Salam,

Aku sudah nonton film itu,
PBNU tak usah khawatir juga  Prof.KH.Ali Musthafa Ya'kub (Dosen  saya Di IAIN 
Jakarta dulu) yang habis dialog di TV one dgn Hanung sang sutradara. Wong 
realitas itu memang ada...bahkan dialog2 nya...........penulis novelnya juga 
alumni pesantren...kok baru ramai setelah divisulakan...jadi amsih ngangap buku 
itu nggak ada pengaruhnya?
kita nggak nyalahin pesantren...
Yang harus dicermati pesan film itu juga bgmn visualisasinya ....agama itu kan 
tergantung siapa yang membunyikannya...
Kalau misalnya, saya mondok di pesantren seperti al-Huda itu...apa  kita harus 
cek kealimann  sang Kyainya? silahkan.........
Bikin surveilah ttg cara pandang semua jenis pesantren..............baru kritik 
terhadap filmya.
yang dekat...aja....survei di Banten misalnya...


Salam,

Ala'i
 










--- On Tue, 2/10/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] PBNU Prihatin Film PBS Diskreditkan Pesantren
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 10, 2009, 2:26 PM











    
            PBNU Prihatin Film PBS Diskreditkan Pesantren

Selasa, 10 Februari 2009 15:25

Jakarta, NU Online

Sekjen PBNU Endang Turmudi menyatakan keprihatinannya atas penayangan film

Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang dinilainya mendiskreditkan

pesantren.



“Pesantren dalam film tersebut digambarkan sangat tidak sesuai dengan

realitas, sebagai institusi pendidikan agama yang kolot, anti perubahan

dan tertutup,” katanya kepada NU Online di Gd PBNU, Selasa (10/2).



Ia mengaku menonton film ini di sebuah bioskop di Surabaya setelah

munculnya kontraversi di media.



Dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini, pesantren

digambarkan sangat tradisional. Buku-buku yang tidak sesuai dibakar.

Perilaku anak kiai yang biasa dipanggil Gus juga digambarkan dengan

tampilan kejam terhadap istrinya.



“Pesantren jarang ditampilkan dalam film, lho pas menjadi cerita dalam

film, malah digambarkan dengan sangat negatif,” terangnya.



Ia takut gambaran ini akan memberi citra buruk kepada kelompok masyarakat

yang selama ini tidak faham dengan dunia pesantren.



Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini memahami

seorang seniman berhak untuk berkreasi, namun disisi lain, juga harus

menghargai sebuah kultur dengan nilai-nilai yang dimilikinya.



“Kebebasan tidak berarti bisa mendiskreditkan fihak lain dengan

seenaknya,” tandasnya.



Sayangnya, sejauh ini belum banyak kalangan pesantren yang berbicara

mengenai film ini. Suara paling keras datang dari Imam Besar Masjid

Istiqlal, KH Ali Mustofa Ya’kub.



Setelah kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta, dunia perfilman nasional banyak

mengangkat tema tentang Islam dan pesantren. Selaim PBS, sudah beredar

3Doa3Cinta dan sedang dalam penggarapan adalah Ketika Cinta

Bertasbih.(mkf)




 

      

    

           
  
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke