Ada benarnya juga, gus anam.... ente benar...yang begini, aku setuju... tumben ya..he2... sebagai anak muda, mestinya pespektif kita ya membela wong ndeso... hidup pribumi...
salam, ME --- Kh Anam <[email protected]> menulis: > Yang negatif dari jalan tol adalah memuluskan arus > urbanisasi. Kota-kota > jadi padat. Kemacetan itu justru dimulai dengan > pembangunan jalan tol. > Anak-anak desa berbondong-bondong berdesak-desakan > ke kota. Pertanian > ditinggalkan. > > Kisah pembuatan jalan tol sebenarnya adalah kisah > tentang pengambilalihan > tanah rakyat oleh pengusaha besar, dan kisah > pengusiran orang-orang desa ke > kota. Deru-deru kendaraan besar lintas cepat itu > membuat desa sangat berisik > dan mengusir para penghuninya ke luar desa. > > Maka mestinya maslahat ammah itu tidak ada di jalan > tol. Mafsadahnya lebih > beasr dari manfaatnya. Kalau pemerintah benar-benar > mau membangun > perekonomian ya bangunlah jalan-jalan umum; yang > menghubungkan sawah dengan > pasar, desa dengan desa. > > Saya pribadi mendukung Gus Jamal. Apalagi jika > proyek tol telah mengusik > tanah pesantren, tanah leluhur. Sama seperti ketika > melihat perampok > bersenjata melukai orang tua kita didepan mata kita. > Tanpa senjata pun kita > akan bertempur..... > > Salam, > > > 2009/1/15 Fathonah K. Daud <[email protected]> > > > Salam, > > > > Sejatinya saya tidak tahu dan tidak mengikuti > esensi konflik yagn terjadi > > di Babakan. saya hanya mengetahuinya setelah > membaca tulisan anda di bawah > > ini. > > > > Mengenai pengajian yang berlanjut ke bab jalan > tol. Saya ingin mencoba > > memahami pandangan Pak Yai Said tentang 'jalan > tol' --yang dalam pandangan > > sdr. Jamal berbeda dengan 'jalan umum'. Bagi saya, > jalan tetap jalan, dengan > > tanpa melihat esensi nilai di dalamnya atau bahkan > adanya unsur2 dan motif2 > > tertentu di dalamnya, selama ia masih berfungsi > sebagai alat penghubung atau > > jalur lalu lintas (apapun) masyarakat. Ini > bermakna, tol tetap memberikan > > manfaat (maslahah) besar kepada masyarakat. > Ya...minimal telah mengurangi > > kemacetan jalan raya biasa. > > > > Kita harus realistis dan berfikir agak ke depan > dikitlah...Masyarakat kita > > itu semakin bertambah. Bayangkan kalau tidak ada > jalan tol, kemacetan jalan > > raya jelas terjadi di mana-mana dan ini tentu > mempunyai dampak yang besar > > terhadap produktifitas dan pembangunan negara > kita. Lalu berapa kerugian > > yang diterima oleh pemerintah dan masyarakat > secara umum jika tidak ada > > jalan tol??? > > > > Peace kacang pis, > > Fath > > > > --- Pada Isn, 12/1/09, Jamaluddin Mohammad > <[email protected]<cerbon_wong%40yahoo.com>> > > menulis: > > > > > Daripada: Jamaluddin Mohammad > <[email protected]<cerbon_wong%40yahoo.com> > > > > > > Subjek: [kmnu2000] Ngaji Bersama Kang Said > > > Kepada: "milis Babakan" > <[email protected]<elbebken%40yahoogroups.com>>, > > "Santri Cirebon" > <[email protected]<santricerbon%40yahoogroups.com>>, > > "wong cerbon" <[email protected] > <wongcerbon%40yahoogroups.com>>, > > "KMNU 2000" <[email protected] > <kmnu2000%40yahoogroups.com>>, "PPI > > India" <[email protected] > <ppiindia%40yahoogroups.com>>, "media > > baca" <[email protected] > <mediabaca%40yahoogroups.com>> > > > Tarikh: Isnin, 12 Januari, 2009, 10:37 PM > > > Setiap malam Rabu Kang Said (KH Said Aqil Siraj) > membuka > > > pengajian di rumahnya, Ciganjur. Materi > pengajiannya adalah > > > Tafsir Ibnu Katsir/Tafsir Kabir. > > > > > > Model pengajiannya cair dan mengalir: Kang Said > membacakan > > > isinya kemudian menjelaskan dan menjabarkan > artinya. Di > > > sela-sela pengajian, peserta pengajian boleh > memotong dengan > > > pertanyaan, sanggahan, ataupun sekadar > mengeluarkan pendapat > > > pribadi. > > > > > > Suasana pengajian terasa hidup dan segar, karena > proses > > > pengajian tidak tertuju dan terpusat pada satu > arah. Pola > > > yang dibangun dalam pengajian itu bukan monolog > melainkan > > > dialog. > > > > > > Di majelis pengajian ini, Kang Said bukanlah > satu-satunya > > > orang yang memiliki "pengetahuan" dan > "kebenaran". > > > Kang Said memperlakukan peserta pengajian > sebagai mitra > > > dialog yang sejajar. > > > > > > Terkadang, Kang Said hanya mendengar dan > mencercap beragam > > > pendapat dari peserta pengajian tanpa memberikan > tanggapan > > > ataupun jawaban. Semuanya dibiarkan mengalir > bebas tanpa > > > batas. > > > > > > Kang Said berhasil menjadikan ruang pengajiannya > sebagai > > > medan kontestasi beragam pendapat dan gagasan > yang mencuat > > > dari masing-masing peserta pengajian. Dari > santri totok, > > > anak kuliahan, yang berpikiran kolot, moderat, > sampai yang > > > liberal semuanya ada di sini. > > > > > > Seusai pengajian, para peserta biasanya tidak > langsung > > > bergegas pulang. Kang Said membuka "obrolan > bebas" yang > > > biasanya terkait dengan isu-isu kontemporer. > Isu-isu yang > > > dibicarakan beragam, mulai dari persolana > sosial, politik, > > > ekonomi, hingga kebudayaan. Maklum, pesertanya > juga bukan > > > berasal dari latar belakang yang sama. > > > > > > Di sela-sela obrolan itu, Kang Said bertanya > kepada saya > > > menyangkut perkembangan terakhir soal tol. > Menurutnya, > > > selama ini ia mengikuti terus perkembangan > berita adanya > > > penolakan Pesantren Babakan terhadap mega projek > tol Cikapa > > > (Cikampek-Palimanan), namun bukan dari sumbernya > langsung. > > > Ia mendengar dari surat kabar dan televisi. > > > > > > Kang Said menyayangkan adanya pro-kontra yang > terjadi di > > > Babakan. Apalagi, menurut isu yang sengaja > dihembuskan > > > pemerintah pusat, bahwa yang menolak hanyalah > beberapa > > > gelintir kiai. > > > > > > Saya ceritakan apa adanya. Saya juga sempat > meluruskan > > > beberapa informasi keliru yang masuk ke Kang > Said. Saya > > > katakan bahwa "pro-kontra" yang terjadi di > Babakan > > > tidaklah muncul secara alamiah, tanpa rekayasa. > Sebab, sejak > > > mega projek ini digulirkan, yakni pada 1996, > seluruh > > > kiai/ulama yang ada di Babakan sepakat untuk > menolaknya. > > > Tidak ada satupun kiai yang menyempal dari > kesepakatan > > > tersebut. > > > > > > Memang, ada semacam "penyakit laten" yang sudah > sejak > > > lama bercokol dan menggerogoti tubuh Pesantren > Babakan, > > > yakni soal kesenjangan dan kecemburuan sosial > antara > === message truncated === Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com
