Penulisnya kan orang Persis , yang nerbitin pertama kali Fatayat NU Jogja.Jadi wajar rada-rada "modernis".Isu feminisme Islam kan yang ngembangin Fatayat
--- In [email protected], ubaid ubaidillah <pe_...@...> wrote: > > salam semua... > Kalo benar niatnya untuk otokritik, saya pikir masih bnyk cara yg lebih elegan ntuk menyampaikannya dari sekedar lewat film ini. Toh saya pikir dunia pesantren, dengan tradisiny udah biasa dan sangat mengenal dengn yg namanya perbedaan. > Lah ini film tentang mainstream (sebagian)pesantren jaman klasik kok di-tag di era sekarang. Ini Hanung mau otokritik ke siapa? > Persis dengan kegundahan mas Syaikhul... penikmat film di Indo rata- rata cara pandangnya masih terpola bahwa apa yg disampaikan dari film itu based dari realitas. Jadi ada kemungkinan besar, opini yg terbangun dari film ini ya sesuai dengan film. > Untung2 kalo penikmat film di tanah air kita ini sudah cerdas seperti masyarakat eropa, yg bisa menggali dari berbagai sumber. Seperti propaganda para anti Islam terhadap Islam selama ini, yg malah bisa memberi pencerahan bagi mereka yg lain. > ya mudah2an saja masyarakat tidak teropini yg negatif, dan ada kesadaran tinggi bagi stakeholder pesantrean untuk makin baik. > Bagi saya pribadi, dunia pesantren sangat potensial untuk membangun masyarkat yg madani sekaligus robbani. Tinggal di format biar lebih "jreng" lagi, dan insyAllah kayaknya banyak yg sudah seperti itu.. > Yang tak kalah penting, ini tantangan buat mas Lesbumi untuk makin kreatip dan menggigit. "Ayo dong Mas, Bikin pilem yg berkualitas.." > > "yang ngaku2 santri" > Bas >
