Dewi persik dicekal karena seksi,
Pak Pram dicekal karena kritis,
Lha sebenarnya anda ini dicekal karena apa?

Salam,
Anam

2008/11/18 Ntis <[EMAIL PROTECTED]>

>   Bulan Ramadlan lalu, saya diundang untuk mendiskusikan buku "Lesbumi;
> Strategi Politik Kebudayaan" di Kebumen. Undangan dikirim melalui sms.
> Pengundangnya adalah Brain (Bumi Roma Institute,
> http://bumiroma.wordpress.com/about/) melalui Shb. Borni Kurniawan.
>
> Berhubung diskusi diselenggarakan pada bulan Ramadlan, saya pun
> menolak dan minta maaf tidak dapat hadir. Saya menyarankan agar orang
> lain saja yang diundang untuk mendiskusikannya. Sang pengundang pun
> berkomentar "Wah, nggak seru..." Mungkin yang dimaksud dengan "nggak
> seru" di sini adalah karena diskusi buku berjalan tanpa kehadiran sang
> penulis. Maklum, buku "Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan" berasal
> dari tesis S2 saya "Menanggapi Modernitas: Lesbumi dan Pergulatan NU
> Mencari Bentuk Relasi Agama, Seni dan Politik, 1952-1967."
>
> Komentar sang pengundang itu tiba-tiba membuat saya merasa asing dan
> tidak nyaman. Bagaimana mungkin kehadiran penulis dipandang sebagai
> "seru-seruan"? Jika tujuan diskusi buku jelas, siapa pun dapat
> mendiskusikannya, tidak harus penulisnya hadir. Lalu, ia melanjutkan,
> "Kalau bulan Syawwal, bisa nggak?" Saya timbang-timbang pengalihan
> waktu tersebut dan saya pun menyanggupi, "Insya Allah. Kirim saja
> undangan dan ToR-nya lewat email."
>
> ***
>
> Sebulan kemudian sms dari Brain masuk lagi, disusul dengan email,
> memastikan waktu berlangsungnya diskusi buku: Ahad, 9 November 2008,
> pukul 09.00 WIB, bertempat di M.Ts. Sudirman, desa Kuwayuhan,
> kecamatan Pejagoan. Saya menjanjikan akan mengirim "catatan singkat"
> lewat email untuk diskusi buku tersebut yang ternyata tidak sempat
> saya lakukan karena didera berbagai kesibukan.
>
> ***
>
> Rabu pagi, 5 November 2008, saya mendapat sms dari mantan pembimbing
> tesis, Dr. Budiawan, "Jadi 'jualan' buku Lesbumi di Kebumen? Titip
> salam buat Mas Kyai Murtajib dan Iin. Trims."
>
> Saya memang memberi tahu Pak Budiawan soal diskusi buku di Kebumen
> saat bertemu di kampus Universitas Sanata Dharma (USD), Jogja. Secara
> suportif Pak Budiawan mengatakan, jika ia berada di Kebumen (sebab
> istrinya berasal dari Kebumen) tentu akan menyempatkan hadir.
>
> Respon Pak Budiawan melalui sms itu tak urung membuat saya tersenyum,
> sebab saya jadi menemukan makna kalimat "nggak seru" yang dilontarkan
> oleh pengundang diskusi. Bukankah tesis saya kini telah berubah
> menjadi buku yang "didagangkan"? Ah, rupanya saya tidak perlu
> menganggap diskusi buku sebagai aktivitas ilmiah yang ideal.
>
> ***
>
> Sabtu pagi, 8 November 2008, saya mengirim sms kepada Brain,
> memberitahukan bahwa saya akan berangkat Ahad, 9 November 2008, ba'da
> Shubuh. Saya berencana mengajak teman sesama alumni USD, Iim (Nur
> Imroatus Sholikhah), sebab ia memiliki minat yang tinggi terhadap
> kajian budaya. Tesisnya tentang "musik gambus" (Gambus sebagai
> Subkultur Musikal Religius, 2008) sangat menarik. Ia melakukan
> dekonstruksi terhadap gambus sebagai musik religius dengan menggunakan
> pendekatan sosiologi budaya musikal, suatu cara pandang baru yang
> patut diapresiasi. Tetapi bagi saya, yang lebih menarik justru
> ceritanya tentang fanatisme penggemar musik gambus terhadap lagu
> "Magadir". Asyik...
>
> Sekitar pukul 14.00 WIB, Shb. Borni dari Brain menelepon saya. Ia
> mengatakan bahwa acara diskusi buku dibatalkan karena situasi politik
> tidak kondusif. Saya pun bertanya soal relevansi situasi politik di
> Kebumen dengan acara diskusi buku yang akan diselenggarakan oleh
> Brain. Shb. Borni menjawab dengan mengajukan pertanyaan balik tentang
> hubungan kekeluargaan saya dengan Muchammad Romahurmuziy (Romy), calon
> anggota legislatif DPR RI dari PPP nomor urut 1 daerah pemilihan Jawa
> Tengah VII (Kebumen, Banjarnegara dan Purbalingga). Shb. Borni juga
> menanyakan hubungan kekeluargaan saya dengan almarhum Moh. Tolchah
> Mansoer. Apakah karena saya "kakak kandung" Romy dan "putri kandung"
> Moh. Tolchah Mansoer lalu acara tersebut dibatalkan. Saya dibuat
> terheran-heran dengan "aksi sepihak" yang dilakukan oleh Brain. Ada
> apa ini? Barangkali perlu saya tambahkan informasi bahwa "kakak
> kandung" saya, Safira Machrusah, adalah calon anggota legislatif DPR
> RI dari PKB nomor urut 3 daerah pemilihan Jawa Tengah II (Demak,
> Kudus, Jepara).
>
> Pengalaman manis tersebut saya ceritakan kepada keluarga dan
> orang-orang dekat. Ah, lagi-lagi saya tidak perlu menganggap diskusi
> buku sebagai aktivitas ilmiah yang ideal. Selain telah berubah menjadi
> buku yang "didagangkan", kini tesis saya telah berubah menjadi buku
> yang "dipolitikkan". Bukankah ketidakhadiran penulis justru membuat
> acara diskusi buku yang batal diselenggarakan itu menjadi "seru"?
> Kepada kawan aktivis PMII di Jogja, Shb. Muhammad Mustafied, saya
> mengatakan bahwa saya dicekal di Kebumen bak Dewi Persik. Lalu kawan
> saya menimpali, "Bukan Dewi Persik, tetapi Pramoedya. Ha..ha..ha.."
>
> Betapa susah menjadi diri sendiri, menjadi non-partisan.
>
> Salam,
> 'Ntis
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke