Keren
Aq Setuju bgt
--- On Thu, 1/29/09, Arif Hidayat <[email protected]> wrote:
From: Arif Hidayat <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Apa Salahnya Tidak Sekolah?
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected],
[email protected]
Date: Thursday, January 29, 2009, 4:35 AM
Apa Salahnya Tidak Sekolah?
Kritik atas tayangan Halal (Minggu pagi 21 Des 08)
Yth Pengelola Program Halal Trans TV
Assalamu'alaikum wr. wb.
Kebetulan pagi itu, Minggu 21 Desember, saya nonton Program Halal yang
mengangkat tema "laboring children" (mempekerjakan anak usia sekolah).
Sebagai pendukung ide "unschooling" (tidak sekolah) saya sangat tidak setuju
dengan isi tayangan Halal tersebut.
Penggunaan dalil (istinbath) ayat al-Qur'an untuk mendukung program sekolah,
bagi saya, sangat tidak tepat.
Pertama ayat 9 surat an-Nisaa':
æóáúíóÎúÔó ÇáøóÐöíúäó áóæú ÊóÑóßõæúÇ ÐõÑöøíøóÉð ÖöÚóÇÝðÇ ÎóÇÝõæÇ Úóáóíúåöãú
ÝóáúÜíóÜÊøóÞõæÇ Çááåó æóáúÜíóÞõæúáõæÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar." (an-Nisaa': 9)
Kedua ayat 27 surat al-Anfaal:
íóÇ ÃíÜøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÂãóäõæÇ áÇó ÊóÎõæúäõæÇ Çááåó æóÇáÑøóÓõæúáó
æóÊóÎõæúäÜõæÇ ÃãóÇäóÇÊößõãú æóÃäúÜÊõãú ÊóÚúáóãõæúäó
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui." (al-Anfaal: 27)
Alasannya:
- Kedua ayat tersebut tak ada kaitannya dengan sekolah. Sederhana masalahnya:
ayat-ayat al-Qur'an turun di sebuah peradaban yang belum mengenal sekolah. Nabi
Muhammad saw itu tidak mengenal sekolah. Para ulama Islam abad pertengahan juga
tidak mengenal sekolah. Tapi jelas, tak bisa dipungkiri, mereka adalah para
pembelajar, pembelajar sepanjang hidup (lifetime). Mereka telah memproduksi
banyak sekali karya tulis berjilid-jilid yang telah memenuhi khazanah pustaka
keislaman, dan bahkan masih terus terpakai sampai sekarang. Yang harus
digarisbawahi, bahwa tradisi kepenulisan di dunia Arab-Islam tidak lahir dari
sekolah.
- Bahwa kita hendaknya takut meninggalkan anak turun kita dalam kondisi lemah
iman-ilmu itu memang harus. Di samping itu, saya kira, tidak ada orang tua (yg
normal) yang ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang tidak baik, tidak
bermanfaat. Oleh karenanya kita harus mendidik anak-anak kita dengan pendidikan
yang baik dan benar. Sedangkan pendidikan itu sendiri tdk hanya terjadi di
sekolah. Bahkan pendidikan yg terjadi di sekolah itu sebenarnya sangat-sangat
minim. Mayoritas terjadi secara otomatis di keluarga dan lingkungan. Itulah
makanya, dalam buku "Learning Revolution" oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos
disebutkan bahwa sekolah utama adalah keluarga.
- Bahwa anak adalah amanat Allah yang dipercayakan pada kita itu benar. Tapi
tidak benar bila tidak menyekolahkan anak berarti mengkhianati amanat. Kita
baru bisa dianggap menyalahi amanat bila kita tidak mendidik anak-anak kita
dengan baik. Orang tua adalah guru utama. Mereka akan selalu menjadi tauladan.
Karenanya, biasanya, perkembangan seorang anak tak lepas dari keadaan keluarga.
Bila keluarganya damai, bahagia, tentram, taat beragama, orang tua penuh
perhatian, anak akan tumbuh sehat secara mental-spiritual. Sebaliknya juga iya.
Hampir tidak ada anak di sekolah yang berprestasi yang berasal dari keluarga
broken home. Anak yang berprestasi biasanya dari keluarga yg ideal, dan
sebaliknya iya: anak yang dianggap nakal dari keluarga yg kacau.
Pendidikan vs Sekolah
Sekolah sangat berbeda dari pendidikan. Ini memang beda dari pandangan umum.
Kebanyakan orang saat ini menyamakan antara sekolah dan pendidikan. Demikian
juga belajar disamakan dengan sekolah. Maka muncullah istilah "wajib belajar 9
tahun". Dan parahnya, itu hanya dilaksanakan oleh sekolah. Sementara proses
belajar di luar sekolah nyaris tak memperoleh pengakuan. Pemerintah sangat
memandang sebelah mata terhadap pendidikan luar sekolah. Akibatnya, masyarakat
pun sangat bergantung pada sekolah. Sekolah telah menjadi semacam candu. Semua
orang bilang, "Anakmu tidak kamu sekolahkan.. . kelak mau jadi apa?!" Tidak
hanya orang tua, anak-anak pun maunya masuk sekolah, karena jika tidak mereka
tak akan punya teman. Karena semua anak saat jam sekolah berada di sekolah.
Sepi di rumah.
Itulah keadaannya: fenomena pendidikan = sekolah. Pendidikan diminimalisir dan
diredusir menjadi sebuah proses sementara: 5-6 jam sehari, sekitar 285 hari
setahun (setelah dikurangi liburan). Atau sekitar 1425 jam (setahun) x 9
(tahun) = 12825 jam. Itu jika diasumsikan 5 jam sehari. Jika sehari diasumsikan
6 jam maka jumlahnya: 1710 jam (setahun) x 9 (tahun) = 15390 jam dalam sembilan
tahun. Rata-rata sampai anak berusia 15-16 tahun. Jika dia dari keluarga mampu,
maka akan melanjutkan sampai SMU. Lebih mampu lagi, sampai Universitas.
Berkisar sampai umur 22 - 27 tahun. Usia setelah itu dianggap sebagai usia
bekerja.
Pandangan Islam berbeda sekali. Islam mengajarkan bahwa :
- Menuntut ilmu adalah proses sejak bayi sampai mati (tholabul 'ilmi minal
mahdi ilal lahdi). Ini artinya pendidikan adalah proses otomatis, alamiyah,
lifetime. Secara fitrah manusia selalu menginginkan kebaikan-kebaikan. Dari
baik menuju lebih baik...lebih baik lagi... dan seterusnya, tidak terbatas.
- Namun pada sisi yang lain Islam juga memaklumi bahwa manusia itu tidak lepas
dari kesalahan dan lupa (al-insaanu mahallul khata' wan nisyaan), juga
dosa-dosa yang disengaja karena adanya dorongan hawa nafsu. Oleh karena itu
kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dengan dalil lain lagi: tholabul 'ilmi
fariidhotun 'alaa kulli muslimin wa muslimatin (Menuntut ilmu wajib bagi setiap
muslim dan muslimah). Jika dengan dalil sebelumnya, Islam menunjukkan pada kita
bahwa tholabul ilmi bisa berlangsung secara otomatis dan natural (secara alam
bawah sadar), dengan dalil ini Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu harus
diupayakan secara sadar.
Jadi, belajar memang berlangsung dlm dua alam: sadar dan bawah sadar. Dan
kedua-duanya dalam pandangan kami bisa saja dilakukan di luar jalur sekolah.
Bahkan bisa lebih baik.
Memang, pendidikan bisa saja terjadi di sekolah. Tapi itu sangat..sangat minim.
Apalagi melihat kondisi persekolahan di Indonesia seperti sekarang ini. Di mana
orang-orang hanya menjadikannya wahana utk mengejar legalitas, formalitas, dan
pengakuan dengan rupa selembar ijazah/sertifikat. Sementara substansi
pendidikannya kabur. Bagi kami, satu hal yang harus didukung melalui institusi
sekolah adalah prose pembentukan karakter/mental pelajar sepanjang hidup.
Tujuannya agar siswa senantiasa sadar bahwa dia harus menjadi pelajar sepanjang
hidup. Dan ini yang belum terjadi di persekolahan Indonesia.
Unschooling baik, wajar, dan perlu
Asumsi orang selama ini, bahwa unschooling berarti bodoh, nakal atau tidak
punya biaya. Karenanya unschooling tidak menjadi pilihan. Mengapa orang-orang
yang tidak sekolah rata-rata bodoh atau nakal?
Yang paling bertanggungjawab sebenarnya adalah lingkungan/masyarak at. Dalam
lingkungan yang serba tergantung pada sekolah, wajar jika semuanya menyalahkan
orang tua yang anak-anaknya tidak mau sekolah dan menganggap bodoh dan nakal
pada anak-anak yang tidak sekolah. Semua orang sangat takut dan khawatir bila
anaknya malas atau tidak suka sekolah. Dan semua anak usia sekolah, termasuk
yang tidak suka sekolah, menjadi takut tidak punya teman jika tidak masuk
sekolah, sebab semua anak di waktu pagi berada di sekolah. Sepi di rumah.
Seperti itulah kondisi bangsa yang sakit, mempunyai ketergantungan yang sangat
tinggi pada sekolah. Padahal sudah diketahui birokrasi pendidikan dan banyak
institusi sekolah dijalankan secara korup.
Orang yang sudah sadar bahwa sekolah itu tidak semuanya baik, bahkan banyak
juga yang korup, tetap saja belum mampu memerdekakan diri dari
ketergantungannya pada sekolah, sebab mereka tidak menemukan tempat lain agar
memperoleh selembar kertas pengakuan (ijazah) kecuali di sekolah. Mereka sudah
siap menanggung resiko, bahwa sesekali anaknya akan menjadi nakal karena
bergaul dengan teman-temannya yang nakal di sekolah, menjadi pecundang, suka
menyontek (karena rata-rata siswa doyan menyontek, bahkan sesekali guru-gurunya
memberikan tip-tip ampuh agar aman dari pengawas). Mereka mengakui hal itu, dan
siap mananggung resiko. Yang penting anak-anak mereka mendapat ijazah, bisa
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau melamar pekerjaan dan menjadi
"babu". Amanlah kehidupan anak di masa depan! Rata-rata semua orang memilih
jalan yang "aman", karena rata-rata lapangan kerja menyaratkan selembar ijazah.
Ngapain sulit-sulit berjuang menantang hidup, bila ada
yang lebih aman?! Begitu pikir mereka.
Sementara itu masih banyak orang lugu dan awam yang berasumsi sekolah adalah
dewa penyelamat yang bisa menjamin orang menjadi baik, pintar, dan sejahtera.
Seakan-akan jika semua anak bangsa ini mencapai tingkat sarjana maka selesailah
problem bangsa. Karena semua pintar, cerdas, dan mudah mencari pekerjaan.
Mereka tak sadar betapa banyak anak petani yang meninggalkan dunia pertanian
gara-gara sekolah. Mereka menjadi gengsi bertani, meneruskan pekerjaan
bapak-bapak mereka, karena pikiran mereka bertani adalah pekerjaannya
orang-orang bodoh. Bertani berarti tidak punya duit. Orang tuanya pun demikian,
alih-alih berharap agar anaknya menjadi pintar dan kelak mengembangkan
pertaniannya di kampung, mereka justru berangan-angan anaknya mau sekolah
setingg-tingginya agar kelak menjadi orang kantoran. Begitulah jalan pikiran
mereka: ukuran kesuksesan menyekolahkan anak adalah bila si anak nantinya
menjadi orang kantoran, berduit, berada di kota, dan semacamnya. Orang tua
bangga karena anaknya telah sukses dan jauh dari kampung.
Inilah kenyataan yang harus ditentang. Dalam lingkungan sangat tergantung pada
sekolah, para orang tua memperkecil perannya sebagai pendidik anak-anak mereka.
Dan bahkan tidak sedikit orang tua yang pasrah sama para guru di sekolah,
sementara itu mereka tidak lagi sadar bahwa mereka tetap mejadi tauladan bagi
anak-anaknya. Disadari atau tidak, yang lebih berpengaruh pada perkembangan
anak adalah keadaan rumah. Namun, ketika para orang tua tidak lagi sadar bahwa
mereka lebih berpengaruh pada anak (daripada sekolah), lantas keseharian di
rumah mereka tidak bisa membangun suasana yang kondusif bagi perkembangan anak,
saat itulah perkembangan anak kian hari kian tidak jelas dan memprihatinkan.
Dengan demikian bisa disimpulkan, selama orang tua mampu membangun keadaan yang
menyenangkan dan mendukung bagi perkembangan mental-spiritual serta daya
kreatifitas anak maka itu sama halnya orang tua telah menyediakan sebuah wahana
untuk proses pendidikan yang sangat baik, bahkan mengalahkan sebuah lembaga
pendidikan yang paling bermutu di manapun.
Dan jika kita telah menyadari hal ini, maka unschooling merupakan sebuah
pilihan untuk sebuah proses pendidikan yang jauh lebih bermutu dari pada
sekolah. Unschooling adalah wajar, baik, dan perlu.
Munculnya semangat unschooling tidak semata dikarenakan bobroknya sistem
persekolahan di negeri ini. Sebab, semakin maju sebuah peradaban, semakin
pintar dan cerdas sebuah bangsa, akan semakin terpampang wawasan bahwa
"unschooling merupakan jalan hidup yang wajar dan baik". Orang akan semakin
tahu bahwa proses belajar yang sejati bisa efektif di manapun tempatnya,
kapanpun waktunya, dan dengan siapapun orangnya.
Sehingga pada saatnya nanti, siapapun termasuk pemerintah harus melihat hasil
belajar tidak melalui selembar kertas ijazah tapi pembuktian-pembukti an. Baik
yang pernah duduk di bangku sekolah atau yang tidak (unschooling) dilihat
secara adil. Untuk masuk ke dunia kerja manapun, persyaratan ijazah tidak
menjadi mutlak (harus), tapi selalu berorientasi pada kemampuan atau prestasi.
Satu Dunia: Belajar dan Bekerja Sepanjang Hidup
Dalam wawasan unschooling tidak ada dualisme belajar dan bekerja. Tapi belajar
dan bekerja adalah dua kegiatan yang berada dalam satu rentetan kehidupan,
keduanya saling mendukung dan saling berkelindan. Bahkan dalam batas tertentu
tak ada bedanya antara belajar dan bekerja. Saling mendukung artinya kita
bekerja karena untuk membiayai atau memperbaiki proses belajar, dan kita
belajar untuk meningkatkan kualitas pekerjaan. Saling berkelindan maksudnya
proses belajar dan bekerja harus selalu berproses dinamis, waktunya senantiasa
beriringan, dahulu-mendahului, dan sesekali tak menentu. Bekerja-belajar dan
belajar-bekerja demikian terus sepanjang hidup. Dalam pengertian inilah (saling
mendukung dan saling berkelindan) belajar dan bekerja menyatu dalam satu dunia.
Jadi, tidak seperti pengertian umum bahwa dunia belajar adalah selama duduk di
bangku sekolah atau kuliah dan selepas itu masuk ke dunia kerja.
Dalam wawasan unschooling dunia kerja tidak selalu berarti hal-hal yang
menghasilkan duit untuk menafkahi keluarga, kendati hal seperti itu juga
disebut bekerja. Bekerja, dalam pengertian yang paling mendasar, adalah setiap
aktifitas yang menggerakkan fisik dan otak sekaligus. Menurut pengertian ini,
belajar bisa dianggap sebagai bekerja. Dan dalam pengertian yang lebih komplek,
bekerja adalah rangkaian aktifitas (fisik dan otak sekaligus) untuk memperoleh
sebuah hasil berdasar teori-teori hasil belajar.
Hal yang terpenting adalah penyadaran bahwa proses bekerja demi membantu income
orang tua merupakan bagian strategis untuk memperbaiki dan meningkatkan
kualitas pembelajaran. Dan meningkatkan kualitas pembelajaran sama dengan
meningkatkan kualitas hidup.
Dengan demikian anak kecil (usia sekolah) bekerja, selama itu tidak karena
adanya tekanan, dilakukan secara sukarela, dan senang, maka hal itu dipandang
baik-baik saja. Bahkan itu bisa menjadi sumber pembelajaran yang tidak
ternilai. Bekerja sambil belajar, atau belajar sambil bekerja, atau bekerja
lalu belajar, belajar lalu bekerja... demikian terus sepanjang hidup. Dengan
beginilah hidup menjadi bermutu.
Salam
Arif Hidayat
(Pengelola Komunitas Belajar Kampung Pingin Maju)
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/