Mas Baso,
Ikut nimbrung ya. Bagi saya, metode Jabiri dengan jargon NU tak selamanya 
seirama. Okelah katakanlah fashl-washl sejajar dengan al-akhdhu-wal muhafadhah, 
tapi konklusi Jabiri dengan doktrin NU tak sejalan. Ambil contoh, misalnya, NU 
mengapresiasi al-Ghazali dalam sufistiknya, sementara al-Jabiri tampak jijik 
pada al-Ghazali yang diklaim terjangkiti hermetisme dan diklaim sebagai biang 
kemunduran peradaban Arab-Islam. Hal itu dikarenakan kemunduran peradaban 
Arab-Islam selama ini senantiasa bersamaan dengan menyebarnya sufisme Ghazali. 
Jabiri dalam hal ini terpengaruh oleh Festugiere, dalam La Revelation d`Hermes 
Trismegiste, yang berasumsi bahwa keruntuhan rasionalitas Yunani disebabkan 
oleh meruyaknya illuminasi. Kemudian Jabiri menyimpulkan bahwa 
tasawuf=hermetisme adalah biang kemunduran Yunani dan Arab-Islam. Nah, jika 
Anda konsisten dengan Jabiri, harusnya Anda berani membuang tasawuf al-Ghazali 
dari peta epistemologi NU.
Jabiri juga mengkritik Ghazali yang bermuka dua. Upaya Ghazali mengadopsi 
filsafat Aristo hanya untuk kepentingan ideologis untuk mengukuhkan teologi 
Asyari dan Usul Fiqh Syafii yang pada waktu itu menjadi ideologi Dinasti 
Saljuk. Upaya adopsi Ghazali disayangkan oleh al-Jabiri karena tidak bertujuan 
ilmiah murni.
Jabiri sangat mengapresiasi filsafat paripatetik Ibn Rusyd, tapi dikalangan NU 
mengapa filsafat dihinakan, dianggap tabu. Bidayah Mujtahid karya Ibn Rusyd 
memang diterima. Ilmu mantiq juga iya. Tapi selebihnya, seperti gagasan 
kausalitas, ditolak karena bertentangan dengan doktrin Asy'ariyyah. Nah, jika 
Anda konsisten dengan Jabiri, harusnya Anda berani mengritik sikap ambigu NU 
tersebut.
Dalam introduksi al-Kasyfu an Manahij Adilah fi Aqaid Millah karya Ibn Rusyd, 
al-Jabiri tampak "mantuk-mantuk" dengan kritik Ibn Rusyd kepada konsep teologis 
Asy'ariyyah yang dinilai bertele-tele. Tapi kenapa Anda, sebagai pengagum 
Jabiri, tidak berani mengkritik Asy'ariyyah hanya karena Anda orang NU?
 

 Salam
R-1
http://www.irwanmasduqi83.blogspot.com/




________________________________
Dari: ahmad baso <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 9 Desember, 2008 15:48:02
Topik: Re: [kmnu2000] BUAT SDR SYAIKHUL AMIN: BELAJAR BERKACA TTG SIAPA KITA


Sdr Aji,
saya punya pengalaman dengan kaidah ini. di Munas NU di Pesantren al Ihya 
Ulumaddin, Cilacap, tahun 1987, Rais Am Kiai Ahmad Siddiq melontarkan ide ttg 
tajdid. dengan tiga pilar, al ihya, al ibanah, dan al-iadah, dan juga dari 
kaidah ini. semangatnya tentu al-Ghazalian. Yang mengherankan justru respon Gus 
Dur waktu itu. katanya, ide itu bisa mengundang reaksi negatif dari para 
peserta. ini baru namanya prejudice-nya Gus Dur terhadap kiai, sama dengan 
prejudice-nya sebagian anak anak liberal terhadap kiai-kiai kita. (termasuk 
surveynya PPIM yang "sesat pikir" itu ttg pluralisme di NU dan Muhammadiyah, 
krn itu akan menajdi amunisi baru bagi amsuknya proyke-proyek imperialis baru 
ttg pentingnya liberlaisme/ pluarlsiem/ sekualrisme/ modernisme ke dalam 
pesantren dst, dan bahwa ISlam Nu dan Muhamamdiyah masih intoleran, anti 
kebhineaan,  dsb, ). 
terus, dari sekian hadirin itu, ada peserta yang pulang ke pesantrennya membawa 
oleh-oleh tajdid itu, dan diterangkannay engan detil kpd santri-santrinya. dan 
sayalha di antara santri-santri, waktu itu saya amsih di tahun pertama Aliyah.
bagi kiai saya, al kahdzu dan muhfazah, bukanlah perkara otak atik teks mana 
yang ashlah mana yang shalah. tapi soal pengalamannya. dan itu saya alami sejak 
di pesantren, dimana saya menikmati dua dunia sekaligus, dunia muhafazah, dan 
dunia akhdzu, dunai kitab kuning, dunia kitab putih. Anda bacalah al-Jabiri, 
yang punya kemiripan dengan kaidah ini, yaitu metode fashl dan washl. 
dinamika pemikiran dalam kaidah itu diinspirasikan oleh alGahzali, yg di 
antaranya meng-akhdzu, menimba, logika Aristoteles, tp km dipake untuk 
memperkuat basis penalaran Aswaja. itu sebbanya ia tidak emndirkan mazhab abru, 
tp tetap muhafazah sama Syafii dan Asy'ari.
 salam
nb.
yang bisa dishare nanti saya sampaikan

Jadi, pemaknaan muhafazah dan akhdzu itu sellau kontekstual.

____________ _________ _________ __
From: Aji Hermawan <aji...@gmail. com>
To: kmnu2...@yahoogroup s.com
Sent: Tuesday, December 9, 2008 2:55:22 PM
Subject: Re: [kmnu2000] BUAT SDR SYAIKHUL AMIN: BELAJAR BERKACA TTG SIAPA KITA

Daeng Baso,

Menurut saya, al-muahafadhoh dan al-akhdzu itu membawa problem 
tersendiri. Kuncinya terletak di "shalih" dan "ashlah", bagaimana 
menentukannya? Jadid or khalaf yang mana yang ashlah?

Di sinilah perlunya metodologi. Kira-kira dulu, apa ya yang menjadi 
metodologi atau saringan sesepuh NU ketika merumuskan jargon ini? 
Mungkin sampeyan punya informasi atau bahkan rumusnya? atau yang lain 
punya sst yang bisa dishare?

Maturnuwun

Aji Hermawan
mBogor

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka 
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke