudukan.
 
Kalau mau berkarir politik gunakan jalurnya, salah satunya ya lewat parpol..
Itu baru namanya "gentlemen" dan ngerti posisi.. 
 
Kalau mau jadi gubernur/presiden ya silakan, lgsg resign saja dari kepengurusan 
resmi NU dan silakan mulai cari parpol mana yang dukung.... :)
Cuman kebanyakan dari pengurus, memang agak "banci", beraninya hanya "mundur 
sementara" tapi masih menggunakan kereta NU untuk cari dukungan..mbel kabeh.. :)
Kalau ndak berhasil pencalonannya, ya mbalik lagi ke pengurus NU....
 
Keep smile
 
Salam
aa

--- On Thu, 8/7/08, Ahmad Fawaid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Ahmad Fawaid <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [kmnu2000] Berhentilah Melukai Khitah
To: [email protected]
Date: Thursday, August 7, 2008, 11:32 PM






Bung Anam,
Ketika memosting tulisan editorial Jawa Pos ini, saya tidak pada posisi
setuju dan menolak pernyataan ini. Setidaknya, pengamatan itu nyata ada di
luar sana. Bahwa ada media dengan segala kepentingannya memotret NU yang
belakangan, utamanya di Jawa Timur, menjadi fokus perhatian. Potretannya
memang tidak bisa kita paksa sesuai dengan keinginan 'kita', karena semua
mafhum setiap media menyembunyikan kepentingannya. Bung Anam, yang
sehari-hari bergelut dengan media, pasti tahu itu. Kita berhak menuduh media
bersangkutan tidak objektif dan tendensius. Toh kenyataannya begitu. Semua
media pasti tendensius dan subjektif.

Di luar itu semua, saya punya kesimpulan berbeda, tentu menurut pemahaman
awam saya, bahwa politik praktis adalah barang haram apabila melibatkan
Ormas, termasuk NU.Ini tidak berarti bahwa saya, dan tentu saja Ormas NU,
membenci politik praktis. Sama sekali tidak.Toh, kenyataannya NU pernah
memfasilitasi berdirinya PKB. Itu salah satu bentuk bahwa NU tidak membenci
politik praktis.Tapi tentu dua sayap ini berbeda dalam implementasi
program, walau dalam visi besarnya bisa saja, dan seharusnya bertemu. Toh
banyak aktifis parpol yang kemudian kembali ke Ormas, tapi tidak sedikit
juga aktifis parpol yang masuk parpol. Bagi saya itu sah-sah saja,
sepanjang ia berperan dalam track-nya. Jika dia di parpol, silahkan
bermanuver politik. Tapi kalau di Ormas, ya bermanuver ala ormas. Jangan
diaduk-aduk, nanti bisa kabur dan tidak ada bedanya antara ormas dan parpol,
bukan?

al-faqir:

A. Fawaid Sjadzili

2008/8/8 Kh Anam <[EMAIL PROTECTED] com>

> Mas Fawaid,
> Tulisan editorial Jawa Pos itu menurut saya terlalu menggurui, dan
> sebenarnya tidak etis dalam kerangka jurnalistik karena ditulis atas nama
> redaksi. Media massa umum tidak berhak mencampuri urusan intern organisasi
> dan disampaikan secara verbal begitu. Apalagi dengan kata "melukai", ini
> adalah provokasi negatif dan memojokkan sebagian kalangan.
>
> Saya bukan bagian dari politisasi NU. Namun menurut saya, penilaian tentang
> "politik praktis" di NU itu sepertinya terlalu sentimentil, seakan politik
> adalah barang haram. Saya pernah menulis disini bahwa kata-kata yang
> menyiratkan "kebencian" terhadap politik praktis di tubuh NU itu hanya
> muncul pada dekade akhir 80-an dan 90-an dan digelontorkan oleh kalangan
> muda NU yang terlibat dalam kelompok kajian, atau LSM. Pada awal NU kembali
> ke khittah, awal tahun 80-an nuansanya hanyalah NU ingin keluar dari
> perangkap PPP dan menjadi kekuatan politik yang mandiri yang bisa kemana
> saja.
>
> Dan semestinya "kebencian" terhadap politik itu sudah terbantahkan dengan
> terjunnya "tokoh khittah 1926" KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ke politik
> praktis dengan mendirikan PKB. Dan lihat sekarang betapa Gus Dur lebih
> terlihat sebagai politisi dari pada seorang kiai pesantren.
>
> Artinya gerakan politik itu telah menjadi bagian dari organisasi NU
> semenjak
> awal berdirinya, maka jangan diharamkan karena akan memojokkan NU sebagai
> organisasi. Anda yang tidak berkecimpung dengan politik silakan menjadi
> pengamat yang baik, mengawasi agar para politisi kader NU berbuat sesuai
> dengan prosedur organisasi.
>
> Kalau Anda mau jujur sebenarnya NU lebih santun dari muhammadiyah dalam hal
> memolitisasi organisasinya. Pada pemilu 2004 lalu Muhammadiya
> menginstruksikan badan-badan otonomnya ke bawah untuk memilih PAN, dan itu
> tidak terjadi di NU. Tapi mereka santai-santai saja.
>
> Jangan sampai kemudian kita menggumam ketika kader NU tersingkir dari
> pentas
> politik dan pemerintahan. ..! Jadi begitu,
>
> Satu lagi, kalau anda lihat, tidak ada fasilitas publik NU:
> sekolahan/kampus
> yang bonafit dan rumah sakit yang didirikan oleh NU secara struktural pada
> dekade Khittah 1984-1999, semuanya didirikan pada tahun sebelumnya meski
> tidak bisa memakai embel-embel NU karena itu menjadi larangan buat
> organisasi (yang berafiliasi) politik.
>
> Salam semuanya,
>
> 2008/8/7 Ahmad Fawaid <fawaid.sjadzili@ gmail.com<fawaid.sjadzili% 
> 40gmail.com>
> >
>
>
> > http://www.jawapos. co.id/
> >
> > [ Kamis, 07 Agustus 2008 ]
> > Berhentilah Melukai Khitah
> > *Genderang* ''perang'' menghadapi putaran kedua pemilihan gubernur Jawa
> > Timur sudah ditabuh. Dua pasangan yang masuk putaran kedua, Karsa dan
> Kaji,
> > kini mulai aktif turun ke lapangan untuk berkampanye.
> >
> > Seperti pada putaran pertama lalu, kedua kandidat sangat aktif mendekati
> > sejumlah kiai dan petinggi NU, baik di level nasional, wilayah (Jatim)
> > maupun cabang (kabupaten/pemkot) . Mereka mencoba berebut dukungan dari
> > warga
> > *nahdliyin* yang memang mayoritas di Jatim.
> >
> > Jika kiai dan petinggi NU memegang teguh komitmen khitah, mestinya aksi
> > berebut itu tidak perlu terjadi. Namun, kenyataan di lapangan berbicara
> > lain. Kendati keputusan kembali ke khitah 1926 belum dicabut, para kiai
> dan
> > petinggi NU sangat aktif bermain politik.
> >
> > Publik tentu belum lupa dengan langkah sejumlah kiai dan petinggi PW NU
> > Jatim menggelar jumpa pers yang mengingatkan soal adanya penggelembungan
> > suara dari salah satu kontestan pilgub. Begitu juga langkah Ketua Umum PB
> > NU
> > Hasyim Muzadi yang hadir dan menerima sumbangan Rp 1 miliar dan pembagian
> > mobil Suzuki APV kepada PC Muslimat se-Jatim oleh Khofifah Indar
> Parawansa.
> >
> > Itu yang terekspos ke khalayak dan masih terbungkus embel-embel institusi
> > NU. Gerakan yang dibungkus atas nama pribadi dan luput dari intaian
> > wartawan
> > tentu masih banyak lagi.
> >
> > Dengan kata lain, dalam pilgub Jatim ini, institusi NU sudah terseret
> > begitu
> > jauh dalam hiruk-pikuk pilgub. Karena itu, sangat wajar bila beberapa
> hari
> > lalu muncul desakan dari sejumlah PC NU agar pada putaran kedua nanti
> > pengurus NU bisa benar-benar menjaga institusi NU dari hiruk-pikuk
> pilgub.
> > Alasan mereka, *toh* di masing-masing pasangan ada kader NU-nya (Khofifah
> > dan Saiful). (*Jawa Pos*, 4 Agustus 2008)
> >
> > Kita berharap desakan sejumlah PC NU itu ada tajinya. Para petinggi NU,
> > baik
> > di level nasional, wilayah, cabang hingga ranting bisa benar-benar
> menjaga
> > netralitas NU. Bukan malah sebailknya, melukai dan terus-menerus
> mencederai
> > khitah NU.
> >
> > Mereka yang menjadi pengurus NU hakikatnya orang yang diamanati untuk
> > menjaga NU yang didirikan para kiai (KH Hasyim Asy'ari cs) untuk tujuan
> > syiar Islam dan pengabdian kepada umat. Para pengurus NU, seumpama pagar,
> > harus melindungi tanaman di dalamnya. Jadi, bukan sebaliknya, malah
> menjadi
> > pagar yang makan tanaman.
> >
> > Dalam soal netralitas, para petinggi NU mungkin tidak perlu malu belajar
> > kepada para pengurus Muhammadiyah. Kendati tidak sempurna seratus persen,
> > dalam banyak kasus, mereka bisa menjaga komitmen organisasi untuk netral
> > dalam menghadapi even pilpres, pilgub, atau pilbup/wali kota.
> >
> > Mereka (pengurus NU) juga harus jujur pada dirinya, ketika terlibat dalam
> > hiruk-pikuk politik, pada hakikatnya mereka tidak sedang berbuat kebaikan
> > untuk NU. Melainkan, mengeksploitasi NU demi kepentingan diri sendiri.
> > Warga
> > NU pada umumnya tidak menikmati sumbangan Rp 1 miliar atau puluhan mobil
> > Suzuki APV dari Khofifah. Itu hanya bisa dinikmati pengurusnya.
> >
> > Kini kita menunggu komitmen pengurus NU pada pilgub putaran kedua ini.
> > Apakah mereka akan terus mencederai khitah atau menjaganya. Sejarah akan
> > mencatatnya. Warga NU yang hidup di era ini harus menjadi saksi keabsahan
> > dan kesahehan sejarah tersebut. (*)
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

-- 
A. Fawaid Sjadzili
http://fawaidku. blogspot. com

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke