Membaca artikel di Kompas [terlampir di bagian bawah posting di blog]
pagi ini saya terhenyak. Kemaren lusa, sewaktu mendengar pidato Mc Cain
memang saya merasa, bahwa Mc Cain telah memberikan pidato yang sangat
baik. Akan tetapi karena barangkali semua orang, termasuk saya, lebih
menunggu-nunggu pidato kemenangan Obama, maka perhatian awal saya pada
pidato Mc Cain jadi menyurut. Namun pagi ini, pidato itu kembali
menyeruak dan menyadarkan saya tentang sebuah "etika berpolitik" yang
indah, yang patut kita rujuk dalam mengelola demokrasi di negeri kita
tercinta.





Sengaja saya mulai dengan kekalahan yang elegan, karena tradisi ini
memang saya rasa kurang berjalan di negeri kita. Banyak kasus dapat
kita baca dan mungkin juga kita alami, pemilihan kepala daerah berakhir
dengan kemelut. Bahkan berlanjut dengan adu fisik dan berbagai bentuk
kekerasan yang lain. Demokrasi bukanlah hanya sekedar metode untuk
memperoleh kekuasaan, tapi ia juga sebuah "etika". Dan "etika" inilah
yang perlu kita perjuangkan untuk menjadi tradisi bersama dengan proses
pemilihan umum.





Meskipun etika berdemokrasi dengan mengakui kekalahan barangkali
pernah kita lihat sebelumnya, namun acara pemilihan Presiden Amerika
kemaren saya kira adalah yang paling diikuti di jaringan media dunia.
Sehingga, hampir sebagian besar masyarakat dunia dapat mengikuti,
termasuk mengikuti pidato kekalahan elegan dari Mc Cain. Kemaren lusa,
sebelum peghitungan cepat usai dilakukan di seluruh wilayah Amerika
Serikat, namun sudah dapat dipastikan bahwa penghitungan cepat di
beberapa daerah lain memenangkan kubu Obama, Mc Cain
langsung menyampaikan pidato kekalahan. Secara jentelmen ia mengakui
kekalahannya. Ia mengatakan bahwa kekalahan itu karena kesalahannya.
Karena pendukungnya sudah bekerja keras untuk memenangkan
pencalonannya. Meski Mc Cain pun sebenarnya, dalam usianya yang sudah
72 tahun itu, masih berjuang dengan gigih di detik-detik terakhir
dengan melakukan perjalanan maraton 3.000 km untuk kampanye. Selain
mengakui kekalahannya, Mc Cain juga memuji dan menghormati keunggulan
lawan... meski terdengar suara "huuu...." publik yang tidak senang.
Tapi Mc Cain dengan bahasa tubuh dan lisan tetap menyampaikan
penghormatannya untuk Obama. Mc Cain, seorang veteran perang Vietnam
benar-benar menunjukkan sikap ksatria dan menunjukkan kebesaran hati.
Ia benar-benar menunjukkan sebuah etika yang indah, sebuah kekalahan
yang elegan.





Di sisi lain, pidato Obama juga memang memukau, semua orang
mengakui. Dengan santun ia juga memuji Mc
Cain dan Sarah Palin sesaat setelah kemengan mutlak diraihnya. Mereka
adalah orang-orang terhormat yang telah berjuang dengan gigih. Namun
Amerika menginginkan perubahan dengan dirinya. Satu hal lain yang saya
catat, kesantunan itu secara eksplisit disampaikan juga oleh Obama
dengan mengajak Mc Cain bekerjasama. Dengan undangan seperti ini,
sebuah kemenangan menjadi kemenangan bersama, bukan kemenangan
kelompok. Dan saya sedikit banyak yakin bahwa nantinya pemerintahan
Obama akan cenderung bipartisan. Tidak dipimpin oleh orang-orang Partai
Demokrat saja [Sebagian analis menduga bahwa kemungkinan Mc Cain/Hagel
akan menjabat di pucuk pimpinan Pentagon. Saya kira hal-hal yang
berkaitan dengan Homeland Security juga jadi tempat yang pantas untuk
Partai Republik]. 





Dengan dua pidato seperti itu, kekalahan jadi elegan dan kemenangan jadi 
santun. Dan melihat politik menjadi power game yang indah. 



Pertanyaan saya, atau juga harapan saya, adakah hal yang sama akan tercipta di 
Indonesia? .....


http://safiramachrusah.blogspot.com/2008/11/kekalahan-yang-elegan-kemenangan-yang.html









Salam,


Safira [Rosa] Machrusah





      Find your perfect match today at the new Yahoo!7 Dating. Get Started 
http://au.dating.yahoo.com/?cid=53151&pid=1012

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke