http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=5219
Nahdliyin
Rabu, 05 November 2008
Serukan Penyelamatan Lingkungan
NU Pelopori Pertemuan Pemuka Agama
JAKARTA ? Permasalahan lingkungan hidup yang kian mengkhawatirkan dewasa 
ini menjadi tanggung jawab semua agama dalam menyelamatkan bumi dari 
kerusakan dan perubahan iklim global. Hal inilah yang menjadi dasar 
diselenggarakannya Konferensi Agama-agama Untuk Perubahan Iklim yang 
diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Nahdlatul 
Ulama (GNKL-NU) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Inggris di Hotel 
Nikko, Jakarta, Senin-Rabu (3-5/11).

Ketua PBNU KH Masyhuri Na?im, menjelaskan, ajaran Al-Quran mewajibkan 
semua manusia agar senantiasa menjaga lingkungan di sekitarnya. 
Menurutnya, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global sekarang ini 
tidak bisa dilepaskan dari perilaku-perilaku masyarakat yang kurang 
paham akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar konferensi untuk perubahan iklim 
ini menjadi tonggak untuk mengingatkan kembali masyarakat akan 
pentingnya peduli terhadap lingkungan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia I Made Gede Erata, menyatakan, 
dalam agama Hindu juga diajarkan bahwa manusia harus mengadakan hubungan 
yang serasi antara dan seimbang antara hubungan dengan Tuhan, sesama 
manusia dan lingkungannya.

?Kami baru sadar akan arti pentingnya lingkungan hidup ketika terjadi 
bencana dan wabah penyakit. Oleh karena itu, sedari awal harus kita 
tanamkan peduli terhadap lingkungan,? ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia Pdt. Dr AA 
Yewangoe, menuturkan, persoalan global warming sudah menjadi 
permasalahan ekologi dan menjadi perhatian umat sejak lama. Perubahan 
iklim sebagai akibat terganggunya ekologi dunia telah menikbulkan 
berbagai ketidakpastian.

?Para petani yang dulunya secara tepat menanam, memelihara dan memanen 
sekarang harus bermain teka-teki dengan cuaca,? tukasnya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada semua pemimpin agama, dengan 
penggalian terhadap amanat kitab suci masing-masing agama agar 
memberikan motivasi kepada umatnya untuk menjaga kelestarian alam.

Pada acara tersebut juga dihasilkan konsensus bersama yang mendesak 
masyarakat di negara-negara maju mengurangi emisi gas rumah kaca, 
mendesak pemerintah Indonesia dan pemimpin agama agar melakukan adaptasi 
dari dampak perubahan iklim, membuat kebijakan agar semua sektor beralih 
kepada bahan bakar yang ramah lingkungan.

Di samping itu, para pemuka agama juga mendesak pemerintah agar 
menggunakan pendekatan agama dan kearifan lokal dalam melakukan upaya 
inovasi, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, karena komunitas umat 
beragama merupakan ujung tombak dalam pemahaman pentingnya pelestarian 
alam di masyarakat.

Pada acara Konferensi Agama-agama Untuk Perubahan Iklim ini dihadiri 
oleh 120 peserta dari 14 propinsi se-Indonesia yang mewakili agama 
Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. (kml)

Kirim email ke