Salam....
  Dalam melihat jalan tol juga harus melihat kebijakan negara yang lebih 
makro dalam memberikan layanan kepada masyarakat dalam hal transportasi.
  Menurut saya pemerinatah SBY dalam hal ini lebih pro pasar. Menurut ahli 
trasnportasi kalau meau mengembangkan angkutan transportasi publik antar 
kota yang yang memihak kepada masyarakat kecil adalah mengembangkan jalur 
kereta api bukan membuat jalan tol. Tapi perkembangan kemajuan sarana kereta 
api sangat terseok-seok di bandingkan perkembangan jalan raya yang salah 
solusinya adalah membuat jalan tol. kebijakan pemerintah SBY dalam soal 
transportasi sama seperti kebijakan dalam bidang pertanian. perkembangan 
lahan pangan seperti padi mengalami kemunduran sangat berbeda dengan 
perkembangan lahan kelapa sawit. Semuanya adalah alasannya untuk menumbuhkan 
dan membuka lapangan kerja. Padahal siapa yang paling di untungkan oleh 
kebijakan pembangunan jalan tol. dan perlu di ketahui pemenang tender 
sebagian besar ruas tol trans jawa yang membentang dari Merak sampai 
Surabaya adalah perusahaan milik Aburizal Bakri yang sedang punya masalah 
dengan masyarakat Sidoarjo dalam kasus Lapindo dan harga saham perusahaannya 
lagi jatuh. Jangan mudah menyimpulkan sebelum kita memahami secara utuh atas 
sebuah masalah. konsep Mashlahah "ammah tidak bisa di terapkan dalam sebuah 
kasus dengan melakukan simplifikasi. karena dengan simplifikasi akan terjadi 
pengambilan kesimpulan yang keliru dan bisa merugikan masyarakat.

  Miftah

  ----- Original Message ----- 
  From: "Fathonah K. Daud" <[email protected]>
  To: <[email protected]>
  Sent: Thursday, January 15, 2009 2:14 PM
  Subject: Re: [kmnu2000] Ngaji Bersama Kang Said (Bab Jalan TOL)


  Salam,

  Sejatinya saya tidak tahu dan tidak mengikuti esensi konflik yagn terjadi 
di Babakan. saya hanya mengetahuinya setelah membaca tulisan anda di bawah 
ini.

  Mengenai pengajian yang berlanjut ke bab jalan tol. Saya ingin mencoba 
memahami pandangan Pak Yai Said tentang 'jalan tol' --yang dalam pandangan 
sdr. Jamal berbeda dengan 'jalan umum'. Bagi saya, jalan tetap jalan, dengan 
tanpa melihat esensi nilai di dalamnya atau bahkan adanya unsur2 dan motif2 
tertentu di dalamnya, selama ia masih berfungsi sebagai alat penghubung atau 
jalur lalu lintas (apapun) masyarakat. Ini bermakna, tol tetap memberikan 
manfaat (maslahah) besar kepada masyarakat. Ya...minimal telah mengurangi 
kemacetan jalan raya biasa.

  Kita harus realistis dan berfikir agak ke depan dikitlah...Masyarakat kita 
itu semakin bertambah. Bayangkan kalau tidak ada jalan tol, kemacetan jalan 
raya jelas terjadi di mana-mana dan ini tentu mempunyai dampak yang besar 
terhadap produktifitas dan pembangunan negara kita. Lalu berapa kerugian 
yang diterima oleh pemerintah dan masyarakat secara umum jika tidak ada 
jalan tol???

  Peace kacang pis,
  Fath

  --- Pada Isn, 12/1/09, Jamaluddin Mohammad <[email protected]> 
menulis:

  > Daripada: Jamaluddin Mohammad <[email protected]>
  > Subjek: [kmnu2000] Ngaji Bersama Kang Said
  > Kepada: "milis Babakan" <[email protected]>, "Santri Cirebon" 
<[email protected]>, "wong cerbon" <[email protected]>, 
"KMNU 2000" <[email protected]>, "PPI India" 
<[email protected]>, "media baca" <[email protected]>
  > Tarikh: Isnin, 12 Januari, 2009, 10:37 PM
  > Setiap malam Rabu Kang Said (KH Said Aqil Siraj) membuka
  > pengajian di rumahnya, Ciganjur. Materi pengajiannya adalah
  > Tafsir Ibnu Katsir/Tafsir Kabir.
  >
  > Model pengajiannya cair dan mengalir: Kang Said membacakan
  > isinya kemudian menjelaskan dan menjabarkan artinya. Di
  > sela-sela pengajian, peserta pengajian boleh memotong dengan
  > pertanyaan, sanggahan, ataupun sekadar mengeluarkan pendapat
  > pribadi.
  >
  > Suasana pengajian terasa hidup dan segar, karena proses
  > pengajian tidak tertuju dan terpusat pada satu arah. Pola
  > yang dibangun dalam pengajian itu bukan monolog melainkan
  > dialog.
  >
  > Di majelis pengajian ini, Kang Said bukanlah satu-satunya
  > orang yang memiliki “pengetahuan” dan “kebenaran”.
  > Kang Said memperlakukan peserta pengajian sebagai mitra
  > dialog yang sejajar.
  >
  > Terkadang, Kang Said hanya mendengar dan mencercap beragam
  > pendapat dari peserta pengajian tanpa memberikan tanggapan
  > ataupun jawaban. Semuanya dibiarkan mengalir bebas tanpa
  > batas.
  >
  > Kang Said berhasil menjadikan ruang pengajiannya sebagai
  > medan kontestasi beragam pendapat dan gagasan yang mencuat
  > dari masing-masing peserta pengajian. Dari santri totok,
  > anak kuliahan, yang berpikiran kolot, moderat, sampai yang
  > liberal semuanya ada di sini.
  >
  > Seusai pengajian, para peserta biasanya tidak langsung
  > bergegas pulang. Kang Said membuka “obrolan bebas” yang
  > biasanya terkait dengan isu-isu kontemporer. Isu-isu yang
  > dibicarakan beragam, mulai dari persolana sosial, politik,
  > ekonomi, hingga kebudayaan. Maklum, pesertanya juga bukan
  > berasal dari latar belakang yang sama.
  >
  > Di sela-sela obrolan itu, Kang Said bertanya kepada saya
  > menyangkut perkembangan terakhir soal tol. Menurutnya,
  > selama ini ia mengikuti terus perkembangan berita adanya
  > penolakan Pesantren Babakan terhadap mega projek tol Cikapa
  > (Cikampek-Palimanan), namun bukan dari sumbernya langsung.
  > Ia mendengar dari surat kabar dan televisi.
  >
  > Kang Said menyayangkan adanya pro-kontra yang terjadi di
  > Babakan. Apalagi, menurut isu yang sengaja dihembuskan
  > pemerintah pusat, bahwa yang menolak hanyalah beberapa
  > gelintir kiai.
  >
  > Saya ceritakan apa adanya. Saya juga sempat meluruskan
  > beberapa informasi keliru yang masuk ke Kang Said. Saya
  > katakan bahwa “pro-kontra” yang terjadi di Babakan
  > tidaklah muncul secara alamiah, tanpa rekayasa. Sebab, sejak
  > mega projek ini digulirkan, yakni pada 1996, seluruh
  > kiai/ulama yang ada di Babakan sepakat untuk menolaknya.
  > Tidak ada satupun kiai yang menyempal dari kesepakatan
  > tersebut.
  >
  > Memang, ada semacam “penyakit laten” yang sudah sejak
  > lama bercokol dan menggerogoti tubuh Pesantren Babakan,
  > yakni soal kesenjangan dan kecemburuan sosial antara
  > pondok pesantren yang berada di utara (Babakan) dan pondok
  > pesantren yang berada di selatan.
  >
  > Desa Babakan merupakan bumi pesantren. Ada sekitar 32
  > pesantren yang berbaur dengan pemukiman penduduk. Meski
  > masing-masing pesantren bersifat independen, namun secara
  > nasabiyah (pertalian nasab) pengasuh-pengasuhnya berasal
  > dari satu keturunan, yakni Kiai Jatira, muassis Pondok
  > Pesantren Babakan. Secara geografis keberadaan 32 pesantren
  > itu menyebar ke utara dan selatan Desa Babakan.
  >
  > Secara kebetulan, pesantren-pesantren yang ada di utara
  > kondisinya “kurang makmur” dan “hampir bangkrut”.
  > Hal ini dikarenakan, di samping santrinya semakin sedikit,
  > generasi penerusnya pun mengalami krisis. Dan, secara
  > kebetulan pula, yang terancam terkena jalan tol adalah
  > pesantren selatan. Jadi, momentum ini seolah-olah dijadikan
  > oleh pesantren utara untuk "menghancurkan"
  > pesantren selatan.
  >
  > Nah, kondisi semacam ini yang kemudian dimanfaatkan oleh
  > pihak-pihak tertentu yang sengaja memecah-belah Pondok
  > Pesantren Babakan. Kepada Kang Said, saya menyebut Eten
  > Roseli sebagai aktor yang berada di balik pro-kontra
  > tersebut. Ia menjabat sebagai Ketua Tim Pembebasan Tanah
  > Jawa Barat. Tampaknya, ia paham betul peta konflik yang ada
  > di Babakan, sehingga tinggal “mengipas-ngipasi” agar api
  > konflik itu bertambah besar.
  >
  > Diduga kuat di balik Eten ada banyak spekulan tanah yang
  > sudah kadung atau jauh-jauh hari sudah membeli tanah-tanah
  > yang akan dilalui tol. Sehingga kalau trase tol itu jadi
  > dipindah, mereka akan mengalami kerugian besar hingga
  > miliaran rupiah. Para spekulan tanahlah yang mendesak
  > pemerintah untuk tidak memindah trase tol kendatipun
  > bermasalah.
  >
  > Justeru pemerintah seharusnya bertanggung jawab karena
  > telah menciptakan konflik (acts of commission) di Babakan,
  > dan membiarkan konflik (acts of omission) itu
  > berlarut-larut. Seharusnya, dengan adanya pro-kontra yang
  > menyebabkan terpecahnya Pesantren Babakan, mega projek ini
  > dihentikan atau bahkan dibatalkan “demi hukum”.
  >
  > Saya harus menjelaskan semuanya kepada Kang Said. Sebab,
  > saya yakin sebelumnya ada orang-orang tertentu yang
  > “membisiki” Kang Said dengan informasi yang sengaja
  > diselewengkan atau dibuat kabur.
  >
  > Maklum, meski berasal dari Pondok Pesantren Kempek,
  > Palimanan—sekitar 3 km dari Pesantren Babakan
  > Ciwaringin—Kang Said lebih banyak menghabiskan waktunya di
  > Jakarta. Di sela-sela kesibukannya menjabat ketua PBNU, ia
  > harus mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan
  > luar Jakarta, menjadi mubaligh di sejumlah tempat, serta
  > sibuk dengan urusan bisnis. Sehingga persoalan-persoalan
  > yang terjadi di daerah hampir absen dari perhatiannya.
  >
  > Namun, saya sempat terkaget-kaget ketika Kang Said menutup
  > obrolan kami dengan kesimpulan yang tidak diduga sebelumnya:
  > ia menyayangkan sikap kiai Babakan yang telah menolak tol.
  > Menurutnya, jalan tol adalah “kepentingan umum”
  > (maslahah al-ammah). Tidak sepatutnya Pesantren Babakan
  > menghalang-halangi apalagi sampai menolak keberadaan mega
  > projek tersebut.
  >
  > Apalagi, lanjut Kang Said, di dalam “kitab kuning”
  > sudah jelas disebutkan bahwa “kepentingan umum” harus
  > diperioritaskan. “Jangankan pondok pesantren, Masjid juga
  > boleh dibongkar,” kata Kang Said.
  >
  > Sayangnya, Kang Said tidak menjelaskan apa itu “maslahah
  > al-ammah” (kepentingan umum). Juga tidak mengelaborasi
  > lebih jauh cakupan dan ruang lingkup “kepentingan umum”
  > dalam konteksnya dengan jalan tol.
  >
  > Sebab, bisa jadi, “kepentingan umum” dalam pandangan
  > pemerintah akan berbeda jauh ¯ bahkan bisa bertentangan ¯
  > dengan “kepentingan umum” menurut pemahaman masyarakat.
  >
  > Menurut saya, ini yang seharusnya di-clear-kan terlebih
  > dahulu. Agaknya, Kang Said terlalu terburu-buru
  > mengkategorikan jalan tol sebagai “maslahah al-ammah”.
  > Yang seharusnya diperhatikan Kang Said adalah: Pertama,
  > harus dibadakan antara “jalan tol” dan “jalan umum”.
  > Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut jalan tol sebagai:
  > “jalan yang mengenakan bea bagi pemakainya”.
  >
  > Jalan tol dibangun untuk kepentingan komersial murni. Tidak
  > semua jenis kendaraan bisa lewat. Di samping harus
  > mengeluarkan biaya, pemakai jalan tol juga terbatas. Ia
  > tidak bisa dilalui pejalan kaki, becak, sepeda, dll. Kita
  > juga tidak bisa membuat warung kocil atau menjajagkan barang
  > dagangan di kanan-kiri jalan tersebut karena dipagar dengan
  > kawat berduri. Jangankan untuk melewati jalan tersebut,
  > nongkrong di bibir jalan pun tidak diperbolehkan.
  >
  > Yang punya akses menikmati pinggir-pinggir jalan tol
  > hanyalah para pemodal besar. Jangan harap Anda dapat menjual
  > bensin eceran seperti yang ditemui di jalan-jalan umum. Yang
  > ada hanyalah Pertamina, Petronas, Shell, dll. Anda juga
  > tidak akan menemukan warung-warung kopi, pedagang-pedagang
  > asongan penjual rokok, makanan dan minuman kecil, karena
  > semuanya sudah dibeli oleh Starbucks, Mc Donald, KFC, Dunkin
  > Donuts, Alfamart, dll.
  >
  > Kedua, jalan tol dibangun dan dibiayai swasta (pemodal)
  > untuk kepentingan komersial, menjual jasa, meraup keuntungan
  > sebanyak mungkin. Selama masa konsensi, keuntungan yang
  > dihasilkan jalan tol sepenuhnya milik swasta. Bahkan,
  > setelah masa konsesi habis pun, yang punya akses terhadap
  > jalan tol hanyalah mereka yang berkantong tebal.
  >
  > Dalam hal ini, posisi Negara hanyalah semacam penyelenggara
  > atau kepanjangan tangan pemodal itu. Bahkan lebih parah
  > lagi, Negara menjadi semacam “penjaga malam” untuk
  > melindungi dan menjaga kepentingan pemodal.
  >
  > Apakah itu semua pantas dan tidak bertentangan dengan
  > asas-asas “maslahah al-ammah”, kepentingan umum? Di
  > sini, saya kira, Kang Said gagal mengkategorikan jalan
  > tol/jalan bebas hambatan sebagai kepentingan umum. Kang
  > Said hanya menggunakan kaca mata fikih an sich (teks-teks
  > fikih), tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu,
  > mengkomparasikannya dengan realitas kongkrit. Cara pandang
  > seperti ini pada akhirnya menelikung Kang Said sendiri: ia
  > gagap memahami dan memaknai realitas, kritisismenya tumpul,
  > dan tidak memiliki keberpihakan sama sekali. Wallahu a’lam
  > bi sawab.
  >
  > bersambung.....
  >
  >
  > salam,
  > Jamaluddin Mohammad
  >
  >
  >
  >
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  >
  > ------------------------------------
  >
  > ______________________________________________________________________
  > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang
  > Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo
  > dan Timur Tengah.
  > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
  > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena
  > suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim
  > email ke:
  > [email protected]
  > Yahoo! Groups Links
  >
  >
  >

        Dapatkan alamat E-mel baru anda!
  Rebut nama E-mel yang telah lama anda kehendaki sebelum orang lain 
mendapatkannya!
  http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/

  ------------------------------------

  ______________________________________________________________________
  http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir 
dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
  Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda 
harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
  [email protected]
  Yahoo! Groups Links





  -- 
  Internal Virus Database is out-of-date.
  Checked by AVG.
  Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.1/1868 - Release Date: 
12/29/2008 10:48 AM




Kirim email ke