Salam semua, Saya berharap bahwa makna pembangunan tetap tidak lari dari arti dan konsepnya yang sebenarnya. Yakni, pembangunan semestinya membawa kesejahteraan dan kebaikan bersama. Mungkin manajemen dan prosedur pembangunan tol di Indonesia ini yang perlu diperbaiki. Misalnya masalah kompensasinya gak sesuai. Apalagi sampai menggigit dan merampas --atau mengikut bahasa sdr. Anam mengambilalih--tanah rakyat untuk kepentingan tol. Wah..wah ini seh keterlaluan banget dan memang gak bisa diterima.
Saya jadi bingung, dibangun jalan tol mafsadahnya lebih besar daripada maslahahnya. Lha majunya kapan Indonesia ini? Apapun jalan tol adalah suatu keperluan yang mendesak dan ia mencerminkan negara madani. Kita bisa menyontoh ke negara2 luar, gak jauh2, negara jiran kita aja (Singapore, Malaysia atau Brunai). Saya malah mengimpikan pembangunan tol ini sepanjang Sabang sampai Merauke seperti di negara2 itu...kapan ya? Hal itu bukan mustahil terwujud, tapi untuk kasus kepemimpinan Indonesia mungkin bisa wujud nunggu antara 50-100 tahun lagi. Malah di Malaysia bukan hanya tol, sudah ada smart tol, dibangun terowongan di bawah tanah. Namun tol yang menjadi impian saya adalah tol seperti di Saudi. Di sana, seluruh jalan adalah tol dan tanpa dipungut bayaran alias gratis. enak kan? semua jadi mulus. Lagi-lagi saya contohkan di Malaysia karena masalah kesejahteraan rakyatnya perlu dicontoh. Bandfingkan di sana, rakyat malah berbondong-bondong ingin tanahnya dipakai jalan tol. Sebab kompensasinya lebih gede. Mereka jg bisa bargaining tetanng harga, sampai dapat 2 kali atau 3 kali lipat keuntungan daripada dijual biasa, karena tidak melalui calo. Kalau ada bangunan awam yang terkena, seperti masjid atau sekolahan, akan dibangun gantinya di lokasi berhampiran yang lebih bagus dan lebih nyaman dengan pelbagai kemudahan yang mengikuti citarasa modern. Jangankan pesantren kali, sebelum penggusuran rumah2 kumuh (di sana disebut 'rumah setinggan' yang biasa ditempati orang2 Bawean/Madura ber-IC merah) dilakukan aja, kerajaan Malay sudah menyiapkan rumah gantinya yang lebih 'wah' dengan segala kemudahan lainnya seperti sudah dicat, siap listrik, air, lantai marmer, ada taman untuk main anak2 dan tempat parkir sekali. Jadi rakyat makin senang dan makmur. Demikian pula perbaikan/pembangunan jalan2 biasa, di Malay sebelumnya sudah disiapkan jalur alternatif. Malah sering dibangun jalan baru sementara sebelum pembangunan jalan dimulai. Jadi pembangunn jalan raya/tol tidak memgganggu dan terganggu oleh ramaintya lalu lintas. Masalah macet itu sudah lumrah, tapi paling lama hanya 1 jam. Iya..ya, saya sangat setuju jika jalan2 raya kita diperbaiki bukan hanya di kota2 besar, tapi juga jalan2 di daerah dibangun dan dilebarkan. Pasal jeleknya jalan raya kita ini, saya sendiri juga sering mengeluh setiap jalan. Hanya karena menempuh perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam 1-2 jam sering molor durasinya sampai 3-4 jam. Kalau di Malaysia, dalam perjalanan yagn sama bisa dikejar dalam 40-50 menit aja dengan kecepatan antara 80-100/jam. Sdr. Anam, Setahu saya, arus urbanisasi di Indonesia sudah jamak sebelum adanya tol..he he saya juga gak tahu kapan tol di Indonesia dibangun. Maksud saya, arus urbanisasi di Indonesia bukan semata2 gara2 pembangunan jalan tol. sperti halnya pertanian ditinggalkan penduduk kampung juga banyak faktor dan itu tidak usah saya elaborate di sini karena akan terlalu panjang. Itu aja dulu dan trims banget Peace kacang pis, Fath --- Pada Khm, 15/1/09, Kh Anam <[email protected]> menulis: > Daripada: Kh Anam <[email protected]> > Subjek: Re: [kmnu2000] Ngaji Bersama Kang Said (Bab Jalan TOL) > Kepada: [email protected] > Tarikh: Khamis, 15 Januari, 2009, 4:17 PM > Yang negatif dari jalan tol adalah memuluskan arus > urbanisasi. Kota-kota > jadi padat. Kemacetan itu justru dimulai dengan pembangunan > jalan tol. > Anak-anak desa berbondong-bondong berdesak-desakan ke kota. > Pertanian > ditinggalkan. > > Kisah pembuatan jalan tol sebenarnya adalah kisah tentang > pengambilalihan > tanah rakyat oleh pengusaha besar, dan kisah pengusiran > orang-orang desa ke > kota. Deru-deru kendaraan besar lintas cepat itu membuat > desa sangat berisik > dan mengusir para penghuninya ke luar desa. > > Maka mestinya maslahat ammah itu tidak ada di jalan tol. > Mafsadahnya lebih > beasr dari manfaatnya. Kalau pemerintah benar-benar mau > membangun > perekonomian ya bangunlah jalan-jalan umum; yang > menghubungkan sawah dengan > pasar, desa dengan desa. > > Saya pribadi mendukung Gus Jamal. Apalagi jika proyek tol > telah mengusik > tanah pesantren, tanah leluhur. Sama seperti ketika melihat > perampok > bersenjata melukai orang tua kita didepan mata kita. Tanpa > senjata pun kita > akan bertempur..... > > Salam, > > > 2009/1/15 Fathonah K. Daud <[email protected]> > > > Salam, > > > > Sejatinya saya tidak tahu dan tidak mengikuti esensi > konflik yagn terjadi > > di Babakan. saya hanya mengetahuinya setelah membaca > tulisan anda di bawah > > ini. > > > > Mengenai pengajian yang berlanjut ke bab jalan tol. > Saya ingin mencoba > > memahami pandangan Pak Yai Said tentang 'jalan > tol' --yang dalam pandangan > > sdr. Jamal berbeda dengan 'jalan umum'. Bagi > saya, jalan tetap jalan, dengan > > tanpa melihat esensi nilai di dalamnya atau bahkan > adanya unsur2 dan motif2 > > tertentu di dalamnya, selama ia masih berfungsi > sebagai alat penghubung atau > > jalur lalu lintas (apapun) masyarakat. Ini bermakna, > tol tetap memberikan > > manfaat (maslahah) besar kepada masyarakat. > Ya...minimal telah mengurangi > > kemacetan jalan raya biasa. > > > > Kita harus realistis dan berfikir agak ke depan > dikitlah...Masyarakat kita > > itu semakin bertambah. Bayangkan kalau tidak ada jalan > tol, kemacetan jalan > > raya jelas terjadi di mana-mana dan ini tentu > mempunyai dampak yang besar > > terhadap produktifitas dan pembangunan negara kita. > Lalu berapa kerugian > > yang diterima oleh pemerintah dan masyarakat secara > umum jika tidak ada > > jalan tol??? > > > > Peace kacang pis, > > Fath > > > > --- Pada Isn, 12/1/09, Jamaluddin Mohammad > <[email protected]<cerbon_wong%40yahoo.com>> > > menulis: > > > > > Daripada: Jamaluddin Mohammad > <[email protected]<cerbon_wong%40yahoo.com> > > > > > > Subjek: [kmnu2000] Ngaji Bersama Kang Said > > > Kepada: "milis Babakan" > <[email protected]<elbebken%40yahoogroups.com>>, > > "Santri Cirebon" > <[email protected]<santricerbon%40yahoogroups.com>>, > > "wong cerbon" <[email protected] > <wongcerbon%40yahoogroups.com>>, > > "KMNU 2000" <[email protected] > <kmnu2000%40yahoogroups.com>>, "PPI > > India" <[email protected] > <ppiindia%40yahoogroups.com>>, "media > > baca" <[email protected] > <mediabaca%40yahoogroups.com>> > > > Tarikh: Isnin, 12 Januari, 2009, 10:37 PM > > > Setiap malam Rabu Kang Said (KH Said Aqil Siraj) > membuka > > > pengajian di rumahnya, Ciganjur. Materi > pengajiannya adalah > > > Tafsir Ibnu Katsir/Tafsir Kabir. > > > > > > Model pengajiannya cair dan mengalir: Kang Said > membacakan > > > isinya kemudian menjelaskan dan menjabarkan > artinya. Di > > > sela-sela pengajian, peserta pengajian boleh > memotong dengan > > > pertanyaan, sanggahan, ataupun sekadar > mengeluarkan pendapat > > > pribadi. > > > > > > Suasana pengajian terasa hidup dan segar, karena > proses > > > pengajian tidak tertuju dan terpusat pada satu > arah. Pola > > > yang dibangun dalam pengajian itu bukan monolog > melainkan > > > dialog. > > > > > > Di majelis pengajian ini, Kang Said bukanlah > satu-satunya > > > orang yang memiliki "pengetahuan" dan > "kebenaran". > > > Kang Said memperlakukan peserta pengajian sebagai > mitra > > > dialog yang sejajar. > > > > > > Terkadang, Kang Said hanya mendengar dan > mencercap beragam > > > pendapat dari peserta pengajian tanpa memberikan > tanggapan > > > ataupun jawaban. Semuanya dibiarkan mengalir > bebas tanpa > > > batas. > > > > > > Kang Said berhasil menjadikan ruang pengajiannya > sebagai > > > medan kontestasi beragam pendapat dan gagasan > yang mencuat > > > dari masing-masing peserta pengajian. Dari santri > totok, > > > anak kuliahan, yang berpikiran kolot, moderat, > sampai yang > > > liberal semuanya ada di sini. > > > > > > Seusai pengajian, para peserta biasanya tidak > langsung > > > bergegas pulang. Kang Said membuka "obrolan > bebas" yang > > > biasanya terkait dengan isu-isu kontemporer. > Isu-isu yang > > > dibicarakan beragam, mulai dari persolana sosial, > politik, > > > ekonomi, hingga kebudayaan. Maklum, pesertanya > juga bukan > > > berasal dari latar belakang yang sama. > > > > > > Di sela-sela obrolan itu, Kang Said bertanya > kepada saya > > > menyangkut perkembangan terakhir soal tol. > Menurutnya, > > > selama ini ia mengikuti terus perkembangan berita > adanya > > > penolakan Pesantren Babakan terhadap mega projek > tol Cikapa > > > (Cikampek-Palimanan), namun bukan dari sumbernya > langsung. > > > Ia mendengar dari surat kabar dan televisi. > > > > > > Kang Said menyayangkan adanya pro-kontra yang > terjadi di > > > Babakan. Apalagi, menurut isu yang sengaja > dihembuskan > > > pemerintah pusat, bahwa yang menolak hanyalah > beberapa > > > gelintir kiai. > > > > > > Saya ceritakan apa adanya. Saya juga sempat > meluruskan > > > beberapa informasi keliru yang masuk ke Kang > Said. Saya > > > katakan bahwa "pro-kontra" yang terjadi > di Babakan > > > tidaklah muncul secara alamiah, tanpa rekayasa. > Sebab, sejak > > > mega projek ini digulirkan, yakni pada 1996, > seluruh > > > kiai/ulama yang ada di Babakan sepakat untuk > menolaknya. > > > Tidak ada satupun kiai yang menyempal dari > kesepakatan > > > tersebut. > > > > > > Memang, ada semacam "penyakit laten" > yang sudah sejak > > > lama bercokol dan menggerogoti tubuh Pesantren > Babakan, > > > yakni soal kesenjangan dan kecemburuan sosial > antara > > > pondok pesantren yang berada di utara (Babakan) > dan pondok > > > pesantren yang berada di selatan. > > > > > > Desa Babakan merupakan bumi pesantren. Ada > sekitar 32 > > > pesantren yang berbaur dengan pemukiman > penduduk. Meski > > > masing-masing pesantren bersifat independen, > namun secara > > > nasabiyah (pertalian nasab) pengasuh-pengasuhnya > berasal > > > dari satu keturunan, yakni Kiai Jatira, muassis > Pondok > > > Pesantren Babakan. Secara geografis keberadaan 32 > pesantren > > > itu menyebar ke utara dan selatan Desa Babakan. > > > > > > Secara kebetulan, pesantren-pesantren yang ada di > utara > > > kondisinya "kurang makmur" dan > "hampir bangkrut". > > > Hal ini dikarenakan, di samping santrinya semakin > sedikit, > > > generasi penerusnya pun mengalami krisis. Dan, > secara > > > kebetulan pula, yang terancam terkena jalan tol > adalah > > > pesantren selatan. Jadi, momentum ini seolah-olah > dijadikan > > > oleh pesantren utara untuk > "menghancurkan" > > > pesantren selatan. > > > > > > Nah, kondisi semacam ini yang kemudian > dimanfaatkan oleh > > > pihak-pihak tertentu yang sengaja memecah-belah > Pondok > > > Pesantren Babakan. Kepada Kang Said, saya > menyebut Eten > > > Roseli sebagai aktor yang berada di balik > pro-kontra > > > tersebut. Ia menjabat sebagai Ketua Tim > Pembebasan Tanah > > > Jawa Barat. Tampaknya, ia paham betul peta > konflik yang ada > > > di Babakan, sehingga tinggal > "mengipas-ngipasi" agar api > > > konflik itu bertambah besar. > > > > > > Diduga kuat di balik Eten ada banyak spekulan > tanah yang > > > sudah kadung atau jauh-jauh hari sudah membeli > tanah-tanah > > > yang akan dilalui tol. Sehingga kalau trase tol > itu jadi > > > dipindah, mereka akan mengalami kerugian besar > hingga > > > miliaran rupiah. Para spekulan tanahlah yang > mendesak > > > pemerintah untuk tidak memindah trase tol > kendatipun > > > bermasalah. > > > > > > Justeru pemerintah seharusnya bertanggung jawab > karena > > > telah menciptakan konflik (acts of commission) di > Babakan, > > > dan membiarkan konflik (acts of omission) itu > > > berlarut-larut. Seharusnya, dengan adanya > pro-kontra yang > > > menyebabkan terpecahnya Pesantren Babakan, mega > projek ini > > > dihentikan atau bahkan dibatalkan "demi > hukum". > > > > > > Saya harus menjelaskan semuanya kepada Kang Said. > Sebab, > > > saya yakin sebelumnya ada orang-orang tertentu > yang > > > "membisiki" Kang Said dengan informasi > yang sengaja > > > diselewengkan atau dibuat kabur. > > > > > > Maklum, meski berasal dari Pondok Pesantren > Kempek, > > > Palimanan—sekitar 3 km dari Pesantren Babakan > > > Ciwaringin—Kang Said lebih banyak menghabiskan > waktunya di > > > Jakarta. Di sela-sela kesibukannya menjabat ketua > PBNU, ia > > > harus mengajar di beberapa perguruan tinggi di > Jakarta dan > > > luar Jakarta, menjadi mubaligh di sejumlah > tempat, serta > > > sibuk dengan urusan bisnis. Sehingga > persoalan-persoalan > > > yang terjadi di daerah hampir absen dari > perhatiannya. > > > > > > Namun, saya sempat terkaget-kaget ketika Kang > Said menutup > > > obrolan kami dengan kesimpulan yang tidak diduga > sebelumnya: > > > ia menyayangkan sikap kiai Babakan yang telah > menolak tol. > > > Menurutnya, jalan tol adalah "kepentingan > umum" > > > (maslahah al-ammah). Tidak sepatutnya Pesantren > Babakan > > > menghalang-halangi apalagi sampai menolak > keberadaan mega > > > projek tersebut. > > > > > > Apalagi, lanjut Kang Said, di dalam "kitab > kuning" > > > sudah jelas disebutkan bahwa "kepentingan > umum" harus > > > diperioritaskan. "Jangankan pondok > pesantren, Masjid juga > > > boleh dibongkar," kata Kang Said. > > > > > > Sayangnya, Kang Said tidak menjelaskan apa itu > "maslahah > > > al-ammah" (kepentingan umum). Juga tidak > mengelaborasi > > > lebih jauh cakupan dan ruang lingkup > "kepentingan umum" > > > dalam konteksnya dengan jalan tol. > > > > > > Sebab, bisa jadi, "kepentingan umum" > dalam pandangan > > > pemerintah akan berbeda jauh ¯ bahkan bisa > bertentangan ¯ > > > dengan "kepentingan umum" menurut > pemahaman masyarakat. > > > > > > Menurut saya, ini yang seharusnya di-clear-kan > terlebih > > > dahulu. Agaknya, Kang Said terlalu terburu-buru > > > mengkategorikan jalan tol sebagai "maslahah > al-ammah". > > > Yang seharusnya diperhatikan Kang Said adalah: > Pertama, > > > harus dibadakan antara "jalan tol" dan > "jalan umum". > > > Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut jalan tol > sebagai: > > > "jalan yang mengenakan bea bagi > pemakainya". > > > > > > Jalan tol dibangun untuk kepentingan komersial > murni. Tidak > > > semua jenis kendaraan bisa lewat. Di samping > harus > > > mengeluarkan biaya, pemakai jalan tol juga > terbatas. Ia > > > tidak bisa dilalui pejalan kaki, becak, sepeda, > dll. Kita > > > juga tidak bisa membuat warung kocil atau > menjajagkan barang > > > dagangan di kanan-kiri jalan tersebut karena > dipagar dengan > > > kawat berduri. Jangankan untuk melewati jalan > tersebut, > > > nongkrong di bibir jalan pun tidak diperbolehkan. > > > > > > Yang punya akses menikmati pinggir-pinggir jalan > tol > > > hanyalah para pemodal besar. Jangan harap Anda > dapat menjual > > > bensin eceran seperti yang ditemui di jalan-jalan > umum. Yang > > > ada hanyalah Pertamina, Petronas, Shell, dll. > Anda juga > > > tidak akan menemukan warung-warung kopi, > pedagang-pedagang > > > asongan penjual rokok, makanan dan minuman kecil, > karena > > > semuanya sudah dibeli oleh Starbucks, Mc Donald, > KFC, Dunkin > > > Donuts, Alfamart, dll. > > > > > > Kedua, jalan tol dibangun dan dibiayai swasta > (pemodal) > > > untuk kepentingan komersial, menjual jasa, meraup > keuntungan > > > sebanyak mungkin. Selama masa konsensi, > keuntungan yang > > > dihasilkan jalan tol sepenuhnya milik swasta. > Bahkan, > > > setelah masa konsesi habis pun, yang punya akses > terhadap > > > jalan tol hanyalah mereka yang berkantong tebal. > > > > > > Dalam hal ini, posisi Negara hanyalah semacam > penyelenggara > > > atau kepanjangan tangan pemodal itu. Bahkan lebih > parah > > > lagi, Negara menjadi semacam "penjaga > malam" untuk > > > melindungi dan menjaga kepentingan pemodal. > > > > > > Apakah itu semua pantas dan tidak bertentangan > dengan > > > asas-asas "maslahah al-ammah", > kepentingan umum? Di > > > sini, saya kira, Kang Said gagal mengkategorikan > jalan > > > tol/jalan bebas hambatan sebagai kepentingan > umum. Kang > > > Said hanya menggunakan kaca mata fikih an sich > (teks-teks > > > fikih), tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu, > > > mengkomparasikannya dengan realitas kongkrit. > Cara pandang > > > seperti ini pada akhirnya menelikung Kang Said > sendiri: ia > > > gagap memahami dan memaknai realitas, > kritisismenya tumpul, > > > dan tidak memiliki keberpihakan sama sekali. > Wallahu a'lam > > > bi sawab. > > > > > > bersambung..... > > > > > > > > > salam, > > > Jamaluddin Mohammad > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > > > > > > > > ------------------------------------ > > > > > > > __________________________________________________________ > > > http://www.numesir.org untuk informasi tentang > Cabang > > > Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info > seputar Cairo > > > dan Timur Tengah. > > > > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > > > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika > karena > > > suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini > silakan kirim > > > email ke: > > > > [email protected]<kmnu2000-unsubscribe%40yahoogroups.com> > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > Dapatkan alamat E-mel baru anda! > > Rebut nama E-mel yang telah lama anda kehendaki > sebelum orang lain > > mendapatkannya! > > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/ > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang > Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo > dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena > suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim > email ke: > [email protected] > Yahoo! Groups Links > > > Dapatkan alamat E-mel baru anda! Rebut nama E-mel yang telah lama anda kehendaki sebelum orang lain mendapatkannya! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/
