Apa Salahnya Tidak Sekolah?
Kritik atas tayangan Halal (Minggu pagi 21 Des 08)


Yth Pengelola Program Halal Trans TV

Assalamu'alaikum wr. wb.

Kebetulan pagi itu, Minggu 21 Desember, saya nonton Program Halal yang 
mengangkat tema "laboring children" (mempekerjakan anak usia sekolah). 

Sebagai pendukung ide "unschooling" (tidak sekolah) saya sangat tidak setuju 
dengan isi tayangan Halal tersebut.

Penggunaan dalil (istinbath) ayat al-Qur'an untuk mendukung program sekolah, 
bagi saya, sangat tidak tepat.
Pertama ayat 9 surat an-Nisaa':
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ 
فَلْـيَـتَّقُوا اللهَ وَلْـيَقُوْلُوا قَوْلاً سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan 
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap  mereka. 
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka 
mengucapkan perkataan yang benar." (an-Nisaa': 9)

Kedua ayat 27 surat al-Anfaal:
يَا أيـُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَخُوْنُوا اللهَ وَالرَّسُوْلَ 
وَتَخُوْنـُوا أمَانَاتِكُمْ وَأنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan 
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang 
kamu mengetahui." (al-Anfaal: 27)

Alasannya:

- Kedua ayat tersebut tak ada kaitannya dengan sekolah. Sederhana masalahnya: 
ayat-ayat al-Qur'an turun di sebuah peradaban yang belum mengenal sekolah. Nabi 
Muhammad saw itu tidak mengenal sekolah. Para ulama Islam abad pertengahan juga 
tidak mengenal sekolah. Tapi jelas, tak bisa dipungkiri, mereka adalah para 
pembelajar, pembelajar sepanjang hidup (lifetime). Mereka telah memproduksi 
banyak sekali karya tulis berjilid-jilid yang telah memenuhi khazanah pustaka 
keislaman, dan bahkan masih terus terpakai sampai sekarang. Yang harus 
digarisbawahi, bahwa tradisi kepenulisan di dunia Arab-Islam tidak lahir dari 
sekolah.
- Bahwa kita hendaknya takut meninggalkan anak turun kita dalam kondisi lemah 
iman-ilmu itu memang harus. Di samping itu, saya kira, tidak ada orang tua (yg 
normal) yang ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang tidak baik, tidak 
bermanfaat. Oleh karenanya kita harus mendidik anak-anak kita dengan pendidikan 
yang baik dan benar. Sedangkan pendidikan itu sendiri tdk hanya terjadi di 
sekolah. Bahkan pendidikan yg terjadi di sekolah itu sebenarnya sangat-sangat 
minim. Mayoritas terjadi secara otomatis di keluarga dan lingkungan. Itulah 
makanya, dalam buku "Learning Revolution" oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos 
disebutkan bahwa sekolah utama adalah keluarga.
- Bahwa anak adalah amanat Allah yang dipercayakan pada kita itu benar. Tapi 
tidak benar bila tidak menyekolahkan anak berarti mengkhianati amanat. Kita 
baru bisa dianggap menyalahi amanat bila kita tidak mendidik anak-anak kita 
dengan baik. Orang tua adalah guru utama. Mereka akan selalu menjadi tauladan. 
Karenanya, biasanya, perkembangan seorang anak tak lepas dari keadaan keluarga. 
Bila keluarganya damai, bahagia, tentram, taat beragama, orang tua penuh 
perhatian, anak akan tumbuh sehat secara mental-spiritual. Sebaliknya juga iya. 
Hampir tidak ada anak di sekolah yang berprestasi yang berasal dari keluarga 
broken home. Anak yang berprestasi biasanya dari keluarga yg ideal, dan 
sebaliknya iya: anak yang dianggap nakal dari keluarga yg kacau.


Pendidikan vs Sekolah

Sekolah sangat berbeda dari pendidikan. Ini memang beda dari pandangan umum. 
Kebanyakan orang saat ini menyamakan antara sekolah dan pendidikan. Demikian 
juga belajar disamakan dengan sekolah. Maka muncullah istilah "wajib belajar 9 
tahun". Dan parahnya, itu hanya dilaksanakan oleh sekolah. Sementara proses 
belajar di luar sekolah nyaris tak memperoleh pengakuan. Pemerintah sangat 
memandang sebelah mata terhadap pendidikan luar sekolah. Akibatnya, masyarakat 
pun sangat bergantung pada sekolah. Sekolah telah menjadi semacam candu. Semua 
orang bilang, "Anakmu tidak kamu sekolahkan... kelak mau jadi apa?!" Tidak 
hanya orang tua, anak-anak pun maunya masuk sekolah, karena jika tidak mereka 
tak akan punya teman. Karena semua anak saat jam sekolah berada di sekolah. 
Sepi di rumah.

Itulah keadaannya: fenomena pendidikan = sekolah. Pendidikan diminimalisir dan 
diredusir menjadi sebuah proses sementara: 5-6 jam sehari, sekitar 285 hari 
setahun (setelah dikurangi liburan). Atau sekitar 1425 jam (setahun) x 9 
(tahun) = 12825 jam. Itu jika diasumsikan 5 jam sehari. Jika sehari diasumsikan 
6 jam maka jumlahnya: 1710 jam (setahun) x 9 (tahun) = 15390 jam dalam sembilan 
tahun. Rata-rata sampai anak berusia 15-16 tahun. Jika dia dari keluarga mampu, 
maka akan melanjutkan sampai SMU. Lebih mampu lagi, sampai Universitas. 
Berkisar sampai umur 22 - 27 tahun. Usia setelah itu dianggap sebagai usia 
bekerja.

Pandangan Islam berbeda sekali. Islam mengajarkan bahwa :

- Menuntut ilmu adalah proses sejak bayi sampai mati (tholabul 'ilmi minal 
mahdi ilal lahdi). Ini artinya pendidikan adalah proses otomatis, alamiyah, 
lifetime.  Secara fitrah manusia selalu menginginkan kebaikan-kebaikan. Dari 
baik menuju lebih baik...lebih baik lagi... dan seterusnya, tidak terbatas.

- Namun pada sisi yang lain Islam juga memaklumi bahwa manusia itu tidak lepas 
dari kesalahan dan lupa (al-insaanu mahallul khata' wan nisyaan), juga 
dosa-dosa yang disengaja karena adanya dorongan hawa nafsu. Oleh karena itu 
kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dengan dalil lain lagi: tholabul 'ilmi 
fariidhotun 'alaa kulli muslimin wa muslimatin (Menuntut ilmu wajib bagi setiap 
muslim dan muslimah). Jika dengan dalil sebelumnya, Islam menunjukkan pada kita 
bahwa tholabul ilmi bisa berlangsung secara otomatis dan natural (secara alam 
bawah sadar), dengan dalil ini Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu harus 
diupayakan secara sadar. 
Jadi, belajar memang berlangsung dlm dua alam: sadar dan bawah sadar. Dan 
kedua-duanya dalam pandangan kami bisa saja dilakukan di luar jalur sekolah. 
Bahkan bisa lebih baik.

Memang, pendidikan bisa saja terjadi di sekolah. Tapi itu sangat..sangat minim. 
Apalagi melihat kondisi persekolahan di Indonesia seperti sekarang ini. Di mana 
orang-orang hanya menjadikannya wahana utk mengejar legalitas, formalitas, dan 
pengakuan dengan rupa selembar ijazah/sertifikat. Sementara substansi 
pendidikannya kabur. Bagi kami, satu hal yang harus didukung melalui institusi 
sekolah adalah prose pembentukan karakter/mental pelajar sepanjang hidup. 
Tujuannya agar siswa senantiasa sadar bahwa dia harus menjadi pelajar sepanjang 
hidup. Dan ini yang belum terjadi di persekolahan Indonesia.


Unschooling baik, wajar, dan perlu

Asumsi orang selama ini, bahwa unschooling berarti bodoh, nakal atau tidak 
punya biaya. Karenanya unschooling tidak menjadi pilihan. Mengapa orang-orang 
yang tidak sekolah rata-rata bodoh atau nakal?
Yang paling bertanggungjawab sebenarnya adalah lingkungan/masyarakat. Dalam 
lingkungan yang serba tergantung pada sekolah, wajar jika semuanya menyalahkan 
orang tua yang anak-anaknya tidak mau sekolah dan menganggap bodoh dan nakal 
pada anak-anak yang tidak sekolah. Semua orang sangat takut dan khawatir bila 
anaknya malas atau tidak suka sekolah. Dan semua anak usia sekolah, termasuk 
yang tidak suka sekolah, menjadi takut tidak punya teman jika tidak masuk 
sekolah, sebab semua anak di waktu pagi berada di sekolah. Sepi di rumah.

Seperti itulah kondisi bangsa yang sakit, mempunyai ketergantungan yang sangat 
tinggi pada sekolah. Padahal sudah diketahui birokrasi pendidikan dan banyak 
institusi sekolah dijalankan secara korup. 

Orang yang sudah sadar bahwa sekolah itu tidak semuanya baik, bahkan banyak 
juga yang korup, tetap saja belum mampu memerdekakan diri dari 
ketergantungannya pada sekolah, sebab mereka tidak menemukan tempat lain agar 
memperoleh selembar kertas pengakuan (ijazah) kecuali di sekolah. Mereka sudah 
siap menanggung resiko, bahwa sesekali anaknya akan menjadi nakal karena 
bergaul dengan teman-temannya yang nakal di sekolah, menjadi pecundang, suka 
menyontek (karena rata-rata siswa doyan menyontek, bahkan sesekali guru-gurunya 
memberikan tip-tip ampuh agar aman dari pengawas). Mereka mengakui hal itu, dan 
siap mananggung resiko. Yang penting anak-anak mereka mendapat ijazah, bisa 
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau melamar pekerjaan dan menjadi 
"babu". Amanlah kehidupan anak di masa depan! Rata-rata semua orang memilih 
jalan yang "aman", karena rata-rata lapangan kerja menyaratkan selembar ijazah. 
Ngapain sulit-sulit berjuang menantang hidup, bila ada yang lebih aman?! Begitu 
pikir mereka.

Sementara itu masih banyak orang lugu dan awam yang berasumsi sekolah adalah 
dewa penyelamat yang bisa menjamin orang menjadi baik, pintar, dan sejahtera. 
Seakan-akan jika semua anak bangsa ini mencapai tingkat sarjana maka selesailah 
problem bangsa. Karena semua pintar, cerdas, dan mudah mencari pekerjaan.

Mereka tak sadar betapa banyak anak petani yang meninggalkan dunia pertanian 
gara-gara sekolah. Mereka menjadi gengsi bertani, meneruskan pekerjaan 
bapak-bapak mereka, karena pikiran mereka bertani adalah pekerjaannya 
orang-orang bodoh. Bertani berarti tidak punya duit. Orang tuanya pun demikian, 
alih-alih berharap agar anaknya menjadi pintar dan kelak mengembangkan 
pertaniannya di kampung, mereka justru berangan-angan anaknya mau sekolah 
setingg-tingginya agar kelak menjadi orang kantoran. Begitulah jalan pikiran 
mereka: ukuran kesuksesan menyekolahkan anak adalah bila si anak nantinya 
menjadi orang kantoran, berduit, berada di kota, dan semacamnya. Orang tua 
bangga karena anaknya telah sukses dan jauh dari kampung.

Inilah kenyataan yang harus ditentang. Dalam lingkungan sangat tergantung pada 
sekolah, para orang tua memperkecil perannya sebagai pendidik anak-anak mereka. 
Dan bahkan tidak sedikit orang tua yang pasrah sama para guru di sekolah, 
sementara itu mereka tidak lagi sadar bahwa mereka tetap mejadi tauladan bagi 
anak-anaknya. Disadari atau tidak, yang lebih berpengaruh pada perkembangan 
anak adalah keadaan rumah. Namun, ketika para orang tua tidak lagi sadar bahwa 
mereka lebih berpengaruh pada anak (daripada sekolah), lantas keseharian di 
rumah mereka tidak bisa membangun suasana yang kondusif bagi perkembangan anak, 
saat itulah perkembangan anak kian hari kian tidak jelas dan memprihatinkan.

Dengan demikian bisa disimpulkan, selama orang tua mampu membangun keadaan yang 
menyenangkan dan mendukung bagi perkembangan mental-spiritual serta daya 
kreatifitas anak maka itu sama halnya orang tua telah menyediakan sebuah wahana 
untuk proses pendidikan yang sangat baik, bahkan mengalahkan sebuah lembaga 
pendidikan yang paling bermutu di manapun.

Dan jika kita telah menyadari hal ini, maka unschooling merupakan sebuah 
pilihan untuk sebuah proses pendidikan yang jauh lebih bermutu dari pada 
sekolah. Unschooling adalah wajar, baik, dan perlu.

Munculnya semangat unschooling tidak semata dikarenakan bobroknya sistem 
persekolahan di negeri ini. Sebab, semakin maju sebuah peradaban, semakin 
pintar dan cerdas sebuah bangsa, akan semakin terpampang wawasan bahwa 
"unschooling merupakan jalan hidup yang wajar dan baik". Orang akan semakin 
tahu bahwa proses belajar yang sejati bisa efektif di manapun tempatnya, 
kapanpun waktunya, dan dengan siapapun orangnya.

Sehingga pada saatnya nanti, siapapun termasuk pemerintah harus melihat hasil 
belajar tidak melalui selembar kertas ijazah tapi pembuktian-pembuktian. Baik 
yang pernah duduk di bangku sekolah atau yang tidak (unschooling) dilihat 
secara adil. Untuk masuk ke dunia kerja manapun, persyaratan ijazah tidak 
menjadi mutlak (harus), tapi selalu berorientasi pada kemampuan atau prestasi.


Satu Dunia: Belajar dan Bekerja Sepanjang Hidup

Dalam wawasan unschooling tidak ada dualisme belajar dan bekerja. Tapi belajar 
dan bekerja adalah dua kegiatan yang berada dalam satu rentetan kehidupan, 
keduanya saling mendukung dan saling berkelindan. Bahkan dalam batas tertentu 
tak ada bedanya antara belajar dan bekerja. Saling mendukung artinya kita 
bekerja karena untuk membiayai atau memperbaiki proses belajar, dan kita 
belajar untuk meningkatkan kualitas pekerjaan. Saling berkelindan maksudnya 
proses belajar dan bekerja harus selalu berproses dinamis, waktunya senantiasa 
beriringan, dahulu-mendahului, dan sesekali tak menentu. Bekerja-belajar dan 
belajar-bekerja demikian terus sepanjang hidup. Dalam pengertian inilah (saling 
mendukung dan saling berkelindan) belajar dan bekerja menyatu dalam satu dunia. 
Jadi, tidak seperti pengertian umum bahwa dunia belajar adalah selama duduk di 
bangku sekolah atau kuliah dan selepas itu masuk ke dunia kerja.

Dalam wawasan unschooling dunia kerja tidak selalu berarti hal-hal yang 
menghasilkan duit untuk menafkahi keluarga, kendati hal seperti itu juga 
disebut bekerja. Bekerja, dalam pengertian yang paling mendasar, adalah setiap 
aktifitas yang menggerakkan fisik dan otak sekaligus. Menurut pengertian ini, 
belajar bisa dianggap sebagai bekerja. Dan dalam pengertian yang lebih komplek, 
bekerja adalah rangkaian aktifitas (fisik dan otak sekaligus) untuk memperoleh 
sebuah hasil berdasar teori-teori hasil belajar.

Hal yang terpenting adalah penyadaran bahwa proses bekerja demi membantu income 
orang tua merupakan bagian strategis untuk memperbaiki dan meningkatkan 
kualitas pembelajaran. Dan meningkatkan kualitas pembelajaran sama dengan 
meningkatkan kualitas hidup.

Dengan demikian anak kecil (usia sekolah) bekerja, selama itu tidak karena 
adanya tekanan, dilakukan secara sukarela, dan senang, maka hal itu dipandang 
baik-baik saja. Bahkan itu bisa menjadi sumber pembelajaran yang tidak 
ternilai. Bekerja sambil belajar, atau belajar sambil bekerja, atau bekerja 
lalu belajar, belajar lalu bekerja... demikian terus sepanjang hidup. Dengan 
beginilah hidup menjadi bermutu.

Salam
Arif Hidayat
(Pengelola Komunitas Belajar Kampung Pingin Maju)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke