Nam, ente nggak paham juga ya...:-) ning ntis di cekal karena orang kebumen nggak suka lagu "magadir" tahu...kalau di banten dijamin deh nggak bakal dicekal karena hampir seluruh warga banten penggemar "magadir" termasuk yg lagi nulis ini....hehehe.
Buat ning ntis semoga tidak mengurangi semangat untuk terus berkarya, begitulah masyarakat yg belum paham apa itu demokrasi even itu lsm yg bernama brain. Semoga sehat selalu. Salam hormat, syaikhul ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Kh Anam Sent: Wednesday, November 19, 2008 12:51 PM To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Cerita: Mengapa saya Dicekal? Dewi persik dicekal karena seksi, Pak Pram dicekal karena kritis, Lha sebenarnya anda ini dicekal karena apa? Salam, Anam 2008/11/18 Ntis <[EMAIL PROTECTED] <mailto:chisaan2000%40yahoo.com> > > Bulan Ramadlan lalu, saya diundang untuk mendiskusikan buku "Lesbumi; > Strategi Politik Kebudayaan" di Kebumen. Undangan dikirim melalui sms. > Pengundangnya adalah Brain (Bumi Roma Institute, > http://bumiroma.wordpress.com/about/ <http://bumiroma.wordpress.com/about/> ) melalui Shb. Borni Kurniawan. > > Berhubung diskusi diselenggarakan pada bulan Ramadlan, saya pun > menolak dan minta maaf tidak dapat hadir. Saya menyarankan agar orang > lain saja yang diundang untuk mendiskusikannya. Sang pengundang pun > berkomentar "Wah, nggak seru..." Mungkin yang dimaksud dengan "nggak > seru" di sini adalah karena diskusi buku berjalan tanpa kehadiran sang > penulis. Maklum, buku "Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan" berasal > dari tesis S2 saya "Menanggapi Modernitas: Lesbumi dan Pergulatan NU > Mencari Bentuk Relasi Agama, Seni dan Politik, 1952-1967." > > Komentar sang pengundang itu tiba-tiba membuat saya merasa asing dan > tidak nyaman. Bagaimana mungkin kehadiran penulis dipandang sebagai > "seru-seruan"? Jika tujuan diskusi buku jelas, siapa pun dapat > mendiskusikannya, tidak harus penulisnya hadir. Lalu, ia melanjutkan, > "Kalau bulan Syawwal, bisa nggak?" Saya timbang-timbang pengalihan > waktu tersebut dan saya pun menyanggupi, "Insya Allah. Kirim saja > undangan dan ToR-nya lewat email." > > *** > > Sebulan kemudian sms dari Brain masuk lagi, disusul dengan email, > memastikan waktu berlangsungnya diskusi buku: Ahad, 9 November 2008, > pukul 09.00 WIB, bertempat di M.Ts. Sudirman, desa Kuwayuhan, > kecamatan Pejagoan. Saya menjanjikan akan mengirim "catatan singkat" > lewat email untuk diskusi buku tersebut yang ternyata tidak sempat > saya lakukan karena didera berbagai kesibukan. > > *** > > Rabu pagi, 5 November 2008, saya mendapat sms dari mantan pembimbing > tesis, Dr. Budiawan, "Jadi 'jualan' buku Lesbumi di Kebumen? Titip > salam buat Mas Kyai Murtajib dan Iin. Trims." > > Saya memang memberi tahu Pak Budiawan soal diskusi buku di Kebumen > saat bertemu di kampus Universitas Sanata Dharma (USD), Jogja. Secara > suportif Pak Budiawan mengatakan, jika ia berada di Kebumen (sebab > istrinya berasal dari Kebumen) tentu akan menyempatkan hadir. > > Respon Pak Budiawan melalui sms itu tak urung membuat saya tersenyum, > sebab saya jadi menemukan makna kalimat "nggak seru" yang dilontarkan > oleh pengundang diskusi. Bukankah tesis saya kini telah berubah > menjadi buku yang "didagangkan"? Ah, rupanya saya tidak perlu > menganggap diskusi buku sebagai aktivitas ilmiah yang ideal. > > *** > > Sabtu pagi, 8 November 2008, saya mengirim sms kepada Brain, > memberitahukan bahwa saya akan berangkat Ahad, 9 November 2008, ba'da > Shubuh. Saya berencana mengajak teman sesama alumni USD, Iim (Nur > Imroatus Sholikhah), sebab ia memiliki minat yang tinggi terhadap > kajian budaya. Tesisnya tentang "musik gambus" (Gambus sebagai > Subkultur Musikal Religius, 2008) sangat menarik. Ia melakukan > dekonstruksi terhadap gambus sebagai musik religius dengan menggunakan > pendekatan sosiologi budaya musikal, suatu cara pandang baru yang > patut diapresiasi. Tetapi bagi saya, yang lebih menarik justru > ceritanya tentang fanatisme penggemar musik gambus terhadap lagu > "Magadir". Asyik... [Non-text portions of this message have been removed]
