Artikel yang wajib dibaca oleh seluruh fungsionaris partai2 berbasis massa NU: 
PKB, PPP dan PKNU. Selama ini NU hanya menjadi aksesoris politik, menjadi 
bulan2an elit2 politik, dan selalu dikibuli mereka yang rakus harta dan jabatan 
(politisi2 muda NU yang kerjaannya hanya ngibuli kiai2 sepuh di daerah2).

pemilu sekarang adalah pelajan sejarah keterpurukan NU di pentas politik 
nasional. Saya jadi teringat judul buku: "NU BODOH atau DIBODOHI". Wallahu 
a'lam bi sawab.

--- On Mon, 4/13/09, Mukhlisin <[email protected]> wrote:

From: Mukhlisin <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Senjakala Politik Nahdliyyin
To: [email protected]
Date: Monday, April 13, 2009, 8:34 PM











    
            
            


      
      http://www.suaramer deka.com/

WACANA



14 April 2009

Senjakala Politik Nahdliyyin



* *Oleh T Yulianto*



HASIL quick count berbagai lembaga survei dan perhitungan sementara 

Komisi Pemilihan Umum (KPU), menggambarkan realitas politik kemunduran 

politik partai-partai berbasis agama dan berbasis organisasi masyarakat 

(ormas) agama. Di antara partai-partai berbasis agama dan ormas agama, 

hanya PKS yang menunjukkan peningkatan jumlah suara pemilih meski tidak 

fenomenal.



Yang paling menyedihkan adalah nasib partai-partai yang kader dan 

simpatisannya mayoritas berasal dari Nahdhlatul Ulama (NU). Mereka 

"diganjar" penurunan suara pemilih secara signifikan. PKB yang dipimpin 

Muhaimin Iskandar yang mulai memarginalisasikan pengaruh Gus Dur, 

perolehan suaranya merosot tajam dibanding capaian Pemilu 2004 yang 

electoral vote-nya mencapai angka 11 persen.



PKB tinggal mendapatkan dukungan pemilih kurang dari enam persen. 

Demikian PPP, yang dipimpin Kader NU, Suryadharma Ali suaranya tinggal 

tersisa lima persen. Adapun partai sempalan semacam PPNUI, dan PKNU 

bahkan capaian suaranya diprediksi tidak mampu mencapai ambang 

parliemantary treshold (PT) sebesar 2,5 persen.



Kebangkrutan eksistensi partai berbasis Islam yang kader dan 

simpatisannya mayoritas adalah jamaah NU sendiri telah diperkirakan 

sebelumnya oleh berbagai analis politik nasional. PKB misalnya, partai 

ini yang secara simbolis didirikan oleh elite struktural PBNU pada 998 

mengalami kemerosotan politik karena faktor konflik internal 

berkepanjangan yang akhirnya juga memakan korban sang ikon, yakni Gus 

Dur yang tergusur dari kekuasaan politik primordialnya.



PKB yang kini diawaki oleh pengurus muda dari kalangan kaum Muda NU 

--terutama eksponen PMII-- tidak mampu mempertahankan loyalitas pemilih 

nahdliyyin. PKB justru ditinggalkan konstituennya yang mayoritas masih 

mengidolakan Gus Dur sebagai panutan sosial warga NU. PKB dari partai 

papan atas pada 1999 dan 2004 menjadi partai papan menengah yang kini 

dipandang sebelah mata oleh partai-partai lain.



Kemunduran PPP, partai berbasis Islam yang pengurusnya kini banyak 

diawaki oleh kader NU juga semakin ditinggalkan basis pendukung, karena 

citra dan ideologi serta program yang ditawarkan tidak mampu menjawab 

kegelisahan konstituen.  PPP masih saja mengusung ide klasik tentang 

syariat Islam yang justru kini menjadi "komoditas usang" politik yang 

tidak diterima oleh pemilih muslim yang rasional dan kritis.



Tiga Argumen



Mengapa partainya wong NU mengalami kebangkrutan politik? Ada tiga 

argumen yang bisa dijadikan jawaban. Pertama, partai berbasis massa 

mayoritas jamaah nahdliyyin adalah partai primodial yang selalu 

bergantung kepada patronase politik lokal. Masih saja mengusung figur 

ulama lokal dengan berharap mendapat dukungan penuh dari para santri dan 

masyarakat di seputar pesantren.



Realitas demikian yang menyulitkan partai berbasis dukungan jammaah 

nadhliyin untuk tumbuh berkembang menjadi partai besar, karena arus 

rasionalisasi politik pemilih, justru semakin mengendurkan ikatan 

patronase politik di kalangan pemilih nahdliyyin. Mayoritas pemilih 

nahdliyyin secara politik kini menjadi massa terapung yang diperebutkan 

oleh partai-partai berasas nasionalis semacam Demokrat, Golkar, dan PDI-P.



Kedua, partai berbasis dukungan jamaah nahdliyyin gagal memodernisasi 

fungsi mesin politik sesuai dinamika politik kontemporer. Selama ini 

PKB, PPP, PKNU, PPNUI bukanlah partai politik yang kreatif dalam 

menawarkan program, isu, dan harapan pembaruan kepada masyarakat (voters 

community).



Cenderung pasif dan pasrah kepada takdir politik yang konon mempercayai 

ikatan permanen dengan konstituen yang merupakan jammah Nahdliyyin. Jika 

partai lain semacam Demokrat, PDI-P, Golkar, PKS bahkan Gerindra-Hanura 

aktif dalam kampanye dengan berbagai "kreasi isu/program" , PPP dan PKB 

justru tidak memiliki orientasi isu/program unggulan.



Ketiga, partai berbasis dukungan jamaah nahdliyyin tidak memiliki ikon 

kepemimpinan kultural-politik yang memadai dan representatif yang 

menarik di kalangan masyarakat pemilih dil uar NU. Bahkan di kalangan 

jamaah NU figur (ikon) kepemimpinan partai semacam PKB, PPP, PKNU tidak 

sebanding dengan kapasitas ikon partai lain. Pada awal 1999, Gus Dur 

boleh jadi merupakan ikon kepemimpinan kultural yang kharismatik namun 

saat ini kharisma Gus Dur telah surut dan tidak tergantikan oleh ulama 

NU lain.



Padahal ikon kepemimpinan partai adalah kekuatan efektif penarik simpati 

masyarakat pemilih. Kemenangan Partai Demokrat misalnya oleh berbagai 

analis politik bukan disebabkan pemilih memilih partai democrat an sich, 

namun sesungguhnya menganggap Partai Demokrat sebagai jembatan emas bagi 

pilihan SBY menjadi calon presiden.



Kemunduran eksistensi partai berbasis dukungan Jammaah Nahdliyyin 

memiliki implikasi politis dan cultural bagi Jammaah NU dalam dinamika 

politik nasional ditahun-tahun mendatang. Boleh jadi aspirasi dan 

kepentingan jammaah Nahdliyyin akan terabaikan oleh proses legislasi 

diparlemen dan tidak menjadi focus perhatian kebijakan pemerintah.



Basis jamaah NU yang mayoritas berada di pedesaan dan berprofesi menjadi 

petani, lambat laun terkonversi menjadi basis pendukung partai non-NU 

yang lebih memiliki perhatian dan komitmen akan peningkatan nasib 

petani. Boleh jadi basis jamaah NU lambat laun akan menjadi pemilih yang 

loyal terhadap partai lain. Melihat dari fakta politik demikian saat ini 

diperlukan rekonsiliasi kultural dan politis dikalangan aktor politik 

partai-partai berbasis dukungan jamaah NU.



Jika boleh disarankan, sudah waktunya elite PKB kubu Muhaimin mencoba 

mencari jalan untuk rekonsiliasi dengan kelompok PKB Gus Dur, yang 

kekuatan politiknya terbukti signifikan. Demikian para ulama pendukung 

PKNU lebih bijak apabila melakukan instrospeksi kultural dengan poros 

ulama politik NU yang berada dipartai lain semacam PPP, PKB untuk 

mencari jalan bagi unifikasi politik NU.



NU memang tidak berpolitik. Namun elite jammiyah NU serta elite jamaah 

NU berpolitik yang ironisnya selama ini tidak membawa kepentingan 

kolektif warha nahdliyyin. Untuk itulah perlu dicari terobosan politik 

progresif menyatukan potensi kekuatan politik kader NU dalam sebuah 

formula pembangunan kembali partai berbasis dukungan jamaah nahdliyyin 

yang solid dan tidak berbudaya konflik. (35)

       

----  T Yulianto, Koordinator Pendidikan PRP (Perhimpunan Rakyat 

Pekerja) Solo



Basis jamaah NU yang mayoritas berada di pedesaan dan berprofesi menjadi 

petani, lambat laun terkonversi menjadi basis pendukung partai non-NU 

yang lebih memiliki perhatian dan komitmen akan peningkatan nasib petani.



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke