http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/21/0241152/shalawat.barzanji.teater.berbalut.musik.religi
Pentas Seni
Shalawat Barzanji, Teater Berbalut Musik Religi
KOMPAS/WINARTO HERU SANSONO 
<http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/21/0241152/shalawat.barzanji.teater.berbalut.musik.religi#>
Memasuki Kota Tegal dari arah Semarang segera bisa melihat kekayaan 
Tegal sebagai kota pantai yang mempunyai sejumlah bangunan kuno yang 
layak dilestarikan. Nampak bangunan kuno yang berfungsi pula markas 
Dandional Tegal.
/ 
<http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/21/0241152/shalawat.barzanji.teater.berbalut.musik.religi>
Selasa, 21 April 2009 | 02:41 WIB

Kemegahan terpancar dari sebuah pertunjukan yang diselenggarakan 
Pemerintah Kota Tegal di Alun-alun Kota Tegal, Sabtu (18/4) malam. 
Alunan musik yang diiringi gerak tari dari ratusan penari membuat 
panggung pertunjukan tersebut begitu hidup. Ribuan penonton antusias 
menyaksikan pertunjukan tersebut.

Malam itu, Pemerintah Kota Tegal menyelenggarakan pentas kolosal 
berjudul Shalawat Barzanji. Pentas tersebut dilaksanakan secara terbuka 
dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Ke-429 Kota Tegal yang jatuh pada 
tanggal 12 April lalu.

Shalawat Barzanji menghadirkan musik-musik bernuansa Islam, seperti 
rebana dan srakalan. Musik yang selama ini nyaris hanya ada dalam acara 
peringatan keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, ditampilkan 
dalam sebuah pementasan modern.

Para pemain musik tidak sekadar hadir untuk mendendangkan irama yang 
mereka mainkan, tetapi juga mampu mengimbangi pembacaan puisi yang 
dilakukan oleh sejumlah seniman Tegal. Skenografi dengan tampilan 
kapal-kapal di atas rumput yang diletakkan di depan panggung menambah 
artistik pertunjukan malam itu.

Pentas tersebut didukung sekitar 150 pemain dari berbagai unsur pekerja 
seni, dengan bintang tamu Ken Zuraida Rendra. Ken tampil membacakan 
syair di penghujung acara. Sebagian besar penari merupakan pelajar dari 
sejumlah SLTA di Tegal.

*Nilai keislaman*

Shalawat Barzanji merupakan naskah terjemahan budayawan Syubah Asa. 
Menurut sutradara pementasan, Yono Daryono, pertunjukan tersebut 
merupakan usaha untuk mereaktualisasi nilai-nilai keislaman serta 
tradisi maulidan yang kerap dilakukan di masjid, mushala, langgar, dan 
surau.

Syair al Maulid an Nabawi yang dipentaskan, dikarang oleh Syed Jaafar al 
Barzanji ibn Syed Hasan al Madani ibn Syed Rasul (1609- 1766 M), khatib 
dan imam Masjid Nabawi di Madinah. Karya ini lebih dikenal sebagai al 
Barzanji.

Kitab al Barzanji diambil dari nama pengarangnya, dari tempat asal 
keturunan sang penulis, daerah Barzinj (Kurdistan). "Kitab ini merupakan 
karya sastra tingkat tinggi, sering juga disebut 'Iqd Aljawahir' (Kalung 
Permata), di dalamnya banyak memuat pujian dan sanjungan akan suri 
teladan Nabi Muhammad SAW," ujarnya.

Yono berharap, pertunjukan Shalawat Barzanji tersebut mampu menjadi oase 
di tengah kehidupan yang gersang, saat masyarakat sudah mulai kehilangan 
kepercayaan diri.

Diharapkan Muhammad bisa menjadi rujukan hidup karena dia bukan hanya 
seorang nabi, tetapi juga kepala negara. Pada pundak kanannya memikul 
kenabian, sedangkan pada pundak kirinya memikul pemerintahan, dalam 
sebuah kehidupan lahir dan batin yang seimbang. (Siwi Nurbiajanti)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke