Sdr Aji,
saya punya pengalaman dengan kaidah ini. di Munas NU di Pesantren al Ihya 
Ulumaddin, Cilacap, tahun 1987, Rais Am Kiai Ahmad Siddiq melontarkan ide ttg 
tajdid. dengan tiga pilar, al ihya, al ibanah, dan al-iadah, dan juga dari 
kaidah ini. semangatnya tentu al-Ghazalian. Yang mengherankan justru respon Gus 
Dur waktu itu. katanya, ide itu bisa mengundang reaksi negatif dari para 
peserta. ini baru namanya prejudice-nya Gus Dur terhadap kiai, sama dengan 
prejudice-nya sebagian anak anak liberal terhadap kiai-kiai kita. (termasuk 
surveynya PPIM yang "sesat pikir" itu ttg pluralisme di NU dan Muhammadiyah, 
krn itu akan menajdi amunisi baru bagi amsuknya proyke-proyek imperialis baru 
ttg pentingnya liberlaisme/pluarlsiem/sekualrisme/modernisme ke dalam pesantren 
dst, dan bahwa ISlam Nu dan Muhamamdiyah masih intoleran, anti kebhineaan, dsb, 
). 
terus, dari sekian hadirin itu, ada peserta yang pulang ke pesantrennya membawa 
oleh-oleh tajdid itu, dan diterangkannay engan detil kpd santri-santrinya. dan 
sayalha di antara santri-santri, waktu itu saya amsih di tahun pertama Aliyah.
bagi kiai saya, al kahdzu dan muhfazah, bukanlah perkara otak atik teks mana 
yang ashlah mana yang shalah. tapi soal pengalamannya. dan itu saya alami sejak 
di pesantren, dimana saya menikmati dua dunia sekaligus, dunia muhafazah, dan 
dunia akhdzu, dunai kitab kuning, dunia kitab putih. Anda bacalah al-Jabiri, 
yang punya kemiripan dengan kaidah ini, yaitu metode fashl dan washl. 
dinamika pemikiran dalam kaidah itu diinspirasikan oleh alGahzali, yg di 
antaranya meng-akhdzu, menimba, logika Aristoteles, tp km dipake untuk 
memperkuat basis penalaran Aswaja. itu sebbanya ia tidak emndirkan mazhab abru, 
tp tetap muhafazah sama Syafii dan Asy'ari.
 salam
nb.
yang bisa dishare nanti saya sampaikan

Jadi, pemaknaan muhafazah dan akhdzu itu sellau kontekstual.




________________________________
From: Aji Hermawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, December 9, 2008 2:55:22 PM
Subject: Re: [kmnu2000] BUAT SDR SYAIKHUL AMIN: BELAJAR BERKACA TTG SIAPA KITA


Daeng Baso,

Menurut saya, al-muahafadhoh dan al-akhdzu itu membawa problem 
tersendiri. Kuncinya terletak di "shalih" dan "ashlah", bagaimana 
menentukannya? Jadid or khalaf yang mana yang ashlah?

Di sinilah perlunya metodologi. Kira-kira dulu, apa ya yang menjadi 
metodologi atau saringan sesepuh NU ketika merumuskan jargon ini? 
Mungkin sampeyan punya informasi atau bahkan rumusnya? atau yang lain 
punya sst yang bisa dishare?

Maturnuwun

Aji Hermawan
mBogor

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke