Bulan Ramadlan lalu, saya diundang untuk mendiskusikan buku "Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan" di Kebumen. Undangan dikirim melalui sms. Pengundangnya adalah Brain (Bumi Roma Institute, http://bumiroma.wordpress.com/about/) melalui Shb. Borni Kurniawan.
Berhubung diskusi diselenggarakan pada bulan Ramadlan, saya pun menolak dan minta maaf tidak dapat hadir. Saya menyarankan agar orang lain saja yang diundang untuk mendiskusikannya. Sang pengundang pun berkomentar "Wah, nggak seru..." Mungkin yang dimaksud dengan "nggak seru" di sini adalah karena diskusi buku berjalan tanpa kehadiran sang penulis. Maklum, buku "Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan" berasal dari tesis S2 saya "Menanggapi Modernitas: Lesbumi dan Pergulatan NU Mencari Bentuk Relasi Agama, Seni dan Politik, 1952-1967." Komentar sang pengundang itu tiba-tiba membuat saya merasa asing dan tidak nyaman. Bagaimana mungkin kehadiran penulis dipandang sebagai "seru-seruan"? Jika tujuan diskusi buku jelas, siapa pun dapat mendiskusikannya, tidak harus penulisnya hadir. Lalu, ia melanjutkan, "Kalau bulan Syawwal, bisa nggak?" Saya timbang-timbang pengalihan waktu tersebut dan saya pun menyanggupi, "Insya Allah. Kirim saja undangan dan ToR-nya lewat email." *** Sebulan kemudian sms dari Brain masuk lagi, disusul dengan email, memastikan waktu berlangsungnya diskusi buku: Ahad, 9 November 2008, pukul 09.00 WIB, bertempat di M.Ts. Sudirman, desa Kuwayuhan, kecamatan Pejagoan. Saya menjanjikan akan mengirim "catatan singkat" lewat email untuk diskusi buku tersebut yang ternyata tidak sempat saya lakukan karena didera berbagai kesibukan. *** Rabu pagi, 5 November 2008, saya mendapat sms dari mantan pembimbing tesis, Dr. Budiawan, "Jadi 'jualan' buku Lesbumi di Kebumen? Titip salam buat Mas Kyai Murtajib dan Iin. Trims." Saya memang memberi tahu Pak Budiawan soal diskusi buku di Kebumen saat bertemu di kampus Universitas Sanata Dharma (USD), Jogja. Secara suportif Pak Budiawan mengatakan, jika ia berada di Kebumen (sebab istrinya berasal dari Kebumen) tentu akan menyempatkan hadir. Respon Pak Budiawan melalui sms itu tak urung membuat saya tersenyum, sebab saya jadi menemukan makna kalimat "nggak seru" yang dilontarkan oleh pengundang diskusi. Bukankah tesis saya kini telah berubah menjadi buku yang "didagangkan"? Ah, rupanya saya tidak perlu menganggap diskusi buku sebagai aktivitas ilmiah yang ideal. *** Sabtu pagi, 8 November 2008, saya mengirim sms kepada Brain, memberitahukan bahwa saya akan berangkat Ahad, 9 November 2008, ba'da Shubuh. Saya berencana mengajak teman sesama alumni USD, Iim (Nur Imroatus Sholikhah), sebab ia memiliki minat yang tinggi terhadap kajian budaya. Tesisnya tentang "musik gambus" (Gambus sebagai Subkultur Musikal Religius, 2008) sangat menarik. Ia melakukan dekonstruksi terhadap gambus sebagai musik religius dengan menggunakan pendekatan sosiologi budaya musikal, suatu cara pandang baru yang patut diapresiasi. Tetapi bagi saya, yang lebih menarik justru ceritanya tentang fanatisme penggemar musik gambus terhadap lagu "Magadir". Asyik... Sekitar pukul 14.00 WIB, Shb. Borni dari Brain menelepon saya. Ia mengatakan bahwa acara diskusi buku dibatalkan karena situasi politik tidak kondusif. Saya pun bertanya soal relevansi situasi politik di Kebumen dengan acara diskusi buku yang akan diselenggarakan oleh Brain. Shb. Borni menjawab dengan mengajukan pertanyaan balik tentang hubungan kekeluargaan saya dengan Muchammad Romahurmuziy (Romy), calon anggota legislatif DPR RI dari PPP nomor urut 1 daerah pemilihan Jawa Tengah VII (Kebumen, Banjarnegara dan Purbalingga). Shb. Borni juga menanyakan hubungan kekeluargaan saya dengan almarhum Moh. Tolchah Mansoer. Apakah karena saya "kakak kandung" Romy dan "putri kandung" Moh. Tolchah Mansoer lalu acara tersebut dibatalkan. Saya dibuat terheran-heran dengan "aksi sepihak" yang dilakukan oleh Brain. Ada apa ini? Barangkali perlu saya tambahkan informasi bahwa "kakak kandung" saya, Safira Machrusah, adalah calon anggota legislatif DPR RI dari PKB nomor urut 3 daerah pemilihan Jawa Tengah II (Demak, Kudus, Jepara). Pengalaman manis tersebut saya ceritakan kepada keluarga dan orang-orang dekat. Ah, lagi-lagi saya tidak perlu menganggap diskusi buku sebagai aktivitas ilmiah yang ideal. Selain telah berubah menjadi buku yang "didagangkan", kini tesis saya telah berubah menjadi buku yang "dipolitikkan". Bukankah ketidakhadiran penulis justru membuat acara diskusi buku yang batal diselenggarakan itu menjadi "seru"? Kepada kawan aktivis PMII di Jogja, Shb. Muhammad Mustafied, saya mengatakan bahwa saya dicekal di Kebumen bak Dewi Persik. Lalu kawan saya menimpali, "Bukan Dewi Persik, tetapi Pramoedya. Ha..ha..ha.." Betapa susah menjadi diri sendiri, menjadi non-partisan. Salam, 'Ntis
